Connect with us
Update Now

Headline

Awalnya Karena Diabetis, Ternyata Fedrik Adhar Jaksa Penuntut di Kasus Novel Baswedan Meninggal Akibat Covid-19

Diterbitkan

pada

Berita ini sudah dilihat 421,836 kali

Fedrik Adhar ternyata kena Covid-19, selain penyakit penyertanya yakni gula (dok, pikiran rakyat)

BêBASbaru.com, INVESTIGASI – Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Robertino Fedrik Adhar Syaripuddin meninggal dunia. Fedrik Adhar merupakan JPU yang menuntut dua terdakwa pelaku penyiraman penyidik KPK Novel Baswedan dengan tuntutan satu tahun penjara. Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengatakan, Fedrik Adhar tutup usia setelah terpapar Covid-19. “Benar (meninggal karena Covid-19),” ujar Jaksa Agung ST Burhanuddin saat dikonfirmasi, Senin (17/8/2020) sore. Diketahui, selain karena Covid-19, Fedrik juga meninggal karena mengalami komplikasi penyakit gula. Ia meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro, Jakarta, pada pukul 11.00 WIB.  merupakan JPU yang menuntut dua terdakwa pelaku penyiraman penyidik KPK Novel Baswedan. Sekdar kilas balik, Fedrik Adhar sebagai JPU menuntut dua pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, yakni Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis, hukuman satu tahun penjara. Sejumlah pihak pun menyesalkan tuntutan tersebut karena dianggap terlalu ringan. Adapun, Fedrik mengawali karir sebagai jaksa dari Kejaksaan Negeri Palembang, Sumatera Selatan pada 2013 lalu. Kasus Novel Baswedan menyita perhatian, setelah diketahui tuntutan jaksa kepada para terdakwa penyiram air keras hanya 1 tahun penjara. Sosok jaksa penuntut satu tahun penjara bagi terdakwa kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan salah satunya adalah jaksa RF. Dilansir dari Tribunnews, jika menengok ke belakangan, rekam jejak RF sempat menuai kontroversi. Penelusuran Tribunnews, tahun 2016 silam, yang bersangkutan ‎dengan lantang berteriak menyuarakan rapatkan barisan dan membela adanya dugaan pelanggaran prosedur yang dilakukan penyidik KPK saat menggeledah Kejati Jawa Barat. Ini terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada dua jaksa di Kejati Jabar terkait suap korupsi dana BPJS oleh Bupati Subang, Ujang Suhandi. RF menyayangkan penggeledahan yang tidak ada surat perintah dan berita acara. RF berkicau di akun Facebooknya banyak kasus korupsi lainnya dengan nilai kerugian negara jauh lebih besar triliunan rupiah tapi tidak “tersenggol” oleh KPK justrus kasus kecil diprioritaskan. “Kemana century, blbi, hambalang e ktp,, yang ratusan triliun, ngapain Operasi Tangkap Tangan kecil2, kalau jenderal bilang lawan, kita suarakan leebih keras perlawanan dan rapatkan barisan,” tulis RF yang dipostingnya Selasa (12/4/2016). Kicauanya ditulis dengan tagar safe Jaksa‎. Hal lainnya, RF juga mengundang kontroversi dalam menjalankan tugasnya karena menuntut bandar narkoba hanya dengan pidana 18 bulan penjara. Menyikapi ini, ‎Komisioner Komisi Kejaksaan RI (KKRI) penanggung jawab bidang laporan dan pengaduan masyarakat, Ibnu Mazjah menyatakan bakal menelurusi hal tersebut. “Tentu akan kami telusuri, adanya informasi itu bisa menjadi rujukan bagi KKRI melakukan tindaklanjut pengawasan dengan melakukan pemeriksaan atau inspeksi kasus,” tutur Ibnu Mazjah saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (13/6/2020) silam.

Sumber: kompas.com, banjarmasinpost.co.id dan berbagai sumber (dengan judul: Fedrik Adhar, Jaksa Penuntut di Kasus Novel Baswedan Meninggal Akibat Covid-19)

Berita ini sudah dilihat 834 kali

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

DUNIA