Connect with us
Update Now

Curah

Curah, By, H Masruddin: Pemimpin Yang Baik Bukan Ditakuti Tapi Disegani, Nanti Akan Kembali Jadi Rakyat Jelata

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 227,707 kali

“Tunggu saja kalau dia jadi Kepala Daerah, kalian akan paham kenapa orang tersebut tak pernah saya pakai lagi dalam gerbong pemerintahan saya yang kedua”. Itulah ucapan yang selalu tergiang-ngiang di otak saya hingga saat ini, yang diucapkan oleh seorang sahabat saya yang juga mantan kepala daerah. Menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana memang sangat sulit, kalau dasar di batinnya sudah ada kebencian dan dengki, maka saat berkuasa, orang tersebut akan menjadi-jadi dan lupa darimana dia berasal. Tak terhitung pemimpin yang mempunyai topeng tapi hatinya busuk, padahal yang namanya pemimpin, suka tidak suka adalah bapak bangsa, yang harus siap sebagai tempat pengambil keputusan yang tepat bagi rakyatnya. Kanselir Adolf Hitler adalah contoh pemimpin bengis yang mempunyai dendam kesumat dengan kaum Yahudi, jutaan warga Yahudi dibantai tentara Nazi atas perintah Hitler. Pangkalnya hanya sepele, Hitler marah dengan kelakuan etnis Yahudi yang menguasai ekonomi dan mempraktekan rentenir sehingga menyusahkan ekonomi negaranya Jerman, plus Eropa kala itu. Saat saya masih aktif sebagai wartawan dan bertugas di Kaltim, medio 2001-2005 silam, ada satu kepala daerah yang paling disukai warga. Yakni mantan Bupati Kutai Kertanegara, H Syaukani Hasan Rais (1999-2004 dan 2004-2005). Pria yang akrab di sapa pa Kaning ini memang luar biasa, kalau dia ada di kediaman resmi Bupati di Tenggarong plus kantor Bupati, ratusan warga rela antre berjam-jam untuk bertemu pa Kaning dengan berbagai maksud. Yang paling saya ingat adalah, pa Kaning sangat dermawan pada siapapun, tak pernah dia mengatakan tak punya duit. Hebatnya, duit dia kasihkan kisarannya selalu di atas 500 ribu sd 1 juta per orang. Malah ada yang dapat 5 sd 10 juta cash, walaupun orang tersebut tak dia kenal sekalipun. Saking dicintainya, saat pa Kaning harus berhenti karirnya karena tertangkap KPK, ribuan warga Kutai Kertanegara demo saban hari di depan Kantor Bupati Kutai Kertanegara.
Memimpin singkat juga bukan berarti tak mampu berbuat yang terbaik bagi rakyat, saya ingat bacaan tentang sejarah kehidupan Khalifah Umar Bin Abdul Azis, Khalifah muda yang hanya memimpin 2,5 tahun dan hidup sekitar 60 tahun setelah Rasulullah SAW wafat, namun apa yang beliau perbuat luar biasa. Saat beliau di tunjuk menjadi Khalifah pada usia 35 Tahun, Umar Bin Abdul Azis langsung melakukan gebrakan, yang bikin beliau justru dimusuhi keluarganya sendiri (Dinasti Bani Umaiyah), beliau berani mengganti pejabat-pejabat korup dengan pejabat yang bersih, walaupun pejabat tersebut justru bukan orang lain, karena pejabat itu adalah sepupu-sepupu atau paman beliau sendiri. Bukan itu saja, beliau juga berani mencabut hak-hak istimewa keluarga Khalifah terdahulu, yang notabene juga termasuk dalam silsilah keluarganya. Beliau menyama ratakan keluarganya dengan rakyat jelata. Uniknya, sebelum menjabat Khalifah, Umar Bin Abdul Azis adalah seorang ‘Pangeran’ kaya raya, selain beliau merupakan anak mantan Gubernur, beliau sendiri pun juga pernah menjabat sebagai Gubernur di Madinah dan Hejaz pada usia 25 Tahun. Selain itu, Khalifah yang kala itu berkuasa adalah pamannya sendiri, tapi saat menjabat, justru Umar Bin Abdul Azis seorang Khalifah yang sangat miskin. Sebab semua harta benda yang beliau miliki, justru disumbangkan untuk kas negara. Sehingga kala menjabat beliau bukannya menempati istana megah, tapi rumah reyot yang kalau malam hanya diterangi lampu teplok, padahal kala beliau menjabat Khalifah, Islam sedang jaya-jayanya karena wilayah ke khalifahan sudah merambah Eropa, Asia dan Afrika dan memiliki kekayaan yang melimpah ruah, tapi kenapa Khalifahnya justru sangat miskin…Bahkan gajinya sebagai Khalifah yang hanya 200 Dirham/setahun pun semuanya masuk Baitul Mall, intinya ternyata hanya 1, beliau takut kekuasaan itu akan membuat beliau sengsara di akhirat, sebab beliau harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan sang Khalik (Allah SWT), luar biasa bukan….
