Connect with us
Update Now

Uncategorized

Demokrasi Sudah Rusak, Jual Beli Suara Dianggap bagian Demokrasi, Inilah Penyebab Kemunduran Bangsa

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 453,441 kali

SAHIBAR BANUA – Sejak pemilu di gelar mulai dengan 3 parpol peserta, hanya ada satu parpol yang paling rajin menarik simpati rakyat dengan pemberian sarung ataupun malah nasi bungkus, yakni parpol penyokong pemerintah. Namun sejak era reformasi dan nomor urut tak berlaku lagi, pemberian makin massif dan bukan lagi oleh parpol, namun oleh Caleg tak ketinggalan paslon Pilkada. Sampai-sampai Mendagri Tito Karnavian pernah ‘menantang’ Kepala Daerah yang menang tanpa money politik dan tantangan itu tak berani di jawab oleh semua Kepala Daerah. Inilah yang bikin demokrasi kita mahal dan rusak. Puluhan mahasiswa dan beberapa tokoh masyarakat menghadiri Diskusi Publik Duitokrasi Membunuh Demokrasi, di Gedung Islamic Center, Sabtu (15/2). Diskusi yang digelar BEM Politeknik Kotabaru itu dihadiri pakar hukum tata negara Prof Dr H Denny Indrayana. Tokoh nasional yang akrab disapa Haji Denny dalam paparannya menjelaskan, duitokrasi adalah sistem yang digerakkan oleh pemegang modal. Sekarang duitokrasi merasuk sendi kehidupan, termasuk sistem demokrasi. “Duitokrasi dan korupsi harus dilawan. Duitokrasi jadi momok bagi demokrasi. Karena suara sudah dibeli. Rakyat tidak sejahtera,” ujarnya. Jual beli suara saat Pilkada kata Haji Denny merupakan salah satu penyebab kemunduran bangsa ini. “Lima tahun suara dibeli hanya dengan selembar kertas. Ayolah jangan jual murah. Ubah pola pikir,” tekannya. Dia pun berharap, generasi muda di Kotabaru terus menjadi agen perubahan di masyarakat. Kuliah bukan semata-mata kelas saja. Tapi kuliah harus dijadikan momen pemuda menempa hidupnya. “Perbanyak organisasi. Kegiatan-kegiatan. Orang-orang sukses rata-rata saat jadi mahasiswa adalah aktivis,” ucapnya memotivasi. Bakal calon gubernur Kalsel ini juga berpesan, walau berada di ujung Banua, pemuda Kotabaru harus bangkit. Menggelar berbagai macam kegiatan positif. Seperti diskusi publik, atau kegiatan keorganisasian lainnya. Sementara itu, Ketua BEM Politeknik Kotabaru M Asyari mengaku bangga Prof Denny mau meluangkan waktu diskusi dengan mahasiswa di Pulau Laut. “Dia adalah putra daerah Kotabaru yang cerdas. Kami bangga bisa diskusi dengan dia,” ujarnya. Menurut Asyari apa yang disampaikan Haji Denny terlihat faktanya di lapangan. Bahwa dalam Pemilu jual beli suara biasa dilakukan. Dan itu ternyata berdampak buruk dikemudian hari. Namun dia menekankan, diskusi yang mereka gelar bersifat terbuka untuk umum. “Diskusi ini untuk umum,” ucapnya.
Sumber: kalsel.prokal.co dan berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 104 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA