Connect with us
Update Now

Uncategorized

Dato Sri Tahir: Sebagai Warga Minoritas, Jangan Suka Pertontonkan Kemewahan, Kasian yang Miskin

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 414,626 kali

Gaya Hidup – Heboh pesta perkawinan anak konglomerat asal Surabaya di Bali, awal Desember lalu masih menjadi viral sampai hari ini. Namun, pernikahan itu menuai pro dan kontra, kali ini bukan dari kalangan orang biasa, justru dari salah satu orang terkaya di Indonesia, yang juga warga keturunan. Seperti di ketahui, pasangan Jusup Maruta Cahyadi dan Clarissa yang disebut sebagai ‘crazy rich Surabayan’ jadi viral di media sosial. Keduanya telahmenggelar pernikahan pada 1 Desember 2018 di Bali, pasangan ini pun bikin heboh netizen karena rangkaian resepsi mulai dari lamaran hingga foto prewedding yang super mewah. Salah satu pengusaha nasional yang juga masuk sebagai orang terkaya di Indonesia, Dato Sri Tahir pun ikut angkat bicara mengenai pernikahan tersebut. Tahir sendiri mengatakan bahwa pernikahan mewah itu sudah diketahui oleh kalangan pengusaha, khususnya pengusaha keturunan. “Pesta besar-besaran, makanan dari 5 benua. Lalu tamu yang VIP semua diabayarain, ini udah gede-gedean, viral di mana-mana. Jadi (infonya) semua tamu dikasih souvenir emas 5 gram, dorprize 5 unit Jaguar,” kata Tahir kepada detikFinance, Jakarta, Rabu lalu. Walau begitu, Tahir cukup menyayangkan dengan digelarnya acara pernikahan yang super mewah ini. Sebagai sesama pengusaha, menurut Tahir, seharusnya pernikahan mewah tersebut tidak digelar atau digembar-gemborkan seperti yang dilakukan. Menurutnya, hal itu hanya akan membuat jurang kemiskinan terlihat semakin lebar. “Pesta pernikahan itu kan bisa disesuaikan, bisa kecil-kecilan. Jangan kita gembor-gembor, kasih emas, hadiah emas, lalu makanan 5 benua, lalu tamu dikasih tiket semua free. Jangan, gitu loh. Ini memeruncing antara orang kaya dan orang miskin. Kita lagi menyelesaikan pengentasan kemiskinan, ini malah melebar jurang kemiskinan,” ujarnya. Tahir menilai, seharusnya para pengusaha bisa lebih sensitif atau prihatin terhadap kondisi saat ini. Akan lebih baik, menurutnya, agar uang yang digunakan untuk pernikahan mewah tersebut dipakai untuk memberi bantuan kepada yang membutuhkan saat ini. “Para pengusaha yang kebutuhannya beruntung telah menikmati keramahan, kebaikan, semua fasilitas dari negeri ini, sudah sepatutnya kita kembalikan uang itu. Kalau memang pesta besar-besaran, kenapa nggak, kita lagi ada bencana di Lombok dan Palu, itu serahkan saja,kan lebih anggun, bahwa semua hasil pernikahan saya ini diserahkan ke Lombok dan Palu. Kan lebih anggun,” katanya. Dia pun mengimbau agar para pengusaha tahu diri dengan apa yang sudah dimilikinya saat ini. Seharusnya, kata Tahir, para pengusaha bisa membantu pemerintah untuk bisa mengurangi jumlah kemiskinan yang ada, bukan justru memperlebar jurang si kaya dan si miskin. “Kita ini pengusaha, fakta kita itu (keturunan) minoritas, tahu diri lah. Jangan memperlebar jurang kemiskinan dan kekayaan. Sekarang pemerintah sedang berjuang mengurangi kemiskinan, kok Anda malah mempertajam perbedaan ini. Mbok tahu diri, tahu diri itu kita sudah dilindugi hukum diskriminasi. Tapi yang bisa melindugi kita itu bukan hukumnya, tapi perilaku kita yang bisa melindungi kita,” tuturnya.
Sumber: BeritaTerheboh.com dan detik.com serta berbagai sumber

Berita ini sudah dilihat 99 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 15
  • Page views today : 15
  • Total visitors : 553,724
  • Total page view: 1,140,188