Connect with us
Update Now

Curah

Catatan Jurnalis MRD, Bagian VI: Liput Lakalantas Kapolsek Simpang 4 Tanah Bumbu, Mobil Terbalik di Dekat Lokasi Lakalantas Maut Tersebut…..!!!!

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 129,432 kali

Menjadi seorang jurnalis bukan hanya bermodalkan bisa menulis serta kedekatan dengan narasumber. Tapi juga nyali yang tinggi serta tak kenal waktu dalam mengejar sebuah berita yang akan dimuat di media. Walaupun terlihat mudah, bukan waktu yang singkat, hingga bisa dikategorikan bisa menulis sebuah berita. Berita itu akan aseek di baca, kalau kita sendiri sebagai penulis/wartawan paham dan tau arti apa yang kita tulis. Inilah perjalanan panjang saya sebagai Wartawan dari Tahun 2000 sampai dengan saat ini……
=============================================================
Masih Tahun 2000….

Berita SKH Banjarmasin Post menuliskan sebuah berita yang cukup mengagetkan, yakni Kapolsek Simpang 4, Batulicin (waktu itu masih tergabung dengan Kabupaten Kotabaru, belum pisah), Iptu Pol Ayi Abdulrazak yang baru beberapa bulan bertugas, tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Sebagai orang yang familiar dengan Iptu Ayi, tentu saja saya kaget, sebab Almarhum pernah bertugas sebagai Kapolsek Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalsel, sebelum akhirnya pindah ke Polda Kalsel dan setelah naik pangkat dari Ipda ke Iptu, dia pun lalu ditugaskan ke Polsek Simpang 4, Batulicin. Tewasnya Iptu Ayi memang kami anggap tidaklah terlalu spesial beritanya, namun pada saat itu banyak seklai isu-isu terkait tewasnya kapolsek yang masih berusia muda ini, ada yang bilang saat itu mobil double cabin yang ditumpangi Iptu Ayi bersama 2 anak buahnya sedang mengejar truk bermuatan kayu, terus di lokasi kecelakaan itu, kabarnya memang sangat angker dan sering terjadi kecelakaan maut. “Kamu bertugas liput dan investigasi penyebab kecelakaan tersebut, telusuri apakah benar sering terjadi pungli kepada pemilik truk bermuatan kayu gelondongan, plus liput juga terkait angkernya jalan ditikungan maut tersebut,” kata Pemred, Bung Budhi Rifani. Setelah mendapatkan mandat tersebut, saya pun diberikan surat tugas sekaligus disuruh lapor ke bagian transportasi agar disediakan mobil operasional plus satu sopir. Bersama sopir yang bernama Atai, kami pun berangkat dari Banjarmasin ke Batulicin, menggunakan mobil opearsional kantor merek Toyota Kijang produksi Tahun 1994 . Jarak yang ditempuh tentu saja lumayan jauh, yakni sekitar 6 jam perjalanan. Sampai di sini semua tak ada kendala, kami pun sampai ke TKP, terus melakukan liputan-liputan termasuk harus menyeberang ke Kotabaru, karena harus konfirmasi ke Polres Kotabaru. Selain Atai, ada lagi seorang sopir kantor yang kebetulan lagi tak ada tugas dan pingin ikut dalam perjalanan liputan, sebagai ‘kepala ahuii’ saya ga masalah dia ikut. Selesai tugas di Kotabaru, hari ke 3 kami pun berencana balik ke Banjarmasin, karena tugas liputan sudah kelar. Kami pun tak lagi mampir di Batulicin, karena liputan sudah selesai sehari sebelumnya. Saat berangkat, saya perhatikan sopir terlihat mulai mengantuk. Saya sendiri yang biasanya tak memakai sabuk pengaman, melihat kondisi sopir sudah tak lagi fit seperti kala berangkat, langsung memasang sabuk, sedangkan sopir kantor yang ikut numpang saat menawarkan diri untuk nyopir, di tolak Atai, yang mengaku masih cukup kuat membawa mobil. Kondisi mobil saat dijalankan saya lihat ada diangka 70 sampai dengan 80/Km per jam, kondisi sayapun sama, yakni kelelahan dan ngantuk berat. Jalanan saat itu belumlah seramai sekarang dan kondisi aspal jalananpun mulus tapi tak lebar. Pas dekat tikungan lokasi kecelakaan Iptu Ayi, mobil secara tiba-tiba keluar dari bedeng aspal bagian kiri, Atai secara refliks membanting setir ke kanan, namun karena bedeng jalan lumayan tinggi, mobil langsung terbang dan miring ke kanan, lalu secara tiba-tiba miring lagi ke kiri, karena Atai tak menginjak rem tapi hanya mengendalikan setiran secara panik. Mobil akhirnya ambruk ke kiri dan keluar jalan raya, mungkin nasib kami cukup beruntung saat itu, terbaliknya mobil tersebut adanya di tanah rata, bukan jurang ataupun curam yang dalam. Kalau saja itu yang terjadi, bisa jadi saya tak pernah menulis kisah ini bukan? Pas saya yang duduk di depan atau samping sopir dekat jendela jadi ketumpuk badan Atai yang tak memakai sabuk pengaman. Kondisi mobil terbalik ke bagian kiri, kaca mobil bagian belakang remuk, termasuk kaca mobil dekat saya sendiri. Sedangkan sopir yang ikut numpang, kondisinya pun juga sama, ‘tasimpurut’ di bagian tengah mobil. Begitu mobil terbalik, kesadaran saya langsung pulih seketika, dari awalnya jantung mau copot, kini pikiran saya adalah