Connect with us
Update Now

Banjarbaru

Harga Karet Kalsel Tertinggi Terjadi Pada Oktober, Kini Sudah Stabil

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 254,065 kali

Harga karet Kalsel membaik, puncaknya bulan lalu (dok, antaranews.com)

BêBASbaru.com, BANJARBARU – Harga karet pada Oktober lalu ditengara puncak kenaikan harga karet yang mencapai Rp 19.500 per kilogram. Kenaikan itu dimonitor selama New Normal Pandemi Covid-19. Dan itu menjadi secercah harapan untuk kembali bergerak dan bangkit, termasuk bagi petani yang juga terdampak.

Sama halnya dengan sektor lain pada umumnya, petani juga mengalami fluktuasi turun naik harga yang terkait dengan pandemi dan perang dagang di ranah global. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunak) Provinsi Kalsel, Hj Suparmi, menjelaskan saat ini harga karet sudah normal sejak Agustus dan September.

Sebab, Suparmi berujar, awal maret untuk petani karet sempat anjlok, untuk harga karet Rp 5000 per kilogram bokar, hal ini disebabkan Cina menghentikan impor karet sehingga harganya pun berada di level sangat rendah.

Diuraikan Suparmi, saat ini para petani sedang di puncak kenaikan harga karet pada Oktober yakni tembus diatas Rp 19.500 per kilogram untuk kadar karet kering atau  K3 100 persen. Sedangkan K3 yang dihasilkan UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) rata-rata maksimal sampai 70 persen dengan harga tertinggi menyentuh harga Rp 13.000.

Salah satu penyebab kenaikan karena Cina sebagai negara tujuan ekspor terbesar mulai berhasil mengendalikan Covid-19 dan memulihkan perekonomiannya. Saat anjloknya harga karet, pabrik karet masih buka meski dengan sistem buka-tutup atau sehari melakukan pembelian karet ke petani, sehari tidak. Upaya ini dilakulan supaya petani karet jangan sampai tidak laku karetnya.

“Meski harganya turun, karet masih bisa dijual untuk keberlangsungan kehidupan petani dan Alhamdulillah himbauan untuk tidak menutup pabrik, dipatuhi oleh perusahaan dibawah GAPKINDO Kalselteng,” jelasnya.

Suparmi membenerkan, meski pandemi Covid-19 belum berakhir,  tetapi ekonomi harus tetap berjalan. Artinya, Kalsel harus mengendalikan pandemi sekaligus membangkitkan ekonomi. “Sub sektor perkebunan termasuk yang stabil khususnya pertanian secara umum, termasuk perkebunan dan peternakan, meskipun ada turun naik tetapi jalan terus,” runutnya

Perlu diketahui karet merupakan komoditas perkebunan unggulan Kalsel selain kelapa sawit. Jumlah luas areal karet di Kalsel saat ini mencapai 270.825  hektar dengan produksi karet 194.930 kilogram/tahun dan produktivitas sebesar 1.031 kilogram/tahun.

Kini, Disbunak Kalsel mendorong peningkatan produksi dan produktivitas melalui kegiatan peremajaan karet dengan dana dari APBN, APBD provinsi dan kabupaten sentra karet. Tahun 2021, kegiatan kami  selain peremajaan, juga mendorong pengolahan dan pemasaran melalui pembentukan UPPB. Pembentukan UPPB ditargetkan mencapai  650  unit se-Kalsel pada 2024. Kemuduan pada 2021, ditargetkan terbentuk 100 UPPB. Saat ini, sudah terbentuk 151 UPPB di Kalsel.

Sumber: banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Kadisbunak Kalsel : Puncak Kenaikan Harga Karet Terjadi Pada Oktober)

Berita ini sudah dilihat 137 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 114
  • Page views today : 149
  • Total visitors : 547,589
  • Total page view: 1,133,016