Connect with us
Update Now

Ekonomi

Cukai Rokok Kembali Naik, Harga Rokok Melejit Lagi

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 438,207 kali

Cukai rokok naik, otomatis harga rokok juga akan melonjak (dok, tribunnews.com)

BêBASbaru.com, EKONOMI – Pemerintah mengumumkan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 12,5 persen yang berlaku pada 2021. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, kenaikan berlaku pada sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM).

“Sementara itu, untuk industri sigaret kretek tangan (SKT), tarif cukainya tidak berubah. Atau dalam hal ini tidak dinaikkan. Artinya kenaikannya 0 persen,” katanya.

Hal ini, mempertimbangkan bahwa industri SKT adalah yang memiliki tenaga kerja terbesar dibandingkan yang lainnya.

“Dengan komposisi tersebut, maka rata-rata kenaikan tarif cukai adalah sebesar 12,5 persen. Ini dihitung rata-rata tertimbang berdasarkan jumlah produksi dari masing-masing jenis dan golongan,” imbuhnya. Adapun besaran harga jual eceran di pasaran adalah sesuai dengan kenaikan dari tarif masing-masing kelompok, sebagai berikut:

Sigaret Kretek Mesin (SKM)

– SKM 1 : Kenaikan Rp125/Batang atau 16,9 persen (Tarif Cukai 2021 Rp865/Batang)

– SKM IIA : Rp65/Batang atau 13,8 persen (Tarif Cukai 2021 Rp535/Batang)

– SKM IIIB : Rp70/Batang atau 15,4 persen (Tarif Cukai 2021 Rp525/Batang)

Sigaret Putih Mesin (SPM)

– SPM I : Rp145/Batang atau 18,4 persen (Tarif Cukai 2021 Rp935/Batang)

– SPM II A : Rp80/Batang atau 16,5 persen (Tarif Cukai 2021 Rp565/Batang)

– SPM IIIB : Rp470/Batang atau 18,1 persen (Tarif Cukai 2021 Rp555/Batang)

Ketua Bidang Media Center Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Hananto Wibisono, menyayangkan keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok pada 2021. Terutama bagi industri hasil tembakau (IHT) yang memproduksi sigaret putih mesin (SPM) ataupun sigaret kretek mesin (SKM) yang mengalami kenaikan hingga dua digit atau melebihi tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“AMTI menyayangkan kenaikan tarif cukai yang cukup tinggi bagi rokok mesin. Di mana kenaikannya sampai dua digit, ini kan melampaui inflasi dan pertumbuhan ekonomi kita,” ujar dia saat dihubungi Merdeka.com.

Kenaikan Cukai Tingkatkan Rokok Ilegal

Hananto mengatakan, jika pemerintah bersikukuh untuk menaikkan cukai rokok maka otomatis akan berdampak negatif bagi kelangsungan bisnis Industri Hasil Tembakau (IHT) dengan produksi mesin. Mengingat hingga saat ini kondisi daya beli masyarakat masih tertekan akibat dampak pandemi Covid-19.

“Kenaikan ini membuat IHT bermesin cukup terdampak kelangsungan usaha. Karena kan kenaikan tarif CHT 2021 yang cukup tinggi, serta daya beli masih belum tumbuh positif akibat pandemi COVID-19,” terangnya. Selain itu, kenaikan tarif cukai rokok ini juga dikhawatirkan menstimulus pertumbuhan penjualan rokok ilegal. Menyusul harga jual yang ditawarkan lebih murah dibandingkan rokok bercukai.

“Karena selama ini kenaikan cukai yang eksesif akan berbanding lurus dengan peningkatan penjualan rokok ilegal. Sebab yang dicarikan pasti yang murah,” terangnya. Untuk menangani rokok ilegal ini, Menkeu Sri Mulyani mengaku telah melakukan langkah-langkah preventif seperti sosialisasi dan mendirikan Kawasan Industri hasil tembakau. “Saya sudah menginstruksikan kepada dirjen bea dan cukai untuk terus melakukan langkah-langkah menangani peredaran produksi dan peredaran rokok ilegal ini,” imbuhnya.

Sampai dengan 30 November 2020, tercatat jumlah penindakan rokok ilegal sebanyak 8.155 kali. Meningkat 41,23 persen dibanding 2019 dengan rata-rata 25 tangkapan per hari. “Tahun ini meskipun dalam suasana dan situasi pandemi yang mengancam semuanya termasuk jajaran bea dan cukai. Jajaran Bea Cukai tetap meningkatkan jumlah penindakan terhadap peredaran rokok ilegal sebanyak 8.155 kali. Ini upaya yang sangat heroik, saya berterima kasih semua jajaran melakukan ini,” jelasnya.

Adapun jumlah batang rokok yang dari operasi ini mencapai lebih dari 384,5 juta batang senilai Rp 339 miliar. Jumlah ini juga mengalami kenaikan dari tahun 2019 sebanyak 361,2 juta batang senilai Rp 247 miliar. “Semakin tinggi cukai kita naikkan, semakin mereka bersemangat untuk menghasilkan rokok ilegal. Sehingga ini menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.

Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok (GAPPRI), Henry Najoan, menilai tidak wajar keputusan pemerintah menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk produksi sigaret putih mesin (SPM) ataupun sigaret kretek mesin (SKM) Tahun 2021. Mengingat saat ini kemampuan daya beli masyarakat masih tertekan serta kenaikan CHT ini lebih tinggi dari inflasi nasional.

“Tidak wajar kenaikan ini, sebab kinerja industri sedang turun akibat pelemahan daya beli karena ada pandemi dan kenaikan cukai sangat tinggi di tahun 2020 kemarin. Apalagi saat ini angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih minus,” kepada Merdeka.com.

Bos Gappri itu menjelaskan, saat ini industri hasil tembakau (IHT) masih belum mampu menyesuaikan dengan harga jual maksimal akibat kenaikan cukai tahun 2020 sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen. Sementara harga rokok yang ideal yang harus dibayarkan konsumen pada tahun ini seharusnya naik 20 persen, tetapi baru mencapai sekitar 13 persen.

“Artinya masih ada 7 persen untuk mencapai dampak kenaikan tarif 2020. Sehingga, perkumpulan GAPPRI mengaku keberatan dengan kenaikan tarif cukai 2021 yang sangat tinggi tersebut,” terangnya.

Sumber: merdeka.com dan berbagai sumber (dengan judul: Fakta di Balik Harga Rokok Semakin Mahal Tahun Depan)

Berita ini sudah dilihat 3,790 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis