Connect with us
Update Now

Banjarmasin

Berita Covid-19 Banjarmasin: Tak Relevan Penetapan Zona Karena Penduduknya Padat dan Mobilitas Tinggi, Bagian 2

Diterbitkan

pada

Banjarmasin sudah ditetapkan sebaga zona merah oleh pemerintah pusat (dok, media indonesia)

BêBASbaru.com, BANJARMASIN – Pada banyak daerah penggunaan zonasi sampai saat ini masih dilakukan dan istilah zona hijau berdasarkan pedoman Navigasi Zona Resiko yang dikeluarkan Gugus Tugas Covid 19 dirasa masih relevan dengan istilah terkendali. Secara sederhananya zona hijau berarti dalam suatu wilayah tidak pernah ada kasus (perawan) atau pernah ada kasus namun tidak terjadi penambahan kasus baru dalam 4 Minggu terakhir dan angka kesembuhan 100 persen. “Perlu diwaspadai bahwa status zona disuatu wilayah bersifat dinamis sangat tergantung dari mobilitas penduduk didalam dan antar wilayah, mengingat transmisi Covid 19 melekat pada populasi bukan pada wilayahnya,” urainya. Pergerakan angka statistik juga patut menjadi perhatian mengingat penetapan zona berpatokan pada pergerakan angka-angka. Bila pada suatu daerah mengurangi upaya pelacakan maka akan terjadi penurunan kasus, bahkan kasus Covid 19 bisa menjadi nol atau tidak ditemukan lagi bila di wilayah tersebut tidak lagi dilakukan pelacakan. Dalam dunia riset dan statistik hal ini seringkali disebut sebagai false negatif atau negatif palsu. Sangat berbahaya. Penetapan zonasi berdasarkan kelurahan menjadi kurang relevan ketika orang yg terpapar Covid 19 jumlahnya besar dan mobilitas penduduk antar kelurahan tidak dapat dipantau dan tidak dapat dibatasi. Tidak mengherankan bila suatu kelurahan yang sudah ditetapkan hijau tiba-tiba berubah menjadi merah kembali. Faktor pergerakan penduduk dan ancaman negatif palsu patut diwaspadai. Dijelaskan dia, bahwa penetapan zona dirasa masih efektif bila diterapkan pada wilayah yang lebih luas seperti kota/kabupaten dan provinsi dengan catatan pergerakan penduduk dan transmisi bisa terpantau. Bila kondisi ideal tercapai dan zonasi hijau sudah tidak lagi mudah bergeser maka patutlah suatu wilayah dikatakan terkendali. Kesimpulannya dipelukan perlu kehati-hatian , kecermatan, berbagai diskusi dan keterlibatan para ahli dari berbagai disiplin ilmu guna mencapai kondisi terkendali. Adapun IBG Dharma Putra, dr, MKM selaku Epidemiolog Lapangan, berbeda pendapat. Dijelaskan dia bahwa suatu wilayah yang membaik secara faktual, dan hal tersebut, akan terlihat secara nyata dari data, sekaligus bisa membuktikan bahwa wilayahnya berkinerja survailan yang optimal, disertai dengan kinerja pelayanan kesehatan yang juga optimal, berhak mendapat predikat wilayah zona hijau. “Secara prinsip, zona hijau dapat dicapai jika penambahan Angka Kesakitan di wilayah itu, terkontrol disertai dengan Angka Kematian akibat covid 19, yang terus menurun. Sebuah pertanda bahwa wilayah tersebut dapat mengelola covid 19 dengan kapasitas penemuan dan pengobatan yang sudah optimal,” urainya. Dengan demikian, kata Dharma, pencapaian zona hijau sangat tergantung dari adanya peran serta masyarakat dalam penghentian penularan, dan upaya pemerintah untuk penemuan kasus secara dini dan kecepatan penanganan serta pemberian pengobatan segera pada setiap kasus yang ditemukan. Predikat zona hijau, sambungnya, pada hakekatnya adalah bentuk penghargaan yang diberikan oleh pemerintah atas peran serta