Connect with us
Update Now

Uncategorized

Golkar Makin Di Obok-obok, Kasus Idrus Marham Menggelinding, Selain Untuk Munas, Juga Ke Setya Novanto

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 251,602 kali

Investigasi – Sebagai parpol yang mempunyai basis massa militan, di tambah lagi memiliki infrastruktur partai yang sangat mumpuni, kini Partai Golkar yang dulu dibesarkan HM Soeharto bersama Orde Baru, kini makin di obok-obok, terkait masalah korupsi yang menimpa kader-kadernya. Tentu saja sebagai Ketum Airlangga Hartarto yang menjabat hingga 2019 kelak, makin pusing menghadapi tudingan-tudingan tersebut, terlebih Pemilu serentak makin di depan mata. Walaupun dari berbagai survey, Partai Golkar tetap masuk 3 besar setelah PDIP dan Partai Gerindra, namun angkatnya makin menipis dengan 2 parpol di bawahnya, yakni PKB dan Partai Demokrat. Tak tertutup kemungkinan, Partai Golkar akan bernasib seperti Partai Demokrat di Pemilu Tahun 2014 silam, yang awalnya pemenang pemilu 2009, jeblok jadi parpol menengah 5 tahun berikutnya. Belum lagi banyaknya kader-kadernya di dalam yang makin menggorogoti parpol ini, ditambah keluarnya kader-kader senior seperti, Anggota Dewan Pakar, H Mahyudin, Wakil Ketua Dewan Pembina, Fadel Muhammad dan Wakil Ketua Umum Siti Hediati Soeharto yang pindah ke Partai Berkarya. Ketiga nama ini sebetulnya lumbung suara bagi Partai Golkar, sebab saat mencaleg, ketiga nya sukses duduk sebagai wakil rakyat di Senayan 2014-2019. Sebagaimana diketahui, setelah resmi menahan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Idrus Marham. Mantan Menteri Sosial (Mensos) yang sudah dijadikan tersangka kasus dugaan suap PLTU Riau-1 ditahan usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka. “Ditahan 20 hari pertama di Rutan cabang KPK di Kavling K-4,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi. Kini pemeriksaan makin menggelinding, kabar terbaru, mantan Ketum Golkar Setya Novanto juga di duga ikut kecipratan dana haram tersebut. Bahkan disinyalir, Setnov lah yang paling berperan dalam penggolan proyek ini di DPR RI. Idrus yang sudah mengenakan rompi menyatakan diri akan kooperatif menjalani proses hukum suap PLTU Riau-1. “Seperti yang sudah saya jelaskan tadi dan sebelumnya, saya menghormati proses hukum yang dilakukan KPK dan saya dari awal menyatakan siap mengikuti seluruh proses-proses dan tahapan-tahapan yang ada,” ujar Idrus. Dia mengatakan, dirinya sudah mempersiapkan diri jika ditahan usai pemeriksaan. Idrus menyadari jika sudah menjadi tersangka, maka lambat laun dirinya pasti akan ditahan. “Dan saya sudah katakan semua, saya ikuti tahapan-tahapan ini, dan semua saya hormati semua langkah-langkah yang diambil,” kata Idrus.
Sebelumnya, Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih yang sudah jadi tersangka kasus ini, mengungkap adanya suap dalam proyek senilai US$ 900 juta itu. Bahkan, Eni sudah mengembalikan uang suap yang dia terima dari proyek PLTU Riau-1 kepada penyidik KPK. Eni diketahui menerima suap dari tersangka Johanes Budisutrisno Kotjo selaku pemilik Blackgold Natural Insurances Limited. “Tadi saya juga dapat informasi tersangka EMS (Eni Maulani Satagih) juga sudah mengembalikan uang senilai Rp 500 juta pada penyidik,” ujar Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 30 Agustus 2018. KPK menetapkan tiga tersangka, yakni Eni Maulani Saragih, pemilik Blackgold Natural Insurance Limited Johanes Budisutrino Kotjo, dan mantan Sekjen Golkar Idrus Marham. Idrus diduga secara bersama-sama dengan Eni menerima hadiah atau janji dari Johanes terkait kasus ini. Idrus disebut berperan sebagai pihak yang membantu meloloskan Blackgold untuk menggarap proyek PLTU Riau-1. Mantan Sekjen Golkar itu dijanjikan uang USD 1,5 juga oleh Johanes jika Johanes berhasil menggarap proyek senilai USD 900 juta itu. Proyek PLTU Riau-I sendiri masuk dalam proyek 35 ribu Megawatt yang rencananya bakal digarap Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd. KPK sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus dugaan suap ini, mereka di antaranya Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, serta Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa-Bali Investasi Gunawan Y Hariyanto. Kemudian Direktur Utama PT Pembangunan Jawa Bali (PJB) Iwan Agung Firstantara dan Direktur Utama PT Samantaka Batubara Rudi Herlambang. Pemeriksaan terhadap mereka untuk mendalami kongkalikong PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) dengan petinggi PT PLN terkait penunjukan langsung perusahaan Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd menjadi satu konsorsium yang menggarap proyek tersebut. Apalagi, dari balik jeruji besi, Eni Saragih sempat mengungkap peran Sofyan Basir dan Kotjo sampai PT PJB menguasai 51 persen asset. Nilai asset itu memungkinkan PT PJB menunjuk langsung Blackgold sebagai mitranya. Pada Januari 2018, PJB, PLN Batu Bara, BlackGold, Samantaka, dan Huadian menandatangani Letter of Intent (LoI) atau surat perjanjian bisnis yang secara hukum tak mengikat para pihak. LoI diteken untuk mendapatkan Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPA) atas PLTU Riau-1. Samantaka rencananya akan menjadi pemasok batu bara untuk PLTU Riau-1.

