Connect with us
Update Now

Headline

Hanya Diberi Jabatan Wakil Menteri, Sekum Muhammadiyah Tolak Jabatan Ngakunya Tak Ada Kemampuan

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 465,916 kali

Abdul Mu'ti tolak jabatan Wamen, dengan alasan tak punya kemampuan mumpuni (dok, kompas TV)

BệBASbaru.com, NASIONAL – Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu Jakarta Selatan, Din Syamsuddin, menilai sikap Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, yang menolak jabatan Wamendikbud, sudah tepat. Din mengatakan anggota Muhammadiyah memang tidak gila jabatan.

“Penolakan Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, untuk menjadi Wamendikbud adalah sikap yang tepat. Hal itu mencerminkan sikap seorang anggota Muhammadiyah sejati yang antara lain tidak gila jabatan, menolak jabatan yang tidak sesuai dengan kapasitas, dan jabatan yang merendahkan marwah organisasi,” kata Din dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Kamis (24/12/2020).

“Alasannya bahwa tidak berkemampuan mengemban amanat hanyalah sikap tawadu. Prof Abdul Mu’ti adalah guru besar dan pakar pendidikan yang mumpuni, wawasannya tentang pendidikan dan kemampuan memimpinnya sangat tinggi,” sambung Din.

Din juga menilai tawaran jabatan Wamendikbud kepada Abdul Mu’ti seolah merendahkan Muhammadiyah. Din berbicara soal penempatan orang yang tepat di sebuah jabatan.

“Penunjukan Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd, sebagai Wamendikbud bernada merendahkan organisasi Muhammadiyah yang besar, pelopor pendidikan, dan gerakan pendidikan nasional yang nyata. Seyogianya Presiden memiliki pengetahuan kesejarahan dan kebangsaan sehingga dapat menampilkan kebijaksanaan untuk menempatkan seseorang dan sebuah organisasi pada tempatnya yang tepat,” ujar dia.

Mantan Ketum PP Muhammadiyah itu lantas bicara Muhammadiyah sebagai organisasi otonom. Menurut Din, Muhammadiyah siap mendukung pemerintah jika mengeluarkan kebijakan yang baik dan begitu pula sebaliknya.

“Bagi Muhammadiyah, memangku jabatan di pemerintahan bukanlah masalah besar (not a big deal), karena Muhammadiyah cukup mandiri dan otonom untuk menjadi mitra strategis dan kritis pemerintah, dalam suatu sikap proporsional: siap mendukung pemerintah jika baik dan benar, dan tak segan-segan mengkritik serta mengoreksi jika salah, menyimpang, atau menyeleweng,” imbuh Din.

Mu’ti sebelumnya mengaku sempat bersedia mengisi pos Wamendikbud. Namun Mu’ti berubah pikiran dan memutuskan tak bergabung di kabinet. “Tetapi, setelah mengukur kemampuan diri, saya berubah pikiran. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik,” kata Mu’ti.

“Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju dalam jabatan wakil menteri,” sambung dia. Mu’ti menyebut amanah tersebut sangat berat. Mu’ti menilai dirinya bukan sosok yang tepat mengisi jabatan Wamendikbud.

“Saya merasa tidak akan mampu mengemban amanah yang sangat berat itu. Saya bukanlah figur yang tepat untuk amanah tersebut,” tutur dia. Jokowi akhirnya melantik lima wakil menteri pada Rabu (23/12) kemarin. Berikut daftarnya:

  1. Letjen TNI Muhammad Herindra sebagai Wakil Menteri Pertahanan
  2. Edward Omar Syarif Hiariej sebagai Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi

Manusia;

  1. Dante Saksono Harbuwono sebagai Wakil Menteri Kesehatan;
  2. Harvick Hasnul Qolbi sebagai Wakil Menteri Pertanian;
  3. Pahala Nugraha Mansyuri sebagai Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara.

Sumber: detik.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 358 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga