Connect with us
Update Now

Lensa

Gembira atas Kelahiran Rasulullah SAW, Abu Lahap Merdekakan Budaknya, Siksa Kuburnya Tiap Senin di Discount!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 99,234 kali

Lensa – Banyak yang menyangka kalau Abu Lahab dengan Abu Jahal itu satu orang. Sebenarnya dua orang. Namun keduanya merupakan tokoh-tokoh bangsawan Arab Qurais yang kaya raya dan berpengaruh saat itu, karena kekayaan mereka, semua orang tunduk dan hormat, keduanya juga sama dan satu tujuan, yakni bersahabat karib dan musuh utama Rasulullah SAW. Abu Lahab itu paman Nabi Muhammad SAW, sedangkan Abu Jahal tidak ada hubungan darah dengan nabi. Nama Abu Lahab yang sebenarnya adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, sedangkan nama Abu Jahal yang sebenarnya adalah Abdul Hakam bin Hisyam.

Tentang Abu Lahab, Sempat Nikahkan 2 Anaknya Dengan Anak Rasulullah SAW

Dia adalah tokoh kuffar Quraisy yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang dibawanya. Dialah yang mempermalukan Nabi di depan umatnya dengan ucapan yang hina, “Celaka engkau hai Muhammad! Apakah ini maksudmu mengundang kami kemari?” kata Abu Lahab dengan sangat marah saat nabi sedang berkhutbah di kaki bukit. Karena kelancangannya itulah, pada hari itu juga Allah mempermalukan Abu Lahab dengan turun Surat Al-Lahab : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (QS. Al-Lahab : 1 – 4).
Abu Lahab ketika itu tidak sendiri, ada lagi kawan setianya Abu Jahal, Walid bin Mughirah Al-Makhzumi, ‘Ash bin Wail As-Sahmi, Amru bin Hisyam, Abdul Azza, Nadhar bin Harits, Uqbah bin Abi Mui’th, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, dan lain-lain.

Tentang Abu Jahal, yang Dendam Karena Selalu Kalah Bersaing Dengan Rasulullah sejak Remaja

Nama aslinya Abdul Hakam bin Hisyam. Sejak sama-sama remaja Abu Jahal senantiasa mengolok-olok Muhammad. Pernah juga keduanya berkelahi, Abu Jahal kalah dan terkilir lututnya. Ia sangat dendam kepada Muhammad SAW. Abu Jahal pernah melamar Khadijah binti Khuwailid, tetapi Khadijah menolak lamaran tersebut. Beberapa bulan kemudian, Muhammad meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu Jahal semakin dengki kepada Muhammad. Setelah orang-orang lemah masuk Islam, Abu Jahal memproklamirkan dirinya sebagai preman kota Makkah. Orang-orang dhuafa yang masuk Islam semua mendapat penyiksaan pedih dari Abu Jahal. Yasir dan irtirnya Sumiyyah mendapat siksa sampai syahid di tangan Abu Jahal.

Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, tahun ke-12 dari kenabian atau 2 tahun sebelum Hijriyah. Setelah Isra’ Mi’raj Rasulullah mengajak manusia supaya percaya kepada kisah perjalanan yang menakjubkan itu. Banyak orang yang tidak percaya, termasuk Abu Jahal. “Bohong kau Muhammad, bagaimana mungkin dalam satu malam saja kamu bisa ke Baitul Maqdis? Kalau kau benar-benar sampai di sana, coba kau ceritakan apa yang kau lihat dalam perjalanan.” Muhammad bercerita sesuai dengan yang dilihatnya secara akurat. Orang ramai membenarkan kecuali segelintir para munafiq dan Abu Jahal. “Itu sihir yang nyata!”, teriak Abu Jahal. Kemudian Abu Jahal dan anak buahnya selalu menganggu orang-orang yang shalat. Mereka sering melemparkan orang-orang shalat dnegan tahi unta, kotoran kambing, dan sebagainya. Mereka ramai dan sering mengejek orang-orang Islam dan Muhammad SAW, namun demikian, nabi dan pengikutnya tetap bersabar dan tidak melawan orang jahil yang berkelompok itu. Suatu hari, Abu Jahal sendiri yang ingin membinasakan Nabi Muhammad SAW. Ketika nabi sedang sujud, Abu Jahal muncul mengendap-ngendap dengan batu besar di tangannya. Ia ingin menghantam kepala nabi agar pecah. Tiba-tiba ia melihat seekor unta raksasa yang ingin menelannya. Abu Jahal ketakutan sambil melepaskan batu dan lari terbirit-birit, sampai terkencing dan terberak dalam celana. Sampai di rumah ia pingsan beberapa saat. Dasar orang jahil, Abu Jahal belum merasa jera, ia terus merongrong Muhammad, dan dia pula yang merancang siasat agar Muhammad dibunuh atau diusir dari Makkah. Ketika Muhammad telah hijrah, Abu Jahal berpesta pora. Ia merasa dirinya sudah menang dan merasa cukup. Allah berfirman tentang Abu Jahal ini, “Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq : 6 – 7).

