Connect with us
Update Now

Berita

‘Demi reformasi ekonomi, Saudi harus beralih jadi Islam moderat’

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 234,401 kali

Pangeran Arab Saudi Muhammad bin Salman, putera mahkota yang kelak akan naik takhta menjadi raja, pekan ini menjadi sorotan internasional. Dalam sebuah konferensi investasi di Ibu Kota Riyadh Selasa lalu, Pangeran Muhammad atau kerap disebut MBS, mencetuskan Visi 2030 bagi Saudi dengan mengatakan negara itu akan menjadi lebih toleran berlandaskan Islam sebagai konstitusi dan modernitas sebagai praktiknya.

“Kami hanya ingin kembali ke asal: Islam moderat yang terbuka kepada dunia dan semua agama,” kata dia, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (28/10). “Kami tidak akan menyia-nyiakan waktu 30 tahun mengurusi ide ekstremis. Kami akan hancurkan ide itu sekarang.”

Pidatonya itu sontak mendapat tepukan hangat dari para hadirin dan diulas dalam satu halaman depan koran Inggris The Guardian.

Saudi selama ini dikenal sebagai negara konservatif yang tertutup dan berhaluan Islam ekstrem. Pangeran berusia 32 tahun itu disebut-sebut sebagai sosok pembaharu yang mengenalkan konser musik, bioskop, dan disinyalir sebagai orang di balik keputusan Raja Salman yang membolehkan wanita mengemudi mobil tahun depan.

MBS juga telah mengumumkan Saudi akan membangun sebuah lokasi wisata kelas dunia di kawasan Laut Merah lengkap dengan berbagai fasilitas modern, canggih, dan kaum hawa di pantai dibolehkan memakai bikini.

Lebih dari 20 juta angkatan muda Saudi kini berusia di bawah 25 tahun. Itu berarti jutaan dari mereka akan memasuki dunia kerja dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah dituntut menyediakan lapangan kerja sebab jika pengangguran merajalela hal itu bisa memicu pergolakan di tengah masyarakat. Dengan kenyataan ini MBS perlu mencarikan solusi untuk masa depan yang akan diwarisinya di kerajaan.

“Apa yang dilakukan MBS adalah hal yang harus dia lakukan demi reformasi ekonomi. Seperti halnya reformasi ekonomi menuntut perubahan etik Protestan, dia juga perlu Islam yang baru,” kata pengamat dari Institut Strategi Global London, Maamur Fandy.

Versi teranyar Saudi dari Islam moderat bisa dipahami sebagai upaya reformasi ekonomi. Toko-toko tidak perlu lagi tutup saat waktu salat dan kaum perempuan tidak usah dilarang lagi dari kehidupan publik, kata Fandy. Dengan kata lain, reformasi ekonomi membutuhkan reformasi sosial. [pan]

Sumber : https://www.merdeka.com

Berita ini sudah dilihat 57 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 26
  • Page views today : 31
  • Total visitors : 546,054
  • Total page view: 1,131,276