serta kegotong royongan masyarakat di sebuah wilayah administrasi tertentu. Sebuah pemberian semangat untuk tetap bergotong royong, dan bertahan dalam aktivitas produktif tetapi aman dari covid 19. Latar prinsip seperti itu, berakibat pada adanya kewajiban prinsipil kewilayahan untuk segera melakukan self assesment terhadap wilayahnya pada berbagai jenjang hirarki kewilayahan, dan segera memberi predikat zona hijau bagi wilayah yang datanya membuktikan kriteria kriteria tersebut diatas. “Jika tak memungkinkan di tingkat kabupaten kota, bisa dipersempit ke wilayah kecamatan, atau kelurahan bahkan ke tingkat RT. Dengan demikian kinerja penanggulangan yang sudah berhasil di tingkat terkecil tidak tersandera serta luput dari penghargaan karena wilayah besarnya belum menunjukkan prestasi. Kalau perlu, tak ada salahnya, jika dikeluarkan predikat zona hijau untuk komplek perumahan yang sudah memenuhi syarat secara nyata, ” sebutnya. Karena itu, sambung Dharma, hendaknya hargai kegotong royongan serta peran serta masyarakat, karena penghargaan yang tulus akan menambah semangat untuk bertahan pada protokol penanggulangan dan semangat untuk menjadi teladan bagi kelompok masyarakat yang lain. “Selajutnya diperlukan pendampingan bagi tumbuhnya pemberdayaan masyarakat. Pendampingan agar masyarakat tahu, mau serta mampu meraih dan mempertahankan predikat zona hijau bagi wilatahnya. Masyarakat yang sudah mendapat penghargaan karena perannya yang baik tersebut, perlu diingatkan bahwa predikat itu bukan diberikan dengan sembarangan tapi dengan penilaian ketat, sehingga tak berlaku selamanya tapi dapat berubah sesuai kenyataan di wilayah mereka,” bebernya. Bahkan menurutnya, kiat-kiat untuk mempertahankan predikat prestisius, sebagai wilayah zona hijau, harusnya dilakukan oleh setiap anggota masyarakat di wilayah tersebut. “Sebuah kiat sederhana, pakai masker jika berada diluar rumah, jangan lupa mandi dan keramas, setiap kali datang ke rumah dan dalam pergaulan sosial perhatikan ventilasi tempat bersosialisasi, semakin singkat waktunya semakin baik dan jaga jarak aman penularan. Keteladanan sangat diperlukan saat ini, dan gerakan penghargaan kecil berupa pemberian predikat zona hijau akan sangat berpotensi, memperluas jangkauan wilayah predikat zona hijau karena masyarakat akan berlomba menggapainya. Menjadi teladan adalah harga diri masyarakat. Lakukan di tingkat wilayah terkecil, di tingkat RT, dan jika memang nyatanya begitu, nobatkanlah sebagai RT berpredikat zona hijau. Kalaulah besoknya menjadi merah, harga diri seluruh warga RT, akan berupaya keras untuk mengapainya lagi. Dan ikutan dari upaya tersebut adalah tumbuhnya kegotong royongan serta peran serta masyarakat untuk mengikuti protokol penanggulangan covid dengan benar serta konsisten, ” urainya. Adapun juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel, HM Muslim guna penanganan Covid-19 di kalsel ini sejatinya sudah harus terfokus kepada wilayah yang zona merah. “Karena yang lebih penting penanganan di zona merah itu menjadi prioritas kini Banjarmasin,” runutnya.

sumber : banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Ahli Beda Pendapat Soal Zona hijau, Jubir GGTP Kalsel: Fokuskan Penanganan Zona Merah)

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 39
  • Page views today : 46
  • Total visitors : 504,076
  • Total page view: 1,081,681