Connect with us
Update Now

Gaya Hidup

Gara-gara Earphone, Headphone & Headset Bikin Pendengaran Anda ‘Songong’

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 231,044 kali

Gaya Hidup- Antonius Yulianto (48) dulu suka sekali mendengarkan musik dengan menggunakan headphone. Namun, setelah 2015, kebiasaan itu sudah tak pernah lagi dia lakukan. Pasalnya, akibat kebiasaannya itu Yuli harus bolak-balik ke dokter spesialis THT selama satu tahun untuk memeriksakan telinganya. “Jadi gendang telinga itu mengalami luka dan peradangan. Jadi selama satu tahun harus berobat, pakai obat tetes telinga,” tutur Yuli. Dulu, setiap ada waktu untuk bersantai Yuli selalu mendengarkan musik dari ponselnya menggunakan headphone. Namun, lama kelamaan, orang-orang terdekatnya mengeluh karena Yuli tak bisa mendengar dengan baik saat diajak berbicara, baik itu jarak dekat maupun jarak jauh. Padahal saat berbicara, Yuli tidak sambil memakai headphone. Sejak saat itu, Yuli benar-benar meninggalkan headphone-nya. Ia tak lagi menggunakan aksesoris audionya itu untuk mendengarkan musik. Bahayakah Menggunakan Headphone? Headphone, earphone, atau headset memang bermanfaat agar suara yang kita putar tak mengganggu sekitar kita. Saat berbicara dalam telepon, alat-alat itu juga bermanfaat agar kita bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dari lawan bicara, apalagi jika kita berada di lingkungan yang bising. Namun, hendaknya kita mengetahui risiko penggunaannya. Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), 1,1 miliar remaja dan dewasa muda di seluruh dunia memiliki risiko gangguan pendengaran. Penyebabnya adalah penggunaan perangkat audio pribadi yang tidak aman seperti telepon pintar, suara bising di klub malam, bar, atau acara olahraga. Tak hanya itu, 43 juta penduduk dunia berusia 12 hingga 35 tahun juga diketahui mengalami gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut, lebih dari 50 persen dari mereka mengalami gangguan pendengaran akibat mendengar audio dalam volume tak aman dari perangkat pribadi. Stephen E. Widen, bersama tiga orang rekannya pernah melakukan studi berjudul “Headphone Listening Habits and Hearing Tresholds in Swedish Adolescent” (PDF) untuk mengetahui fungsi pendengaran dan tingkat paparan musik pada remaja di Swedia berdasarkan kebiasaan mendengarkan musik. Dalam penelitian itu, Widen, dkk meneliti 280 remaja berusia 17 tahun. Dalam penelitian tersebut, rata-rata partisipan (88,6 persen) memulai menggunakan headphone sejak berusia 13 tahun dengan frekuensi mendengarkan musik setiap hari. Sebanyak 80 persen remaja mendengarkan musik dalam waktu 0,5-2 jam setiap sesi, 20 persen sisanya mendengarkan musik 3 jam atau lebih. Umumnya, mereka menggunakan perangkat musik tersebut saat berada di bus, kereta, kapal, mobil, berjalan dan bersepeda. “Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama remaja terpapar musik menggunakan headphone, semakin banyak masalah yang dilaporkan. Kecenderungan dari penelitian tersebut, semakin keras volume musik, maka ambang pendengaran mereka semakin buruk,” ujar Widen, dkk. Remaja yang diteliti oleh Widen, dkk umumnya mendengarkan musik pada level <85 dB (80%), 10 persen mendengarkan pada level 85-90 dB, dan sisanya mendengarkan pada level 90-100 dB. Widen, dkk memaparkan bahwa 71 persen dari mereka tidak melaporkan adanya gangguan pendengaran, 14 persen memiliki pendengaran yang buruk, dan 7-8 persen mengatakan bahwa mereka sering mengalami gangguan pendengaran seperti tinitus, sensitif terhadap suara, dan sound fatigue. Luisa Dillner pernah menulis artikel berjudul “Will Headphones Damage My Hearing” yang diterbitkan The Guardian menyampaikan bahwa kekuatan pemutar musik pribadi dapat mencapai 95 hingga 105 dB. Lebih dari itu, kekuatan suara setara dengan suara gergaji. Artinya, mendengarkan musik dalam waktu 15 menit menggunakan headphone pada volume maksimum bisa merusak pendengaran. “Suara-suara keras dapat menyebabkan kehilangan pendengaran dengan merusak stereocilia: rambut-rambut kecil yang berada di atas sel-sel rambut di telinga bagian dalam. Suara bising membuat stereocilia bergetar—mengubah tegangan dalam sel-sel rambut—yang kemudian mengirim pesan kimia melalui saraf ke otak. Memukul stereocilia dan merusak pendengaran Anda,” tulis Dillner dalam artikel itu. Sumber:mercusuar.com

Berita ini sudah dilihat 91 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 427
  • Page views today : 486
  • Total visitors : 545,626
  • Total page view: 1,130,801