Connect with us
Update Now

Curah

Catatan Jurnalis MRD, Bagian IX: Bertemu Bupati Kutai Timur Termuda Se Indonesia Mahyudin, yang Ternyata Alumni SMU 2 Tanjung, Kini Wakil Ketua DPD RI

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 462,042 kali

Menjadi seorang jurnalis bukan hanya bermodalkan bisa menulis serta kedekatan dengan narasumber. Tapi juga nyali yang tinggi serta tak kenal waktu dalam mengejar sebuah berita yang akan dimuat di media. Walaupun terlihat mudah, bukan waktu yang singkat, hingga bisa dikategorikan bisa menulis sebuah berita. Berita itu akan aseek di baca, kalau kita sendiri sebagai penulis/wartawan paham dan tau arti apa yang kita tulis. Inilah perjalanan panjang saya sebagai Wartawan dari Tahun 2000 sampai dengan saat ini……
==========================

Tahun 2005….

Handphone Nokia saya berdering, saya tak kenal nomornya namun kalau dilihat dari deretan nomor telepon tersebut, ini dari Kalsel. Begitu saya angkat…ada suara berat dan rasa-rasanya saya kenal suara itu, tapi lupa siapa. “Halo, ini saya pa Juhrani Asham, ini Masruddin kah,” begitu suara telepon di seberang sana. Saya langsung kaget dan mengiyakan dengan tergopoh-gopoh, jujur dengan Bapak Juhrani Asham, saya sudah anggap orang tua sendiri dan sangat hormat dengan beliau. Walaupun saat di SMU 2 Tanjung (Smada), pernah dua kali kena gampar beliau, gara-gara suka membolos. Tapi saya malah bersyukur, sebab kalau beliau tak keras, mungkin saya sudah drop out dari sekolah. “Begini Din, Bapak dan rombongan dari SMU 2 Tanjung mau ke Sangatta, Kutai Timur (Kutim), kita mau bertemu Bupati Kutai Timur pa Mahyudin, murid bapak dulu, alumni Smada juga, aturkan yaa dan temani kami ke sana,” kata pa Juhrani Asham. Saya langsung bilang siap dan pa Juhrani Asham juga minta saya duluan ke Sangatta, untuk memberitahu Bupati Mahyudin. Singkat kata, pas juga kebetulan saya ada liputan di Samarinda, saya pun duluan meluncur ke Sangatta yang jaraknya 6-7 jam perjalanan darat dari Samarinda, saat itu jalan dari Bontang-Sangatta rusak parah. Ternyata kedatangan rombongan para guru dan beberapa murid ke Kutim sudah ditunggu-tunggu Bupati Mahyudin. Sebelumnya saya sudah kenal baik dengan Bupati Mahyudin, tak lama setelah beliau dilantik sebagai Bupati menggantikan Awang Faroek Ishak (mantan Gubernur Kaltim dan kini Anggota DPR RI F-Nasdem). Awang Faroek sendiri mundur sebagai Bupati karena ingin nyalon sebagai Gubernur Kaltim, tapi akhirnya kalah saat pemilihan dilakukan oleh DPRD Propinsi Kaltim, kalah dari calon petahana, Suwarna Abdul Fatah. Sore hari menjelang malam, datanglah rombongan Smada dan saya Bersama Bupati Mahyudin sudah menunggu-nunggu sejak sore hari di rumah pribadi Mahyudin. Boleh dibilang, sosok Mahyudin salah satu tokoh politik yang saya idola’i…sebab usia muda sudah menjadi seorang Bupati, saat itu usianya baru 32 Tahun. Inilah juga salah satu yang menyebabkan saya jatuh cinta dengan dunia politik. Sebelum jadi Bupati, Mahyudin sudah ketiban berkah, kala Kutai Timur pisah dengan Kutai Kertanegara, saat Pemilu multi partai Tahun 1999, Mahyudin berhasil menjadi Anggota DPRD Kutai Timur pada Tahun 1999 dan menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPRD dari F-Golkar. Tahun 2000 saat Pilkada Kutai Timur pertama kalinya dan masih dipilih DPRD, Mahyudin dilamar Awang Faroek Ishak, untuk jadi Calon Wakil Bupati Kutai Timur Periode 2001-2006. Tak dikira pasangan Awang Faroek dan Mahyudin sukses menang sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur pertama setelah dimekarkan. Hanya 2 tahunan jadi Bupati Kutai Timur, awal Tahun 2003 Awang Faroek berambisi ingin jadi Gubernur Kaltim menantang petahana Suwarna AF. Oleh DPRD Propinsi Kaltim saat itu, dibuatlah aturan (padahal di daerah lain belum ada aturan itu lhoo…), siapapun Bupati atau Wakil Bupati yang ingin maju sebagai Calon Gubernur Kaltim, wajib mundur dari jabatannya. Sebulan sebelum pemilihan Gubernur Kaltim, Awang