Connect with us
Update Now

Headline

Ekonomi RI Babak Belur Dihantam Corona Bagian I: Pemerintah Tetap Optimis

Diterbitkan

pada

Kondisi Ekonomi RI yang masih babak belur di hantam korona, ilustrasi Pasar Baru Jkt yang sepi (dok, ekonomi bisnis.com)

BêBASbaru.com, NASIONAL – Kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19, ditambah dengan situasi geopolitik dunia yang berlangsung pada kuartal II-2020 ini, membuat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagian besar negara di dunia melambat. Perang dagang yang masih berlanjut antara Amerika Serikat dan Tiongkok, pergolakan antara Tiongkok dengan wilayah Hong Kong semakin memberikan tantangan perbaikan ekonomi ke depan. Sementara itu, reopening economy yang mulai dilakukan sejalan dengan stimulus berskala besar, memicu sentimen positif pasar keuangan dan harga komoditas serta aliran modal menuju emerging market. Meskipun demikian, pemulihan ekonomi masih penuh ketidakpastian, salah satunya dibayangi adanya second wave. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada 2020 merupakan tahun yang extra ordinary, dengan tantangan dan perubahan. Melihat dinamika itu, pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 diperkirakan mengalami minus 3 persen hingga minus 6 persen. “Meskipun pada kuartal I positif, namun kuartal kedua kami perkirakan akan terjadi kontraksi karena PSBB. Kami perkirakan negatif, minus 3,1 persen,” ujarnya dalam press conference APBN Kita, Selasa (16/6) lalu. Pertumbuhan negatif ini, kata Sri Mulyani, disebabkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di banyak daerah yang memberi kontribusi besar terhadap ekonomi nasional. Sri Mulyani juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh berbagai lembaga ekonomi dan keuangan dunia, yang hampir semuanya menyatakan negatif, bahkan hingga -6 persen. “Hampir semuanya adalah negatif forecast-nya untuk kuartal II antara -3 sampai -6 persen,” ujar Menkeu. “Kemudian kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi akan mulai membaik dan kuartal empat mulai positif,” sambung dia.

Pemulihan Ekonomi

Namun demikian, Menkeu juga memaparkan bahwa hasil asesmen terkini mengindikasikan kinerja kuartal II lebih baik dibandingkan hasil asesmen sebelumnya pada Mei 2020. Hal ini memberikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh positif di 2020. Keberhasilan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) nantinya juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Perekonomian Indonesia 2020 akan sangat ditentukan apakah di kuartal ketiga akan sedikit lebih baik dari kuartal kedua, dan apakah di kuartal keempat memang akan ada paling tidak recovery yang mulai muncul,” ujar dia. Sementara ini, Pemerintah belum mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi sebelumnya, yakni -0,4 sampai dengan 2,3. Meskipun menurut Sri Mulyani, point estimate-nya sudah semakin mendekati di level antara 0 hingga 1 persen. Situasi pelemahan ekonomi global dan Indonesia ini juga berpengaruh terhadap kinerja pendapatannegara. Sampai dengan 31 Mei 2020, realisasi pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp 664,32 triliun, namun capaian tersebut tumbuh negatif 9,02 persen (yoy). “Realisasi hingga 31 Mei, pendapatan negara kita mencapai Rp 664,3 triliun atau 37,7 persen dari target Perpres 54 perubahan APBN 2020. Dibanding Mei tahun lalu, pendapatan mengalami kontraksi 9,0. Penerimaan perpajakan Rp 526,2 atau 36 persen dari target Perpres 54, kontraksi perpajakan 7,9 persen,” jelas Menkeu. Pajak sendiri, lanjut Menkeu, sampai dengan akhir Mei mengumpulkan Rp 444,6 atau 35 persen dari target Perpres 54/2020 dengan kontraksi 10,8 persen dibandingkan penerimaan akhir Mei tahun lalu. Penerimaan seluruh sektor usaha di Januari hingga Mei 2020 juga tumbuh negatif, berkebalikan dengan Industri Pengolahan dan Jasa Keuangan dan Asuransi masih tumbuh positif sampai dengan April. Kegiatan produksi yang melambat ini, akibat terbatasnya suplai bahan baku impor dan pembatasan kegiatan produksi akibat Covid-19. Volume penjualan barang dan jasa pada berbagai sektor juga sangat tertekan akibat PSBB, menurunnya daya beli, serta perubahan pola spending-saving masyarakat dalam menghadapi pandemi. Sementara Bea Cukai masih tumbuh positif 12,4 persen dan mengumpulkan Rp 81,7 triliun, atau 39,2 persen dari target Perpres 54/2020. Lainnya, dari BNPB juga mengalami kontraksi sebesar 13,6 persen dengan jumlah pendapatan Rp 136,9 triliun atau 46 persen dari target Perpres 54/2020.

Sumber: liputan6.com dan berbagai sumber

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 39
  • Page views today : 46
  • Total visitors : 504,076
  • Total page view: 1,081,681