Connect with us
Update Now

Dunia

Cueki Peringatan Amerika, Turki Gempur Kurdi di Suriah

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 127,388 kali

Presiden AS Donald Trump sebut Turki keterlaluan serang Kurdi, tapi Erdogan cuek (dok, CNN Indonesia)


Dunia – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkenal berpendirian teguh dan tak mudah di gertak oleh siapapun, termasuk Amerika Serikat. Tentu publik masih ingat, kala Presiden AS Donald Trump mengganggu ekonomi Turki, karena marah Turki beli senjata milik Rusia. Erdogan malah balik menantang dan melarang peredaran smarphone Iphone milik Apple ini di seluruh Turki termasuk produk-produk AS lainnya, akibatnya AS kelimpungan sendiri. AS pun ngalah, karena teguhnya Ergodan mempertahankan harga diri bangsanya, tak peduli nilai mata uang Turki lira jatuh ketitik terendah. Kini, lagi-lagi Donald Trump nantang Turki bila berani serang Kurdi, lagi-lagi Erdogan tak bergeming, Kurdi tetap dibombardir. Wibawa Trump pun tak ada gunana di mata seorang Erdogan. Peristiwa dunia pekan ini dibuka dengan ancaman Turki menyerang utara Suriah. Diawali dengan pembicaraan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, beberapa hari kemudian rudal-rudal menghujani wilayah Suriah. Sebelum Turki melancarkan serangan udara dan darat pada Rabu (9/10), Trump telah menarik ribuan pasukan mereka dari utara Suriah. Pasukan AS di Suriah untuk memberikan bantuan pelatihan dan strategi kepada SDF (Kekuatan Demokrasi Suriah), kelompok bersenjata di bawah komando YPG (Unit Perlindungan Rakyat) milik Kurdi. Lantas, apa yang diinginkan Turki? Turki menyerang utara Suriah yang berbatasan dengan negara mereka karena dua alasan. Pertama untuk mengusir milisi YPG Kurdi, kedua menciptakan ruang di dalam Suriah untuk zona aman pengungsi Suriah. Nantinya di tempat ini Turki akan menempatkan sekitar 2 juta pengungsi Suriah yang berada di wilayah mereka. Turki saat ini menampung sekitar 3,5 juta pengungsi sejak konflik Suriah pecah 2011, dan mereka mulai kewalahan. Zona aman ini terletak 32 kilometer dari perbatasan Turki, di wilayah seluas 100 kilometer antara kota Ras al Ain dan Tel Abyad. Seluruh pasukan AS telah mengosongkan wilayah yang jadi pusat serangan Turki tersebut. Mengapa Turki ingin usir milisi Kurdi? Turki meyakini YPG adalah bagian dari Partai Pekerja Kurdistan atau PKK, organisasi pemberontak yang dianggap teroris oleh pemerintah Ankara. Turki telah lama khawatir utara Suriah jadi tempat perlindungan PKK dan melancarkan serangan ke wilayah mereka. Sejak menang berperang melawan ISIS, Kurdi menguasai utara Suriah dan membentuk pemerintahannya sendiri dengan bayang-bayang AS. Turki ingin wilayah itu jadi zona aman bagi pengungsi Suriah, keberadaan milisi Kurdi dianggap ancaman. Siapa sih Kurdi ini? Kurdi adalah suku asli Mesopotamia yang tinggal di wilayah tenggara Turki, utara Suriah, utara Iran dan selatan Armenia. Menurut survey Pew Research Center pada 2011, 98 persen Kurdi di Irak beragama Islam Sunni, 2 persen Syiah. Mereka juga memeluk agama Yahudi, Kristen, dan bahkan ateis. Kurdi berbahasa Aramaik yang diyakini bahasa yang digunakan oleh Nabi Isa. Di Suriah, mereka adalah salah satu dari banyak masyarakat yang terlibat dalam perang sipil sejak 2011. Ketika pasukan Bashar Al-Assad hengkang dari wilayah utara yang mayoritas Kurdi, YPG bangkit untuk mempertahankan wilayah tersebut. Dalam perkembangannya, pasukan Kurdi ini jadi mitra AS melawan ISIS.

