Connect with us
Update Now

Uncategorized

Harga Mobil Mulai ‘Ngamuk’ Digebuk Dolar

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 254,699 kali

Gaya Hidup – Siapa bilang harga-harga tak naik…??? Performa rupiah kian melemah terhadap dolar AS. Per hari ini, nilai tukar rupiah sudah menembus ke level Rp14.827 per USD. Angka tersebut nyaris menembus angka psikologi ekonomi banyak orang, Rp15 ribu. Tak pelak banyak pihak kemudian ketar-ketir. Dikhawatirkan mengganggu banyak sektor perekonomian. Salah satu kalangan yang sudah ambil sikap adalah sektor otomotif, di mana sejumlah agen pemegang merek sudah mulai menaikkan harga mobilnya. PT. Suzuki Indomobil Sales merupakan salah satu APM yang mulai lakukan penyesuaian harga. Mobil-mobil yang dikerek harganya adalah model-model Completely Built Up (CBU) yang diimpor dari luar, atau tepatnya India, yakni Ignis, Baleno, dan S-Cross. “Mulai 1 September kami mulai naikkan sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta untuk Baleno, S-Cross, dan Ignis,” kata Section Head 4W Product Development PT SIS, Harold Donnel kepada VIVA. Dia mengatakan, kenaikan mesti ditempuh karena kondisi sudah mengharuskan demikian. Ada tiga faktor eksternal dalam catatan Harold, yang memengaruhi harga. Ketiganya adalah biaya produksi, regulasi dan tingkat kompetisi. Dipastikan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memengaruhi ongkos produksi, yang tentunya berdampak pada tingginya harga komponen dan industri pendukung lainnya.

Tak Ada Pilihan
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) juga merupakan APM yang sudah menaikkan harga sejumlah produknya, seperti Xpander dan Pajero Sport, dan Triton. Director of Marketing & Sales MMKSI Irwan Kuncoro mengatakan, untuk Xpander, small MPV itu sudah mengalami kenaikan sebesar Rp2 juta. Senada dengan Suzuki, Mitsubishi juga anggap tak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi rupiah yang terus melemah. “Sebetulnya beberapa bulan lalu saya sampaikan bagaimana memang di awal tahun kita optimistis melihat secara keseluruhan makro ekonomi, kemudian tingkat konsumer indeks juga cukup baik, optimistis. Tapi memang pada saat itu juga tentu saja kita harus antisipasi adalah exchange rate rupiah terdepresiasi,” kata Iwan di Serang, Banten. Apa yang dilakukan sejumlah APM dianggap wajar Ketua Umum Asosiasi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi. Kata dia, benar, tak ada pilihan lain yang bisa ditempuh. Andaipun tak dilakukan, dipastikan bakal menyulitkan APM. “Ini sangat berpengaruh terhadap harga mobil, karena sebagian besar komponen dan bahan baku mobil yang ada di sini masih dalam bentuk dolar. Ini kalau dolar masih bertahan tinggi dalam jangka lama, mungkin APM perlu melakukan penyesuaian (harga) lagi,” kata dia, ditemui di Jakarta. Soal besaran, semua tentu dikembalikan ke masing-masing APM. Sebab ada produk yang kandungan lokalnya sudah tinggi, ada yang stok impornya tinggi dan ada yang sedikit. “Kalau tidak dinaikkan mereka akan susah bertahan. Jadi pasti nanti ada adjustment. Adjustment-nya berapa besar dan berapa cepat, ini tergantung dari merek-merek tersebut,” tutur dia.
Sumber: Vivanews.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 72 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 196
  • Page views today : 239
  • Total visitors : 547,671
  • Total page view: 1,133,106