Faroek pun rela melepaskan jabatannya sebagai Bupati Kutim dan Mahyudin pun dilantik sebagai Bupati definitif sampai dengan Tahun 2006. Uniknya, Mahyudin tidak memiliki Wakil Bupati, selama memimpin Kutim, Mahyudin anteng-anteng saja sendirian. “Nanggung, lagian tanpa Wabup, tak masalah saya memimpin Kutai Timur,” kata Mahyudin enteng saat itu. Kembali ke kunjungan rombongan para guru Smada, setelah rame ‘bakesahan’ soal masalalu kala jadi murid di Smada, para guru kemudian meminta Mahyudin jadi sponsor untuk adakan Reuni Akbar SMU 2 Tanjung. Karena SMU 2 belum pernah adakan reuni selama ini. “Kita tentu bangga, ada salah satu alumni nya yang kini jadi Bupati,” kata pa Juhrani Asham. Uniknya, tanpa saya duga, para guru dan Mahyudin sepakat meminta saya jadi Ketua Panitia Reuni Akbar tersebut. Kagetlah saya karena diberi kepercayaan begitu besar dan tentu saja saya awalnya ragu, tapi pa Juhrani Asham dan para guru lainnya memberi saya semangat. Bahkan Mahyudin juga tanpa ragu meminta saya yang atur segalanya di acara reuni tersebut. “Harus semangat dinda, gapapa kamu izin dulu sama kantor kamu di Banjarmasin, untuk adakan reuni akbar tersebut, soal biaya tak usah ada iuran atau minta-minta ke sana kemari, saya semua yang tanggung plus kelak saya bawa artis di acara tersebut,” ucap Mahyudin. Alasan pa Juhrani Asham minta saya jadi Ketua Reuni Akbar SMU 2 Tanjung, karena saya dianggap dekat dengan Mahyudin sedangkan alumni lainnya tak ada yang sedekat saya. “Agar nyaman koordinasi sekaligus soal pembiayaan tadi,” ujar pa Juhrani Asham sambal tertawa. Mahyudin juga pesan, reuni akbar wajib diadakan di Gedung Sarabakawa Tanjung, sebab Mahyudin punya historis dengan tempat itu, kala Rumah Sakit Tanjung masih ada di sana (RS Tanjung kemudian pindah ke Tanjung Tengah dan eks RS di rubah jadi Gedung Saraba Kawa dan kini pindah lagi ke Maburai, Murung Pudak). Namun pelaksanaan reuni tak bisa serta merta dilakukan, mengingat tak lama kemudian Mahyudin maju Pilkada Kutai Timur dan beliau mengalami kekalahan melawan mantan Bupati Kutim, Awang Faroek Ishak yang balik lagi sebagai cabup di sana. Setahun menjelang Pemilu 2009, tepatnya Tahun 2008, Reuni Akbar SMU 2 Tanjung akhirnya terlaksana. Saat itu saya sudah keluar dari Banjarmasin Post Group dan memiliki koran sendiri, yakni Tabloid BeBASbaru dan saya juga sudah tinggal di Tabalong, tidak lagi di Balikpapan. Luar biasa meriahnya acara tersebut, apalagi bintang tamunya adalah Imelda, mantan Bintang KDI (Kontes Dangdut Indonesia), saat itu memang tayangan KDI di TPI (kini MNC TV) lagi hits-hitsnya dan sukai rakyat Indonesia. Juga acara ini tak di batasi, seluruh Angkatan alumni SMU 2 Tanjung di undang. Saat acara berlangsung, turunlah hujan dengan lebatnya, dari info yang saya terima, sangat banyak para alumni SMU 2 Tanjung yang kesal tak bisa datang, karena baju basah kehujanan kala menuju Gedung Saraba Kawa Tanjung. “Malu kami baju basah datang ke acara, padahal jauh-jauh hari sudah niat ke sana, untuk ketemuan alumni lainnya,” ungkap seorang alumni pada saya dan ngaku saat itu berteduh di Terminal Mabu’un menunggu hujan reda, tapi tak reda-reda juga sampai tengah malam. Bahkan banyak alumni sekolah lain yang iri dan bilang, baru kali ini reuni akbar dihadiri artis ibukota di Tanjung, hebatnya gratis lagi. “Kalau saya tahu begini meriahnya acara ini, nyesel saya hanya bawa satu artis, harusnya 3 orang artis ibukota saya boyong sekalian,” kata Mahyudin saat pidato di acara reuni tersebut. Setahun kemudian, Mahyudin sukses melangkah ke Senayan jadi Anggota DPR RI sedangkan saya sendiri, sukses sebagai Anggota DPRD Kabupaten Tabalong, namun dunia jurnalistik tetap tak bisa lepas.****
Penulis: H. MASRUDDIN (MRD), Wartawan Bpost Group 2000-2005, Pimpred Tabloid BeBASbaru-BeBASbaru.com

H. Masruddin – MRD- (Pemred Tabloid BeBASbaru-bebasbaru.com)

Berita ini sudah dilihat 136 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.