Gembira Punya Kemenakan Muhammad, Abu Lahap Merdekakakan Budaknya

Kelahiran Nabi Muhammad SAW disambut gembira oleh berbagai kalangan, termasuk pamannya sendiri yakni Abu Lahab. Siapa sangka dakwah Rasulullah akan Islam kelak paling ditentang oleh pamannya tersebut. Saking gembiranya Abu Lahab dalam menyambut kelahiran keponakannya itu, dia memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah di hari kelahiran Nabi. Atas tindakannya ini meski status Abu Lahab adalah seorang kafir, dia mendapat keringanan siksa kubur tiap hari senin. Namun sebagaimana diterangkan dalam berbagai literatur, dakwah Nabi Muhammad SAW ditentang oleh Abu Lahab secara terang-terangan. Bahkan Abu Lahab pernah berencana membunuh Nabi lantaran tak terima dengan ajaran Islam yang dibawanya. Kekejian yang dilakukan oleh Abu Lahab bahkan diabdikan dalam al-Qur’an surat al-Lahab ayat 1-5 yang berbunyi:
Tabbat yada-abi lahabi-watab. Ma aghna anhu maa luhu wa maa kasab. Sayashlanaran dzata lahab. Wa-mra-atuhu hammaa latal-hatab. Fi jiidiha hablu-minmasad,”
Yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka (yang bergejolak). Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal,”.
Al-Biqa’i pernah menghubungkan surat ini dengan kandungan surat an-Nashr yang menegaskan kepastian datangnya kemenangan serta berbondong-bondongnya masyarakat memeluk Islam. Sedangkan Abu Lahab adalah sosok yang paling dikenal menentang ajaran Islam yang dibawa Nabi. Oleh karenanya timbul pertanyaan dengan kondisi tersebut, apakah Abu Lahab akan menerima atau terus melanjutkan penolakan terhadap dakwah Nabi. Surat al-Lahab ini Menurut Pakar Tafsir Quraish Shihab dalam kitab tafsir al-Mishbah merupakan jawaban atas pertanyaan sikap Abu Lahab. Menurut beliau, ayat-ayat dalam surat al-Lahab merupakan vonis atas tindakan pembangkangan kepada ajaran yang dibawa Rasul. Vonis tersebut yakni totalitas Abu Lahab yang binasa. Harta benda, anak, kerabat, teman, kedudukan sosial, hingga lainnya yang dimiliki ikut binasa. Nama Abu Lahab sendiri aslinya adalah Abdul Uzza. Dia diberi gelar Abu Lahab yang berarti kobaran api. Hal itu merupakan gelar yang diberikan sejak zaman Jahiliah atas kegagahan dan kobaran api dan kecemerlangan wajahnya. Menurut Thahir Ibnu ‘Asyur, al-Qur’an menggunakan gelar tersebut disematkan karena nama Uzza merupakan nama salah satu berhala yang disembah kaum musyrikin. Ulama lainnya juga berpendapat bahwa gelar Abu Lahab diberikan untuk mengisyaratkan bahwa kelak yang bersangkutan akan terbakar di neraka jahanam dengan kobaran api yang besar. Dalam kehidupannya, Abu Lahab kerap melakukan hal-hal keji kepada Nabi. Misalnya, pada fajar mulai terbit Abu Lahab meletakkan kotoran manusia di pintu rumah Rasulullah. Harapannya Nabi Muhammad SAW bakal mengurungkan niat dan kembali menutup pintunya untuk tidak melakukan dakwah Islam ke luar. Tak hanya dirinya sendiri, Abu Lahab juga kerap memprovokasi umat dan melibatkan anggota keluarganya untuk membenci Nabi. Dari empat anak yang dimilikinya bernama Durrah, Muattab, Utbah, dan Utaibah, satu dari empat anak itu tetap kafir hingga akhir hayatnya. Dua anaknya menikahi putri Rasul yakni Utbah menikahi Ruqayyah dan Utaibah menikahi Ummu Kaltsum. Adalah Utaibah yang menyakiti Nabi atas provokasi ayahnya. Utaibah diketahui menikahi putri Nabi, Ummu Kaltsum, dan menalaknya di depan Rasulullah sambil meludahi muka Rasul. Sedari awal pernikahannya dengan Ummu Kaltsum, Abu Lahab dan anaknya sengaja meniatkan untuk menghancurkan hati Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai literatur, peristiwa ini dimotori provokasi Abu Lahab kepada anaknya berbunyi: “Kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak menceraikan putri Muhammad,”. Dari celakanya perbuatan dan tindakan Abu Lahab kepada Nabi ini, Allah masih bermurah hati kepadanya. Salah satu kemurahan hati yang diberikan adalah dengan meringankan siksa kubur Abu Lahab tiap hari senin, hari kelahiran Nabi. Sebagai umatNya, pada Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini apa-apa yang menjadi teladan Rasul harus kita tiru dan amalkan. Menjadikan Rasulullah panutan dalam aktivitas hidup adalah keharusan bagi setiap Muslim. Lahirnya insan terbaik ke muka bumi ini perlu kita peringati dengan hal yang positif. Jadikan setiap tindakan orang-orang yang memusuhi Rasulullah sebagai sebuah pelajaran, semoga tak ada sedikit pun yang kita tiru dari tindakan Abu Lahab.
Sumber: republika.co.id, Koran Serambi Indonesia dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 59 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 9 = 12

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 188
  • Page views today : 211
  • Total visitors : 527,925
  • Total page view: 1,111,285