Connect with us
Update Now

Banjarbaru

Harga Naik, Tapi Produksi Batu Bara Turun Jadi 4,3 Juta Ton Tapi Pendapatan Kalsel Terdampak

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 414,855 kali

Ilustrasi, Tambang batubara di Tapin (dok, youtube)

BệBASbaru.com, BANJARBARU – Pandemi Covid-19 membuat permintaan pasar akan batubara juga menurun. Akibatnya produksi batubara Kalsel sejak pertengahan tahun mengalami penurunan.

“Produksi batubara mulai turun pada Mei 2020. Saat itu, emas hitam yang dihasilkan Banua hanya 4,7 juta ton. Padahal pada bulan sebelumnya (April) produksi batubara mencapai 5,5 juta ton,” kata Kasi Penataan dan Pengembangan Wilayah pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, M Iswahyudi, belum lama tadi.

Celakanya, pada bulan selanjutnya yakni pada Juni, produksi batubara kembali merosot. Hanya berada di angka 4,1 juta ton. “Pada bulan Juni ini ini produksi batubara Kalsel menjadi yang terendah pada tahun ini,” papar Iswahyudi.

Sedangkan pada bulan Juli, dia menyebut produksi batubara mulai naik. Menjadi 4,3 juta ton. Agustus juga trennya masih naik, yakni 5 juta ton. “Tapi, September turun lagi jadi 4,7 juta ton,” urainya.

Turunnya produksi batubara tahun ini seiring dengan melesunya penjualannya. Hingga triwulan III 2020, pemasaran batubara Kalsel hanya sekitar 44,7 juta ton. Sementara pada 2019 di periode yang sama, batubara yang terjual mencapai 50,7 juta ton.

“Jadi perbandingan triwulan satu sampai triwulan tiga 2020 dengan 2019, penjualan batubara kita turun 6 juta ton,” beber Iswahyudi.

Dia mengungkapkan, penjualan dan produksi batubara Kalsel mengalami penurunan disebabkan oleh banyaknya perusahaan pengguna batubara yang tidak beroperasi selama pandemi Covid-19. Sehingga, permintaan pun berkurang.

“Apalagi pada masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar), banyak perusahaan yang memilih tutup. Jadi penjualan batubara anjlok,” ungkapnya. Ditambahkannya, perusahaan yang biasa membeli batubara Kalsel sebagian besar dari Jawa. Seperti, pabrik kosmetik, semen, tekstil dan lain-lain.

“Perusahaan ini yang banyak tutup saat pandemi. Untungnya, permintaan dari pembangkit listrik tidak berkurang,” runutnya. Iswahyudi menyampaikan, penjualan batubara dari Banua benar-benar anjlok pada Juni 2020. Saat itu hanya sekitar 4,1 juta ton yang terjual.

“Karena saat itu corona sedang tinggi-tingginya. Selain perusahaan di Indonesia, perusahaan luar negeri juga banyak yang tidak membeli batubara,” ucapnya. Dia menuturkan, penjualan batubara Kalsel ke luar negeri pasar utamanya adalah Cina. Pada triwulan II negara ini sempat menutup permintaan batubara.

“Triwulan III mereka mulai membuka lagi, sehingga ada sedikit kenaikan penjualan batubara,” tuturnya. Selain batubara, penjualan kelapa sawit dari Kalsel juga sempat anjlok pada pertengahan tahun ini. Namun, dalam beberapa bulan terakhir kondisi tersebut dapat membaik.

Kabid Perdagangan Luar Negeri pada Disdag Kalsel, Riya menyampaikan, ekspor kelapa sawit dari Kalsel di bulan itu hanya 42.650.372 kilogram atau senilai USD23,8 juta. “Padahal bulan Mei, ekspor kelapa sawit mencapai 85.728.948 kilogram. Dengan nilai USD 42,3 juta,” ucapnya.

Beruntung pada Juli ekspor kemudian meningkat, Riya menyatakan, di bulan itu ada 81.003.258 kilogram kelapa sawit yang dijual ke luar negeri. “Sedangkan nilainya mencapai USD34,8 juta,” pungkasnya.

Berimbas ke Pendapatan Bagi Hasil

Tahun sebelumnya, Pemprov Kalsel mendapatkan dan bagi hasil bukan pajak dari sektor Mineral dan Batubara (minerba) sebesar Rp1.034 triliun. Tapi, di tahun ini ketika Pandemi Covid-19 di 2020 sektor perekonomian tergoncang.

Termasuk di sektor mineral dan batubara (minerba) sangat terimbas covid-19. Karena kondisi saat ini produksi minerba jauh dari kondisi biasa. Hal tersebut secara tidak langsung berimbas pada dana bagi hasil pusat ke daerah. Pada tahun ini untuk penghitungan

Dari estimasi Badan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, memperkirakan pada tahun depan pengurangan dana bagi hasil di sektor minerba pajak kurang lebih Rp 300 miliar.  Kabid Pengelolaan Pajak Daerah Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kalsel, H. Rustamaji, menjelaskan bahwa besaran Rp 300 miliar itu pun masih dalam bentuk perkiranaan.

Pada tahun ini secara keseluruhan realisasi dana bagi hasil pusat Rp3,300 triliun. “Pengurangan dana bagi hasil tersebut dipengaruhi penurunan produksi minerba pada tahun ini. Selain sektor lain seperti matinya beberapa sektor usaha dan amnesti pajak,” runutnya.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Produksi Batu Bara Turun Jadi 4,3 Juta Ton, Pendapatan Kalsel Terdampak)

Berita ini sudah dilihat 64 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA