Connect with us
Update Now

Berita

Ekonomi RI Dikuasai Cina

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 216,331 kali

Janji kampanye pasangan Anies-Sandi yang tetap kukuh menolak reklamasi teluk Jakarta, membuat pemerintah pusat geram. Penolakan itu karena disinyalir Teluk Jakarta itu hanya menjadi pemukiman elit keturunan Cina dan juga imigran Cina yang makin membanjiri Indonesia. Bahkan, properti-properti bernilai milyaran hingga trilyunan hampir semuanya dimiliki warga keturunan (Taipan, sebutan untuk konglomerat keturunan). Melalui Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan menegaskan, pemerintah pusat tetap akan bangun teluk tersebut. Perang ‘terbuka’ Pemerintahan DKI Jakarta dengan Pemerintah Pusat tak terelakan, terlebih setelah Anies menggunakan kata-kata pribumi di awal pidatonya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Coba Anda jalan-jalan ke mall-mall besar yang ada di seluruh Indonesia, tentu ada pemandangan yang tak aneh lagi. Mata-mata sipit tua dan muda berseleweran di pusat perbelanjaan modern tersebut. Semakin banyak mall yang ada di kota-kota besar di Indonesia, maka makin banyaklah wajah-wajah oriental memenuhi mall tersebut. Sudah berubahkah wajah Indonesia menjadi tempat imigran Cina atau kini Tiongkok memenuhi kota-kota bera kita?? Bahkan ada cerita Vokalis Seventen, yang saat itu menuju Kendari, menurutnya hampir 90% penumpang pesawat itu para pekerja asal Tiongkok, terlihat dari logat bicaranya yang tak mengerti bahasa Indonesia dan Inggris, kecuali bahasa moyang nya, yakni Bahasa Tiongkok. Atau kita lihat saja para pekerja PT Conch yang ada di Desa Saradang, Haruai, Tabalong, Kalsel, yang terdata pekerja asal Tiongkok sudah mencapai 250 orang. Kalau kita kurang waspada, bisa jadi semakin hari, bulan, hingga tahun, jumlah mereka mencapai ribuan pekerja, yang bekerja di pabrik semen asal negeri itu sendiri. NKRI telah menjadi lahan mereka untuk mencari nafkah, ledakan penduduk Tiongkok yang mencapai 1 milyar jiwa lebih, menjadikan lapangan kerja di sana sangat sulit dan negara kita menjadi tujuan utama mereka. Ucapan Anies Baswedan, setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada (16/10), seakan menyadarkan kita, kalau selama ini kaum pribumi telah menjadi penonton di negeri sendiri, sementara banjir tenaga kerja asing asal Tiongkok tak mampu dibendung pemerintah pusat. Pembangunan Reklamasi Teluk Jakarta yang sempat dihentikan di jaman Menko Kemaritiman Rizal Ramli dan membuat mantan Gubernur DKI waktu itu Ahok ‘Lapor’ ke Istana, sehingga membuat Rizal Ramli menjadi Menteri tersingkat di Kabinet Jokowi-JK. Pengganti Rizal Ramli, Luhut B Panjaitan, sudah bisa di tebak, akan bertolak belakang kebijakannya dengan Rizal, Luhut menegaskan, Teluk Jakarta tetap dilanjutkan, tak peduli dengan penolakan Anies-Sandi. Wagub DKI Sandiaga Uno ternyata sudah dua kali menolak undangan Luhut terkait pembangunan teluk Jakarta tersebut. Sandi menegaskan, pembangunan teluk Jakarta tetap harus dihentikan, apapun alasannya, karena tidak menguntungkan dari sisi apapun. Namun, Pensiunan jenderal TNI Angkatan Darat ini keukeuh menyatakan proyek reklamasi harus terus dilanjutkan. Dia bilang, prosedural adminsitrasi di kementerian sudah selesai semua. “Jadi tidak ada alasan untuk tidak diteruskan karena kajian-kajian teknisnya sudah dilakukan,” begitu kata Jenderal Luhut.
