Connect with us
Update Now

Lensa

Curah : Suhu Politik Selalu Panas Jelang Pilkada, Adem Setelahnya…!!!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 230,614 kali

By : H. Masruddin

Pilkada Tahun 2003, sahabat saya ini langsung menghela nafas panjang, kala mendapatkan selebaran yang sangat memojokan dirinya, tentu saja dia kaget kala mendapatkan selebaran yang isinya memutar balikan fakta, khususnya terkait salah satu cover tabloid yang telah di sunting dan di layout sedemikian rupa, lalu diperbanyak dan disebarkan oleh lawan-lawan politiknya. “Coba cetak lagi cover tabloid aslinya, ini sudah sangat menyesatkan dan bisa berpengaruh terhadap pendukung-pendukung kita,” kata sahabat saya tersebut. Itulah salah satu gambaran, betapa tensi politik pasti sangat meninggi kala pilkada, terlebih saat kampanye. Sejak pemerintah bersama DPR RI serta disetujui oleh Mahkamah Konstitusi Tahun 2004 silam, kalau perlehatan demokrasi kita akan diselenggarakan secara langsung. Baik pemilihan kepala daerah maupun pemilihan Presiden, tensi politik di tanah air selalu meningkat. Apalagi pas kampanye, jor-joran antar kandidat dalam menjual visi dan misi plus ditambah jargon-jargon yang sangat keras dari masing-masing timsuk, membuat suasana makin gaduh.Politik negative atau lebih di kenal dengan black campagni pasti terjadi. Kalau dalam istilah medsos dinamakan Hoax, atau berita bohong, pasti akan meningkat di saat itu. Pribadi-pribadi kandidat akan menjadi sasaran tembak dari lawan-lawan politik, padahal sudah jelas dalam UU Pilkada atau Pilpres, dilarang menyerang pribadi dan juga menyerang lawan politik diluar konteks visi dan misi. Namun, yang namanya pertarungan, semuanya tak ada yang mau kalah, semuanya hanya ingin siap menang. Serangan ke pribadi kandidat tak terelakan, tinggal Badan Pengawas Pemilu hingga ketingkat bawah saja lagi yang harus mengambil tindakan tegas, misalnya menyelidiki dan juga memberikan sanksi tegas kepada pembuat selebaran gelap yang isinya memojokan calon yang lain.Memang sejak Pilkada dan Pemilu di gelar, dimulai Tahun 2004 silam, belum ada rekomendasi Bawaslu atau Panwaslu yang meminta kandidat tertentu didiskualifikasi, kecuali baru-baru ini di Papua, itu pun bukan perkara pelanggaran, hanya soal ijazah yang diragukan keabsahannya.

Jangan samakan demokrasi kita ala Amerika, di sana yang namanya soal pribadi sudah menjadi konsumsi publik dan bebas menembak pribadi kandidat lain.Tentu masih ingat dua skandal seks yang paling legendaris yang dilakukan dua Presiden AS yang memang terkenal flamboyan dan tampan, yakni Jhon F Kennedy dan Bill Clinton. Walaupun keduanya memiliki istri yang cantik dan rupawan, namun yang namanya godaan wanita tak bisa mereka hindarkan. Yang paling menghebohkan adalah, kala Jhon F Kennedy diberitakan sering berkencan dengan beberapa artis paling top jaman itu, dan bom seks paling terkenal yakni Marilyn Monroe. Bahkan ada laporan, staf gedung putih sering menerima telepon pribadi dari Marylin Monroe, yang isinya ajakan kencan dari artis bom seks tahun 60 an tersebut kepada sang Presiden ganteng itu.Kematian mendadak Marylin Monroe pun sampai kini tak pernah bisa diungkap, selain adanya laporan bahwa yang bersangkutan over dosis obat-obatan terlarang. Skandal Bill Clinton yang paling mengguncangkan Amerika, saat Bill Clinton menjabat Presiden, diketahui kalau sang Presiden juga terlibat skandal dengan staf cantik yang magang Gedung Putih, Monica Lewinsky Tahun 1997. Pengakuan blak-blakan Monica ke publik sontak membuat AS geger, Bill Clinton pun di mosi tak percaya oleh Senat AS (DPR nya AS). Monica sendiri mendadak sangat populer, bahkan kepopulerannya mengalahkan artis-artis top hollywood saat itu. Undangan wawancara bernilai ratusan ribu dollar hingga jutaan dollar mampir ke Monica, dengan harapan dia mau membongkar sedetil-detilnya hubungan nya dengan Presiden Bill Clinton. Bil Clinton sendiri secara ‘jantan’ datang ke sidang Senat AS yang paling menggegerkan sejagat dunia tersebut. Secara blak-blakan, pria yang mampu mengalahkan Presiden Incumbent George Bush Senior Tahun 1992 ini mengakui, memang telah berbuat khilaf dan mengaku menyesal telah melakukan perbuatan tersebut. Secara panjang lebar Bill Clinton berpidato di hadapan ratusan Anggota Senat AS, yang juga secara seksama menyimak pidato pria ini. Setelah itu apa hasilnya, ternyata dengan suara yang lumayan telak, semuanya akhirnya memaklumi skandal tersebut dan mempersilahkan Bill Clinton tetap melanjutkan pemerintahan keduanya sampai habis yang tersisa satu tahun lagi. Inilah dalam sejarah AS, ada presiden yang di sidang namun tak mendapatkan hukuman, dalam artian tidak dimakjulkan, padahal sudah blak-blakan mengakui perbuatannya. Beda dengan Presiden Richard Nixon yang sengaja mengundurkan diri, setelah menjabat Presiden hanya 2 tahun (1972-1974), Nixon mundur karena terbongkarnya skandal Watergate, di mana Nixon mengetahui bahkan menyetujui adanya penyadapan terhadap lawan politiknya dari kandidat Presiden Partai Demokrat. Skandal sempat membuat guncang pemerintahan AS, namun tak lama kemudian setelah Wapres nya di lantik sebagai Presiden, skandal itu akhirnya reda. Walaupun bertahun-tahun kemudian skandal ini tetap menjadi isu yang sangat panas, bahkan sempat di filmkan.

