Connect with us
Update Now

Investigasi

Antisipasi Rush Akibat Pandemi Korona, Bank Kini Mulai Batasi Penarikan

Diterbitkan

pada

Ilustrasi, bank sudah ada yang batasi penarikan dana dalam jumlah besar (dok, AJNN)

BêBASbaru.com, INVESTIGASI – Belum lama ini, sebuah bank swasta dikabarkan membatasi tarik dana tabungan nasabah. Hal ini diduga terjadi karena likuiditas bank mulai mengetat akibat program restrukturisasi kredit nasabah di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Sebelumnya, suspensi OJK terhadap sebuah manajer investasi membuat tujuh produk reksadana dari sebuah perusahaan jasa keuangan juga sempat dibekukan sementara. Hal ini membuat pemilik produk terkait tidak bisa melakukan pembelian dan pengalihan (switching). Kedua hal ini mungkin sempat membuat masyarakat bertanya, lantas di mana tempat menyimpan dana yang aman di tengah pandemi? Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Agustina Fitria mengatakan penyimpanan dana sebaiknya dibagi menjadi tiga. Pertama, dana operasional untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk belanja keperluan rumah, transportasi, makan, hingga tagihan bulanan. “Untuk operasional bulanan bisa disimpan di tabungan agar mudah diakses,” ucap Agustina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6). Hanya saja, mengingat sempat ada masalah penarikan dana tabungan yang bisa terjadi pada siapa saja, ia menyarankan dana yang disimpan di tabungan setara tiga bulan kebutuhan hidup saja. Jumlah itu menurutnya ideal karena tidak begitu tinggi dan rendah. “Jika menyimpan uang di bank, sebaiknya memilih bank yang sehat. Itu bisa dilihat dari kriteria kesehatan bank yang dipublikasikan di BI misalnya,” ujarnya. Ia juga mengingatkan nasabah sebenarnya mendapat jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atas tabungan di bank. Hal ini bisa menjadi asuransi bila tabungan tiba-tiba mengalami masalah. Selain di tabungan, dana operasional bisa dipegang secara tunai. Namun, Agustina menyarankan agar jumlahnya tidak terlalu besar karena berisiko bila Anda tidak memiliki tempat penyimpanan yang aman. “Bisa disimpan di safe deposit box sebagai salah satu solusi, tapi daya beli uang tersebut turun karena inflasi,” ungkapnya. Kedua, keperluan jangka pendek. Untuk keperluan ini, taruhlah dana di instrumen yang mudah diakses dan dicairkan. Misalnya, deposito dan reksadana pasar uang. Selain itu, kedua instrumen ini juga punya kelebihan memberikan imbal hasil yang cukup menguntungkan, meski tenor investasi terbilang singkat. Imbal hasil yang diberikan bisa berkisar 3 persen sampai 10 persen, tergantung tenornya. Tenor yang ada biasanya satu bulan, tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun. Nah, agar dana aman di deposito dan reksadana, pilihlah bank dan manajer investasi (MI) serta produk reksadana yang tepat. “Terkadang memang investor pemula atau awam kesulitan melihat kredibilitas MI. Caranya, bisa melihat pertumbuhan produk dan konsistensi kinerja semua reksadana yang dikelola (MI), bukan hanya satu reksadana tertentu,” jelasnya. “Patut diwaspadai MI yang memberikan jaminan hasil investasi tertentu. Investasi pada dasarnya tidak boleh hanya ingin besar hasilnya, kecuali produk jelas misalnya reksadana terproteksi,” sambungnya. Ketiga, untuk keperluan jangka panjang, simpanlah dana di instrumen yang sesuai profil risiko Anda. Misalnya, bila Anda ingin menjajal risiko pertumbuhan ganda, maka bisa menginvestasikan dana di saham. Bila ingin yang lebih aman dengan imbal hasil pasti, cobalah obligasi pemerintah, dana pensiun, hingga reksadana pendapatan tetap. Agustina memberi gambaran bila ingin menyimpan dana sekitar dua sampai tiga tahun, maka lebih baik di Surat Berharga Negara (SBN) ritel karena imbal hasil cukup besar dan pasti, serta risikonya ditanggung pemerintah. Instrumen lain yang juga bisa untuk menyimpan dana dan mempertahankan daya beli misalnya emas atau logam mulia, namun pastikan penyimpanannya aman. “Logam mulia lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan tiga sampai lima tahun mendatang,” tuturnya. Mohammad Andoko, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning lainnya menambahkan poin penting pada pengamanan simpanan di instrumen mana pun sebenarnya adalah mengetahui perkembangan informasi dari masing-masing sektor. “Misalnya ketika tabungan tidak bisa diambil, lalu ada reksadana yang di-suspend, disetop, itu semua bisa diikuti perkembangannya, ratingnya, dan biasanya dana tetap terjamin,” kata Andoko. Menurutnya, untuk dana harian, mau tak mau uang tetap harus disimpan di bank karena lebih aman daripada memegang uang tunai. Sebab di luar faktor keamanan, memegang uang tunai juga berisiko boros dan mudah tergoda untuk digunakan. “Mungkin di era pandemi ini ada anggapan cash is the king, tapi kan tidak tahu juga berapa lama dampaknya (pandemi). Justru jangan pegang uang cash karena akan kehilangan kesempatan untuk investasikan dana. Cukup dana darurat yang dipegang,” pungkasnya.

Sumber: cnn Indonesia.com dan berbagai sumber

Download Tabloid Bebasbaru

Berita Olahraga

SPACE IKLAN

Selebritis

SPACE IKLAN

DUNIA

Gaya Hidup

Arsip

Statistik Pengunjung

  • Users online: 0 
  • Visitors today : 45
  • Page views today : 53
  • Total visitors : 505,392
  • Total page view: 1,083,263