Saat Khalifah muda ini wafat, banyak pemimpin dunia (Raja dan Kaisar) kala itu terkagum-kagum dengan Umar Bin Abdul Azis, termasuk pejabat di pemerintahannya sendiri, sebab baju yang beliau kala itu pakai justru sangat tak layak, selain warnanya sudah buram, juga banyak tambalan sana sini. Aneh dan luar biasa, kenapa seorang pemimpin negara besar begitu miskinnya hingga pakaianpun mohon maaf beribu maaf, bak orang yang tak mempunyai apa-apa. Padahal asal tahu saja, saat di ba’ait sebagai Khalifah menggantikan Khalifah sebelumnya, yakni Sulaiman Bin Walid, usia Umar Bin Abdul Azis ‘baru’ 35 Tahun, sehingga sangat aneh, seorang Khalifah yang berusia muda bisa melakukan reformasi yang luar biasa, berbeda dengan pendahulunya, yang kebanyakan bergelimang dengan harta dan kemewahan. Bahkan Umar Bin Abdul Azis pun tak mau mewariskan Khalifah pada keturunannya, saat beberapa pihak memintanya menunjuk calon pengganti (Putera Mahkota), seperti yang dilakukan Khalifah terdahulu (dari Dinasti Bani Umaiyah) kala beliau sakit keras, beliau menyerahkan langsung pada mereka, untuk mencari calon Khalifah terbaik menurut mereka sendiri. Secara tak langsung Umar Bin Abdul Azis yang merupakan keturunan langsung dari Khalifah Umar Bin Khattab (salah satu sahabat tercinta Rasulullah SAW), telah memutus mata rantai kepemimpinan yang selalu ditunjuk sejak jaman salah satu kakek buyutnya, yakni Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan. Sebagai urutan, Khalifah Umar Bin Abdul Azis menggantikan Sulaiman Bin Malik, Abdul Malik Bin Marwan naik menggantikan ayahndanya Marwan Bin Hakam. Marwan menggantikan Yazid Bin Muawiyah, sebetulnya Yazid sudah mewariskan jabatan Khalifah pada anaknya Muawiyah II bukan ke Marwan, namun anaknya menolak keras jabatan itu, sehingga sempat terjadi kevakuman pemimpin, yang akhirnya diambil alih Marwan yang masih masuk trah Dinasti Bani Umaiyah. Ayahnda Yazid, Muawiyah Bin Abu Sufyan naik jadi Khalifah setelah ‘mengkudeta’ Ali Bin Abu Thalib (saat itu Muawiyah masih menjabat sebagai Gubernur Syam –Irak), Ali Bin Abu Thalib sebelumnya menggantikan Usman Bin Affan, Usman ditunjuk sebagai Khalifah menggantikan Umar Bin Khattab, Umar jadi Khalifah setelah Abu Bakar As’sidiq wafat. Abu Bakar ditunjuk sebagai Khalifah, setelah Rasulullah SAW wafat. (Sumber : Mengenal Pola Kepemimpinan Umat Dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, Penulis, Khalid Muh. Khalid)
Saat ini sangat langka kita mempunyai pemimpin yang berbuat seperti Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Justru yang kini kita lihat adalah, hampir saban bulan ada Kepala Daerah yang notebene seorang pemimpin di daerah, terjerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena di duga menerima suap atau terlibat korupsi di daerahnya. Padahal kepala daerah dan wakilnya tersebut bukan dipilih melalui DPRD yang selama ini di duga jadi ajang suap menyuap, agar terpilih. Namun, mereka terpilih secara demokratis oleh rakyat langsung, dengan tahapan yang sangat rumit dan melelahkan. Sudah bukan rahasia lagi, penyebabnya hanya satu, biaya kampanye semua calon Pilkada tidak ada yang sedikit, semuanya sangat besar dan wahhh….Walaupun maju via independen, apalagi maju menggunakan parpol, semuanya butuh biaya tak sedikit. Bohong kalau ada yang mengatakan, tidak ada mahar politik. Setidaknya seorang Oesman Sapta Odang yang juga Ketum Partai Hanura tak sungkan dan cukup gentle menyebutkan hal tersebut. Tak tanggung-tanggung selevel Partai Hanura selama masa pilkada serentak 2018 lalu, telah mengumpulkan mahar politik sekitar Rp200 Milyar. “Tapi kami tak pernah memaksa setiap kandidat menyetor, semua berdasarkan kemampuan saja dan tentunya hubungan yang baik,” ungkap salah satu petinggi Partai Hanura. Sekaliber Partai Hanura saja mampu mengumpulkan segitu, bagaimana dengan parpol besar seperti PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PKS, Nasdem dan PPP…??? Tentunya tak ada yang blak-blakan mengaku telah menerima mahar politik. Bahkan beberapa petinggi parpol tersebut mengatakan, kalau ada yang menerima mahar, itu hanya oknum saja. Sedangkan parpol sendiri mengharamkan mahar politik tersebut, tapi faktanya banyaknya calon kepala daerah yang berebut dukungan parpol, menyebabkan politik mahar itu tak terelakan. Saya sendiri dengan Zony Alfianoor sudah membuktikan hal tersebut, kala kami gagal nyalon pilkada tahun ini. ệ

Berita ini sudah dilihat 70 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 2 
  • Visitors today : 378
  • Page views today : 425
  • Total visitors : 545,195
  • Total page view: 1,130,311