Namun ketika pernyataan Jenderal Luhut itu dihadapkan dengan janji kampanye Anies-Sandi yang dari awal menolak reklamasi, nada bicara Jenderal Luhut terdengar sedikit meninggi. Berikut pernyataan lengkap Jenderal Luhut; Jakarta kini dipimpin Gubernur dan Wagub baru Anies Baswedan- Sandiaga Uno yang sejak awal menolak proyek reklamasi. Bagaimana koordi­nasi pemerintah pusat dengan pimpinan DKI Jakarta? Baik-baik saja (hubungannya). Apa benar kabar yang men­gatakan, Wagub Sandiaga Uno sudah dua kali mem­batalkan pertemuan dengan Anda untuk membahas soal reklamasi? Iya, tanya saja sama Pak Sandi, mungkin beliau sibuk. Setelah dua kali batal, apakahAnda akan kembali me­manggil Sandiaga Uno untuk membahas reklamasi ini? Kapan saja mereka mau jalan terus. Kita terbuka kok siapa saja yang mau datang, ini masih satu negara kok. Hanya yang saya titip satu, tadi kan anda tanya mengenai hubungan, Pak Gubernur itu kan gubernurnya orang DKI Jakarta, bukan gu­bernurnya satu kelompok, jadi saya titip supaya Pak Anies sebagai Gubernur dan Pak Sandi menjadi Wakil Gubernur, saya titip itu. Sebenarnya reklamasi ini akan dilanjutkan atau tidak? Dari kami sudah selesai, tidak ada alasan untuk tidak diteruskan karena kajian-kajian teknisnya sudah dilakukan dan saya sebagai Menko Maritim sudah mencabut moratorium yang te­lah dikeluarkan oleh pendahulu saya (Rizal Ramli). Pada tanggal 5 Oktober 2017 itu saya keluarkan (keputusan mencabut moratorium) karena itu diminta oleh Pak Gubernur DKI juga. Kami mencabut karena mereka semua (pengembang) sudah penuhi (persyaratan). Studi itu juga sudah kita laku­kan kesekian kali. Misalnya rekayasa listrik, gimana caranya biar enggak panas. Ini yang ter­libat banyak, Korea, Belanda, Jepang, PLN, Pertamina. Jadi tak ada alasan lagi kenapa harus tidak dicabut. Persoalannya sekarang itu Anies-Sandi dalam janji kampanyenya akan menolak reklamasi? Kalian ini apa sih perlu bikin tubruk-tubrukin, kan nggak perlu, nanti kita lihat saja. Nggak ada tolak belakang. Ya silakan saja (Anies-Sandi melanjutkan janji menyetop reklamasi Teluk Jakarta). Ketika pemerintah menjanjikan pulau untuk nelayan, ba­gaimana dengan akses mereka ke laut? Ada, kita sudah hitung denganbaik. Pasti jalan itu, kalau masalah nelayan itu betul-betul kita perhatikan jangan sampai ne­layan dirugikan, itu dijamin. Kita pertimbangkan lagi ada pulau terluar itu pulau A karena akses yang lebih bagus untuk nelayan, tapi itu tergantung mereka. Mekanisme pembagiannya seperti apa? Oh nanti itu biar diatur oleh pe­merintah DKI Jakarta dan pemerintah Provinsi Banten, karena itu sudah di luar DKI Jakarta. Nah, kalau melihat kerasnya Luhut ingin melanjutkan proyek tersebut, sudah bisa di tebak, siapa yang ada di belakang pemerintahan pusat, karena proyek ini milik PT Agung Sedayu Group, yang dimiliki taipan terkenal Trihatma Kusuma Haliman (asli keturunan Cina) dan memiliki kekayaan tak sedikit di negara ini. ê
Sumber: rakyatmerdeka.online dan diolah dari berbagai sumber oleh Tim Redaksi

Berita ini sudah dilihat 63 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 177
  • Page views today : 192
  • Total visitors : 544,088
  • Total page view: 1,129,086