Connect with us
Update Now

Banjarmasin

Berita Covid-19 Banjarmasin : Anggapan Salah Warga, PSBB Berakhir Korona Aman!

Diterbitkan

pada

Aparat masih berikan edukasi agar warga Kota Banjarmasin terus pakai masker (dok, republika)

BêBASbaru.com, BANJARMASIN – Bila dipandang dari segi aspek kesehatan masyarakat, apa yang diterapkan pemerintah saat ini justru dianggap menimbulkan kebingungan. Akademisi dari Universitas Islam Kalimantan (UNISKA), Meilya Farika Indah menjelaskan bahwa hal itu bermuara ketika kebijakan PSBB berakhir. Diganti dengan konsep Kenormalan Baru atau New Normal. “Masyarakat jadi beranggapan bahwa ketika sudah tidak PSBB lagi, dan sekarang sudah new normal artinya tidak masalah untuk keluar rumah. Sudah bisa beraktivitas di mana saja dan kapan saja,” ucap Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat tersebut. Hal itu lantas menjadi-jadi. Masyarakat dipandang cenderung sudah tidak terlalu khawatir dan takut terhadap berbagai zona penularan. Apakah itu zona merah, hitam, dan lain sebagainya. Seolah pagebluk Covid-19 sudah berlalu, ketika new normal disosialisasikan. Meilya menekankan bahwa tentu tidak hanya pemerintah yang harus bertindak. Namun semua kalangan. Mulai dari media informasi, yang diharapkan terus memberitakan edukasi mengenai pentingnya protokol kesehatan saat new normal benar-benar diterapkan. Hingga memperbaiki anggapan tentang sudah tidak lagi PSBB ahirnya bisa bebas keluar rumah. “PSBB selesai bukan berarti kembali seperti normal biasannya. Dengan new normal, itu ada ketentuan yang wajib ditaati,” tekannya. Meilya mengingatkan bahwa peran masyarakat sangatlah penting. Misalnya, menahan diri untuk tinggal di rumah sangat diutamakan saat ini. Alias hanya keluar rumah jika sangat perlu. Bila melihat data kasus Covid-19 yang semakin memburuk, Meilya menyarankan pemerintah harus melakukan tindakan yang tegas. Seperti apa? Dimulai dengan kembali menerapkan aturan-aturan ketat. Terutama di tempat yang sulit untuk menjaga jarak. Kemudian terkait penerapan protokol kesehatannya. Seperti cuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, dan lain sebagainya. “Semuanya itu diawasi dengan benar. Misalnya, sebelum memasuki suatu tempat, mereka mencuci tangan. Jika tidak, tak boleh diperkenankan masuk. Menggunakan masker dengan benar, pastikan bukan di dagu, di kepala, dan sebagainya,” ucapnya. Meliya tidak memungkiri memang banyak masyarakat yang mengeluh. Mengenakan masker tidak nyaman, hingga membuat sesak. Namun menurutnya, hal itu juga terjadi ketika diwajibkannya para pengendara dahulu menggunakan helm SNI. “Kalau terbiasa, hal ini tentu menjadi kebutuhan. Kan aneh rasanya kalau berkendara tidak mengenakan helm. Begitu juga masker, tinggal memilih masker yang bahannya nyaman dan karetnya tidak terlalu sesak,” sarannya. Meilya menilai menjaga jarak paling bermasalah di Kalsel. Menurutnya, pemerintah perlu membuat aturan. Mulai dari jumlah orang dalam satu ruangan, dan diawasi oleh pemilik tempat yang misalnya sedang dikunjungi. “Bagi pemilik yang melanggar, ditindak oleh pemerintah. Pemerintah juga berhak menentukan, tempat-tempat yang bisa beroperasi dalam masa-masa new normal secara bertahap. New normal itu harus didefinisikan dengan new norm, aturan yang baru atau norma baru,” bebernya. Menurut Meilya, pemerintah daerah tentu dapat mengambil contoh di daerah luar. Misalnya, di kota Malang. ketika ada masyarakat yang tidak menggunakan masker keluar rumah, maka akan dikenakan sanksi. Di setiap RT/RW juga dilibatkan menjadi garda terdepan di masyarakat. “RT/RW dapat menerapkan jam keluar masuk kompleks atau gang. Dan selalu mengimbau warganya agar hanya di rumah saja, dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungannya,” sarannya. Meilya berkeyakinan jika setiap RT/RW bisa seperti itu, warga Banjarmasin yang dikenal dengan rasa sosial tinggi akan malu ketika melanggar aturan. Dengan semangat bersama, semangat gotong royong kemudian mengambil peranan masing-masing, penyebaran virus dapat ditekan. “Selain semua itu, masyarakat juga harus dipahamkan mengenai kapasitas layanan kesehatan kita yang terbatas, dan lain sebagainya,” ucapnya. Lantas, sampai kapan pembiasaan tersebut terus dijalani? Meilya mengatakan semua itu harus dilakukan hingga pemerintah pusat menghapus status pandemi ini sebagai darurat nasional.(war/dye/ema)

Sumber: kalsel.prokal.co dan berbagai sumber

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 128
  • Page views today : 143
  • Total visitors : 505,475
  • Total page view: 1,083,353