Connect with us
Update Now

Balangan

Cabai Dibudidayakan, Karena Berharga Mahal Di Balangan

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 246,252 kali

Balangan- Walaupun pedas, tapi sangat di gemari, walaupun mahal tetap di beli, itulah cabai atau Urang Hulu Sungai bilang lumbuk. Harga cabai dipasaran cukup tinggi sehingga banyak masyarakat baik perorangan maupun kelompok membudidayakan cabai. Hasil panen juga bagus sehingga memberikan keuntungan cukup besar. Warga Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan, kurun waktu setahun belakangan mulai ramai membudidayakan tanaman cabai, menyusul kian membaiknya harga pelengkap makanan itu di pasaran. Salah satu pembudidaya cabai Judin di Paringin, ibukota Kabupaten Balanga, Jumat mengatakan, usaha budidaya komoditas sayur-sayuran itu cukup menghasilkan sehingga banyak masyarakat menggelutinya. “Harga cabai dipasaran cukup tinggi sehingga banyak masyarakat baik perorangan maupun kelompok membudidayakan cabai. Hasil panen juga bagus sehingga memberikan keuntungan cukup besar,” ujarnya. Menurut dia, usaha budidaya cabai muncul setelah harga karet yang merupakan mata pencarian pokok di kawasan itu terus anjlok sehingga menyadap karet dinilai tak lagi memberikan kesejahteraan. Dijelaskan, kondisi itu membuat banyak lahan tidur yang sebelumnya tidak digarap dan dibiarkan tanpa perhatian diolah maksimal dan berubah menjadi ladang cabai, dan hasilnya lumayan. “Harga cabai jenis tertentu yang disebut “lombok tiung” tercatat Rp35 ribu per kilogram, kalau sehari bisa panen 4 kilogram saja maka seorang petani sudah bisa mengantongi uang Rp140 ribu per hari,” ungkapnya. Dibandingkan menyadap karet yang mampu menghasilkan hasil sadapan 10 kilogram, sedangkan harga karet jenis lum Rp5.000,- per kilogram maka hasil penyadap karet hanya Rp50 ribu per hari. “Melihat perbandingan itu, maka warga ramai-ramai beralih usaha menanam cabai, bahkan banyak lahan karet yang sebenarnya masih cukup produktif ditebang dan disulap menjadi ladang cabai,” ucapnya. Dikatakan, harga cabai sekarang terbilang murah, karena sebelumnya sampai menembus Rp80 ribu per kilogram dan berapa pun cabai yang diproduksi petani setempat selalu dibeli pembeli. “Pembeli datang ke petani berasal dari berbagai daerah baik datang dari ibukota kabupaten yakni Balangan, Kota Banjarmasin, bahkan ada yang datang dari provinsi tetangga yakni Kaltim dan Kalteng,” ujarnya. Ditambahkan, petani berharap adanya penyuluhan dan pembinaan bagaimana cara budidaya cabai yang benar, karena selama ini mereka hanya sebisanya saja sehingga hasilnya kurang maksimal. “Harapan kami, dinas dan instansi terkait memberikan penyuluhan dan pembinaan sehingga petani semakin tahu dan bisa membudidayakan cabai agar produksinya semakin banyak,” katanya.
Sumber: AntaraNews.com

Berita ini sudah dilihat 88 kali

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 2 
  • Visitors today : 309
  • Page views today : 360
  • Total visitors : 547,022
  • Total page view: 1,132,372