Pasukan Turki menyerbu Suriah untuk serang pasukan Kurdi (dok, BBC)


Kurdi bekerja sama dengan AS, kok bisa?
Pada awalnya tidak demikian. AS sebelumnya mendukung Free Syrian Army, kelompok pemberontak anti-Assad yang bersengketa dengan Kurdi. Namun ketika pada 2014 ISIS muncul dan menyerang Kobani, kota kekuasaan Kurdi yang berbatasan dengan Turki, AS turun tangan melancarkan serangan udara bekerja sama dengan YPG. Sejak saat itu, YPG bekerja sama dengan AS. YPG dianggap kelompok yang paling serius memerangi ISIS dan tidak terkontaminasi pemahaman radikal ISIS. Akhirnya AS menggelontorkan senjata kepada pasukan Kurdi di utara Suriah. Tidak hanya itu, AS juga menurunkan pasukan khusus untuk memberi pelatihan atau pendampingan strategi. Jet tempur AS juga siap membuka jalan bagi serbuan YPG ke markas ISIS. YPG kemudian membentuk pasukan inti yang disebut Kekuatan Demokrasi Suriah atau SDF. Dalam pertempuran melawan ISIS, Kurdi kehilangan 11 ribu tentaranya. Namun Kurdi jugalah yang berhasil merebut wilayah terakhir di Suriah yang dikuasai ISIS. Saat ini, Kurdi gencar memburu sisa-sisa sel ISIS yang masih hidup, termasuk Abu Bakar Baghdadi, pentolan kelompok itu. Di utara Suriah, Kurdi membentuk pemerintahan sendiri dengan 140 ribu pegawai negeri yang melayani 2 juta rakyat. Semua ini berkat perlindungan dari AS. Bahkan AS akan mempromosikan pemerintahan Kurdi sebagai model pemerintahan Suriah berikutnya. Namun bagi kelompok milisi Islam, pasukan Kurdi dianggap ateis dan separatis yang sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya terhadap rakyat. Menurut Human Right Watch, mereka melakukan penangkapan tanpa hukum, penyiksaan, dan penghilangan paksa. Kalau hubungan AS-Kurdi harmonis, kok Donald Trump tarik pasukan di Suriah? Sejak awal masa pemerintahannya, Donald Trump mengatakan tentara AS terlalu banyak mengurusi perang negara lain. Menghabiskan anggaran saja, kata Trump. Dia ingin agar tentara AS keluar dari Irak dan Suriah. Minggu (6/10) Trump memutuskan menarik pasukan dari wilayah Kurdi setelah berbincang melalui telepon dengan Erdogan. Keputusan Trump ini ditentang oleh politisi Partai Republik yang mengatakan Trump mengabaikan Kurdi. YPG juga mengatakan bahwa AS mengabaikan komitmen keamanan, menyebutnya “menusuk dari belakang”. Komitmen itu adalah janji AS untuk memastikan pasukan Turki tidak masuk ke utara Suriah. Trump memiliki alasan yang dia sampaikan melalui Twitter. Dia mengatakan awalnya AS hanya ingin berada 30 hari di Suriah, namun malah bertahan bertahun-tahun dan terlibat terlalu jauh. Kini, kata dia, AS tidak ingin lagi terlibat perang antara Turki dan Kurdi yang sudah berlangsung bertahun-tahun. “Kurdi berperang bersama kami, tapi kami membayar uang dalam jumlah besar dan perlengkapan. Mereka telah berperang dengan Turki selama puluhan tahun. Saya menahan perang ini selama tiga tahun, tapi ini waktunya kami keluar dari Perang Tak Berujung yang konyol ini,” kata Trump melalui Twitter.
Sumber: Kumparan.com dan berbagai sumber

Pasukan Kurdi yng dilatih AS, kini mereka kelimpungan di serang pasukan Turki (dok, VOA Indonesia)

Berita ini sudah dilihat 25 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

95 − = 90

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 148
  • Page views today : 171
  • Total visitors : 532,155
  • Total page view: 1,116,007