secepat-cepatnya keluar dari mobil yang terbalik tersebut. Bukan apa-apa, saya teringat film-film action yang saya tonton, yakni mobil terbalik bisa meledak dan terbakar. Saya dorong badan Atai dan keluar secepat-cepatnya dari mobil. Lalu berlari sempoyongan keluar bersama Atai dan juga sopir kantor tadi. Saya sudah tak memperhatikan, apakah saya terluka atau cedera berat, intinya saya harus menjauh dari mobil yang terbalik, untungnya saat kecelakaan, tak ada mobil lain yang lewat atau berselisihan, murni kecelakaan tunggal, karena sopir ngantuk. Begitu berjarak sekitar 20 meteran dari mobil, barulah saya terduduk lemes dan saya melihat-lihat badan saya apakah ada terluka. Syukurlah, hanya dahi yang benjol dan tangan memar, sedangkan anggota tubuh lainnya aman-aman saja. Atai dan sopir kantor pun sama, kami bertiga hanya cedera ringan, tak berselang lama, puluhan warga pun berdatangan dan mereka langsung menolong mengevakuasi mobil yang terbalik, sekaligus bertanya apakah kondisi kami bertiga baik-baik saja. Salah seorang warga langsung menunjuk, tak jauh dari mobil kami terbalik, disanalah dulu mobil mantan Kapolsek Simpang 4 terbalik yang menewaskan sang Kapolsek serta bikin 2 anggota polisi lainnya terluka parah. “Tempat ini terkenal angker dan sering terjadi kecelakaan lalu lintas, baik tabrakan maupun kecelakaan tunggal,” kata warga tadi. Intinya ini tikungan maut dan harap hati-hati kalau lewat jalan ini, sambung warga tersebut, yang membuat saya langsung merinding. Karena kondisi mobil yang rinsek berat, kamipun balik ke Batulicin dulu, untungnya mobil masih bisa di bawa, walaupun pelan-pelan. Kami mampir ke Polsek Simpang 4, polisi yang ada di sana semuanya kaget melihat kondisi mobil kami yang rinsek berat. Setelah saya ceritakan kronologisnya, seorang polisi yang menjadi Plt Kapolsek langsung berseloroh. “Hampir saja kalian yang jadi bahan berita yaaa…niat liput lakalantas mantan Kapolsek kami, malah kalian yang ikut kecelakaan hebat,” katanya sambil tertawa. Saya pun kemudian melaporkan kejadian ini ke hape Budhi Rifani (saat itu hape masih barang mahal lohh, tapi saya udah punya), tentu saja bung Budhi kaget bukan kepalang dan panjang lebar bertanya kondisi kami. Saya mohon agar kejadian ini jangan dimuat ke koran, malu kaleee ahh, wartawan masuk jadi berita. Budhi hanya tertawa dan mengiyakan permintaan saya. Dia menyuruh saya nginap saja dulu sambil perbaiki mobil dan disarankan naik taksi balik ke Banjarmasin kalau perbaikannya lama. Namun, Atai yang masih shock mengaku mobil bisa saja di bawa pelan-pelan balik ke Banjarmasin dan digantikan sopir kantor yang ikut numpang tadi. Plt Kapolsek di Simpang 4 hanya berpesan agar kami hati-hati dan diapun berbaik hati dengan memberi kami uang BBM, sebesar Rp250 ribu, mayannn sihh nilai segitu Tahun 2000 lohh, sebab harga BBM jenis premium hanya Rp3.500 an per liter. Saya tak berani menelepon istri yang lagi hamil tua anak pertama kami (kini si gadis sudah kuliah di Banjarmasin). Sebab saya tahu, pasti nanti dia luar biasa gelisah dan takutnya berpengaruh ke janin yang dia kandung. Gara-gara kejadian itulah, sampai sekarang saya tak berani lagi tidur lelap di mobil. Paling hanya tidur-tidur ayam saja, tapi bila ‘taranjah lubang’ langsung terbangun, intinya saya kena fobia. Sampai di kantor Bpost Group, tentu saja heboh semua, melihat kondisi mobil ringsek berat. Beberapa rekan wartawan membujuk saya agar mau beritanya dimuat, saya tetap melarangnya, bukan apa-apa selain istri, pasti orang tua dan keluarga saya yang ada di Tabalong akan kaget dan shock, kalau tau saya terlibat kecelakaan saat bertugas. Begitu sampai di rumah dan berkumpul dengan istri, barulah saya ceritakan kejadian itu, seperti yang saya duga, istri kaget bukan kepalang dan dia mengaku memang gelisah tanpa sebab selama 2 harian ini. “Rupanya ini jawabannya, untung kamu tak apa-apa,” katanya sambil geleng-geleng kepala dan berucap syukur saya hanya cedera ringan. Jadi ini juga pelajaran bagi siapapun, yakni kalau istri gelisah dan kita ada di luar rumah, batin istri akan berkata, pasti ada apa-apanya dengan kita, jangan sepelekan batin istri yang setia di rumah menunggu kita. Apalagi kalau punya bini diluaran hehehe….ế
Berikutnya: Pindah Ke Balikpapan, Liput Kasus yang Menghebohkan, yakni Dugaan Mantan Model Cantik Membuang dan Membakar Bayi Hasil Hubungan Gelap….Akrab Dengan Bupati Kutim, Kukar dan walkot Balikpapan!!!!
Penulis: H. MASRUDDIN (MRD), Wartawan Bpost Group 2000-2005, Pimpred Tabloid BeBASbaru-BeBASbaru.com

Berita ini sudah dilihat 85 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 1 
  • Visitors today : 337
  • Page views today : 380
  • Total visitors : 532,344
  • Total page view: 1,116,216