Connect with us
Update Now

Curah

Demokrasi Kelam yang Misteri & Luput Dari HAM

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 413,412 kali

Jumat 23 Mei 1997, Pukul 14.45 Wita, saya baru saja sampai ke Kampus Uniska, Banjarmasin, yang terletak di Kayu Tangi. Sebagai mahasiswa saat itu, saya memang kuliah setiap sore Pukul 15.00 Wita. Baru saja duduk nongkrong bersama teman yang lain, tiba-tiba datang seorang mahasiswa dengan tergopoh-gopoh dan mengabarkan ada demontrasi di Jl Veteran, Jl Ahmad Yani dan Jl Lambung Mangkurat, berbarengan dengan itu ada pemberitahuan, kalau perkuliahan dibatalkan, karena situasi yang tak menentu. Namanya anak muda, bukannya takut, saya malah penasaran dan ingin melihat langsung demontrasi itu, saya pun pulang dulu ke kos di Jl Cendana I, Kayu Tangi, lalu bersama kawan se kos, bernama Erdi, meluncur naik motor menuju ke Jl Lambung Mangkurat untuk melihat demontrasi yang kabarnya disertai amuk massa dan pembakaran fasilitas umum dan pusat perbelanjaan. Saya melihat langsung, bagaimana ramenya massa yang berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan Junjung Buih (eks A Hotel), rata-rata membawa clurit dan tongkat kayu, sebagian ada yang membakar gedung itu, lalu api perlahan-lahan membesar tak terkendali. Pada saat bersamaan, Pusat Perbelanjaan Mitra Plaza dan Toko Lima Cahaya juga di jarah serta di bakar massa serta beberapa bioskop, untungnya saya tak tergoda ikut-ikutan menjarah hanya menyaksikan semua kejadian itu dari depan Kantor Pos Besar Banjarmasin. Saya sendiri bingung darimana massa yang membawa senjata tajam tersebut, sedangkan penjarah itu saya liat gabungan dari awalnya hanya nonton demo, lalu ikutan menjarah. Ironisnya lagi, siapa yang berbaju kuning, saat itu juga diminta di lepas, kalau menolak akan ditelanjangi, tak peduli wanita atau pria. Setelah mahrib, saya bergeser ke depan mesjid yang ada di dekat Mitra Plaza yang hangus terbakar. Saya baru tahu beberapa hari kemudian, kalau banyak penjarah yang terjebak di dalam Mitra Plaza dan ikut hangus terbakar. Bahkan ada isu yang menyatakan, para penjarah di ‘Petrus’ oleh sniper yang masih misteri kebenarannya sampai kini. Jam 20.00 Wita, saya bersama Erdi kembali ke kos, sepanjang jalan khususnya di Jl S Parman, menuju kayutangi, jalanan sepi dan bahkan tak ada manusia yang lalu lalang. Pas depan Makorim sebelum Polda Kalsel, kami di cegat dua tentara bersenjata lengkap dan ditanya mau kemana dan darimana, kami menjawab habis dari Pasar Baru Depan Mitra Plaza dan mau pulang ke kos di Kayutangi. “Segera kalian pulang, ini berlaku jam malam, berbahaya,” kata tentara tersebut. Dag dig dug juga hati saya bersama Erdi, sampai di kos, barulah lega hati kami. Sepanjang jalan, kami hanya satu dua orang berselisihan, suasana saat itu benar-benar mencekam, ditambah listrik yang padam. Suasana makin tambah horor dan menakutkan, karena terdengar azan berkumandang bersahutan, padahal bukan waktu sholat Isya atau pun sholat subuh. Isu penyerangan massa pun berselewiran dan kami diminta jangan ada yang keluar rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Siangnya, Sabtu 24 Mei 1997, sekitar jam 2 siang, Alm Kakek saya datang dari Tanjung, melihat saya tak apa-apa dan baik-baik saja, kakek lalu berkata, kalau isu di Tanjung, banyak Mahasiswa di tangkapi dan di sekap, khususnya yang ikut demontrasi dengan ‘tema Mega-Bintang”. Tidak lebih dari satu jam, kakek pamit mau langsung pulang ke Tanjung. “Jangan ikut-ikutan demo, jangan melihat demo, diam saja di kos,” pesan kakek, lalu naik ojek balik ke Pal/Km 7 mencari taksi pulang kembali ke Tanjung. Kepergian kakek itulah yang menyadarkan saya, bagaimana sayangnya beliau, bahkan beliau menuturkan, tak bisa tidur begitu tahu ada amuk massa pada Jumat tersebut. Lalu memutuskan langsung ke Banjarmasin paginya, tujuan utama hanya menjenguk saya di kos. Fisik beliau memang masih prima dan tak masalah 5 jam naik taksi colt L300 ke Banjarmasin, lalu balik hari itu juga ke Tanjung, padahal umur beliau sudah 67 Tahun.