Sejarah Indonesia, tentulah berbeda, siapa sih yang tak tahu sepak terjang mantan Presiden kita, yang juga Proklamator RI, Ir Soekarno. Sejak bercerai dengan dua istri pertamanya, Presiden pertama RI yang terkenal flamboyan ini memiliki banyak istri. Namun, saat itu bagi rakyat Indonesia, tidak mempermasalahkan hal itu, popularitas Soekarno tetap tinggi dan sangat dicintai rakyat Indonesia, pidato-pidato sang Proklamator yang menggelegar selalu menyemangati batin rakyat. Sehingga soal kehidupan pribadi sang Presiden, bagi rakyat kala itu tak masalah. Setelah Soekarno, naiklah Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan kini Jokowi….rata-rata ‘takut’ istri hehehe…. dan tidak ada yang seperti Soekarno. Malah pada Tahun 1974 sempat keluar aturan (PP Nomor 10), yang konon kabarnya atas permintaan Ibu Tien Soeharto, bahwa PNS atau kini ASN tak boleh punya istri bin nyonyah lebih dari satu, kalau ketahuan sanksi pemecatan akan keluar. Uniknya, PP yang dianggap diskriminatif itu, sampai kini belum di cabut dan masih berlaku.

Jadi begitulah, panasnya jelang pilkada dan pilpres, akan reda dengan sendirinya begitu pencoblosan selesai di gelar. Yakni begitu selesai penghitungan suara, di mana yang kalah dan menang akan ketahuan. Sebetulnya rakyat kita dari dulu sudah siap dengan demokrasi, yang tak siap adalah timsuk dan juga kandidat. Saling gugat bahkan menghancurkan fasilitas milik negara akan dlakukan. Tentu masih segar dalam ingatan, di mana kantor Gubernur Kaltara sempat di bakar oleh massa, yang tak puas jagoannya kalah. Dan ada di beberaoa tempat yang suasana sangat mencekam, ketika massa yang tak terima jagoanya kalah melakukan aksi kanibal, yakni merusak dan memukuli massa kandidat lain, karena ketidak puasan dan merasa di curangi. Ang paling berbahaya sebetulnya adalah, kala saling gugat ke MK, namanya juga komisioner MK bukan malaikat, ada permainan kotor yang memenangkan kandidat tertentu. Tertangkapnya mantan Ketua MK, Akil Mukhtar dan salah satu komisioner MK, Patrialis Akbar, membuka mata kita semua, bahwa di MK pun bisa saja terjadi kecurangan. Demikianlah….ê

Berita ini sudah dilihat 64 kali

Continue Reading
Advertisement
1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 356
  • Page views today : 405
  • Total visitors : 545,555
  • Total page view: 1,130,720