Pentolan Golkar banyak bergabung ke Partai Berkarya dan diprediksi ikut gerus suara Golkar di pemilu (google.com)


Untuk Munaslub Golkar?
Eni Maulani Saragih yang sudah jadi tersangka kasus ini menyatakan, dia hanyalah petugas partai. Dugaan adanya uang suap dari proyek PLTU Riau-1 yang digunakan untuk Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar pun sempat dibenarkan Eni. “Memang ada duit yang Rp 2 miliar saya terima, sebagian, saya ini kan untuk munaslub,” kata‎ Eni usai diperiksa, Senin 27 Agustus 2018. Eni sendiri saat Munaslub Partai Golkar pada Desember 2017 merupakan Bendahara Umum Munaslub. Sedangkan Partai Golkar saat itu dinahkodai oleh Idrus Marham selaku pelaksana tugas Ketua Umum Golkar menggantikan Setya Novanto. Menurut Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, Eni kerap melapor Idrus usai menerima uang suap dari Johanes. “Eni itu ketika menerima uang, dia selalu melapor ke Idrus Marham, untuk disampaikan,” ujar Alex. Bahkan Alex menegaskan, penyidik sudah menemukan bukti adanya uang suap yang diterima Eni Saragih dipergunakan untuk Munaslub Partai Golkar. Diketahui Munaslub Partai Golkar pada pertengahan Desember 2017 untuk mengukuhkan Airlangga Hartarto menjadi ketua umum menggantikan Setya Novanto. “Dan juga Idrus Marham mengetahui, Eni itu menerima uang, dan sebagian dari uang itu digunakan untuk Munaslub Golkar, pada saat itu kan Idrus Marham sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar,” kata Alex. Bahkan, Alex mengatakan pihaknya akan mendalami apakah bisa menjerat Partai Golkar yang diduga menerima aliran dana suap dengan pasal yang biasa diterapkan untuk korporasi. Airlangga Hartarto sendiri membantah adanya uang suap Rp 2 miliar yang masuk untuk Munaslub partai berlambang beringin. “Terkait dana ke Partai Golkar, dari hasil informasi dan pernyataan ketua OC Pak Agus Gumiwang, mengatakan tidak ada. Dan dari ketua panitia penyelenggara Munaslub (juga) tidak ada, dan dari bendahara Golkar juga tidak ada (aliran dana ke Munaslub Partai Golkar),” kata Airlangga pada Senin 27 Agustus 2018. Sangkalan dari Airlangga tak dihiraukan oleh Alex. Menurut dia, setiap orang mempunyai hak untuk tidak mengakui perbuatannya. Namun bantahan tersebut akan terpatahkan dengan bukti yang dimiliki KPK. “Ya, semua orang boleh menyangkal, boleh membantah ya, tapi nanti kan akhirnya di pembuktian gitu kan. Eni sendiri ketika ditangkap itu kan menjabat sebagai bendahara. Ya memang kita enggak bisa memisahkan uangnya Eni yang diterima Eni itu kan. Itu digunakan untuk apa saja, yang jelas bendahara umum dan yang bersangkutan sudah menyampaikan salah satunya digunakan untuk munaslub,” kata Alex.
Sumber: Liputan6.com dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 80 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 263
  • Page views today : 287
  • Total visitors : 547,351
  • Total page view: 1,132,735