Begitulah, kelamnya demokrasi di daerah kita, kampanye hari terakhir Golkar saat itu berubah amuk massa yang merengut ratusan jiwa korban dan kerusakan fasilitas umum. Pemilu jaman orba memang hanya diikuti 3 peserta, yakni Golkar, PPP dan PDI yang kini bermetamorfosis menjadi PDI-P. Bahkan menurut mantan Anggota Komnas HAM, Panda Nababan, dalam sejarah demokrasi negara kita, kejadian Jumat Kelabu di Banjarmasin merupakan kejadian paling tragis, karena merengut ratusan korban jiwa, yang ironisnya sampai kini tak pernah diungkap, siapa dalangnya, apa motifnya dan berapa total korban jiwa. Yang lebih memprihatinkan lagi, tak ada warga yang melaporkan telah kehilangan anggota keluarganya. Trauma dan rasa ketakutan luar biasa melanda warga Banjarmasin, itulah amuk massa (pesta demokrasi) terakhir dan sampai kini tak pernah terjadi lagi (semoga). Jauh sebelum itu, sebenarnya Kota Banjarmasin daerah paling rawan terjadinya amuk massa, pembaca tentu masih ingat bagaimana seramnya kala truk-truk batubara masih ‘lenggang kangkung’ dari Kabupaten Tapin-Banjar melewati jalanan negara menuju Pelabuhan Trisakti periode 1990 an. Sebelum akhirnya di larang total oleh Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Tahun 2003 silam. Setiap menyenggol motor apalagi menabrak warga, dapat dipastikan truk tersebut langsung dibalik massa dan dibakar, sopirnya bila tak kabur, maka pasti akan jadi bulan-bulanan warga.Lemahnya penegakan hukum dan juga tak adanya sanksi, membuat warga beringas. Saat itu kalau menuju Hulu Sungai dan sebaliknya, bisa memakan waktu hingga 10-12 jam, saking macetnya jalanan akibat antrean ribuan truk-truk batubara yang dimulai pukul 15.00 Wita hingga pagi hari. Saya sendiri saat itu, jarang pulang pake motor, lebih suka naik taksi colt, berjejal sudah pasti (dengan ongkos 8 hingga 10 ribu rupiah sekali jalan), rata-rata 2,5 bulan sekali saya pulang. Tujuan hanya satu, ongkos habis dan kiriman ortu lelet, jadi solusinya daripada nambah utang di warung nasi langganan, ya udah pulkam hehehehe… saya bisa saja masak, cuman dengan harga satu porsi Rp1000 dan teh manis Rp100, mending saya makan di warung kan…kini lokasi warung tersebut saya lihat sudah tak ada lagi, kena gusur Pemkot Banjarmasin Tahun 2000 an silam, letaknya samping kiri Gedung Sultan Suriansyah (Susu). Saat saya mahasiswa, krismon belum melanda, harga-harga masih murah, harga bbm premium saja masih Rp650 perak, rokok mild saya saja masih harga Rp600 perak, kos bulanan hanya Rp20 ribu. Saya kuliah periode 1993-1998 dan wisuda Tahun 1999, kenapa saya lelet setahun wisuda, karena nilai IPK saya rendah sekali, di bawah 2,5, makanya saya sengaja nunda setahun untuk perbaiki nilai dan Alhamdulillah lulus dengan nilai IPK 2,7, kurang dikit lagi IPK 3. Kejatuhan HM Soeharto Tahun 1998 membuat harga-harga melonjak tajam, warung makan langganan saya sampai 2x menaikan harga, si ibu yang jualan sampai minta maaf, karena menaikan harga makanan. Nasi se porsi yang asalnya 1000 naik jadi 1500, teh jadi 250 perak. Lalu saat saya lulus Tahun 1999, naik lagi jadi Rp2500 dan teh jadi Rp500 perak, pas saya jadi wartawan Tahun 2000, saya makan lagi di sana dan si ibu bilang, nasi seporsi naik jadi Rp5.000 dan teh Rp1.500… si ibu juga bilang, bentar lagi warungnya pindah, kena gusur dan belum tahu akan pindah ke mana. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi makan di sana. Karena sejak Tahun 2001, saya pindah tugas ke Balikpapan, sampai akhirnya saya pulang kembali ke Tabalong Tahun 2005 lalu jadi Legislator Tahun 2009, saya tak pernah ketemu dengan si ibu baik hati penjual nasi tersebut, apakah beliau wafat atau masih sehat, kenapa saya bilang beliau baik hati, tak terhitung berapa kali saya ngutang jaman mahasiswa di warung (namanya ‘Warung Mama’) tersebut dan beliau selalu maklum tak pernah nagih dan protes, yang penting hutang di bayar kan (rata-rata 10 hingga 15 hari saya bayar, pas kiriman datang). Andai saja saya bisa ketemu beliau, mungkin beliau akan bangga, salah satu mahasiswa yang suka ngutang, kini bisa jadi ‘orang penting’ dikemudian hari hehehehe…ê

Berita ini sudah dilihat 128 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 100
  • Page views today : 111
  • Total visitors : 553,668
  • Total page view: 1,140,120