Home / Lensa / Bolehkah Sombong Terhadap Orang Sombong dan Apakah Itu Sedekah?
Ilustrasi, Floyd Mayweater dengan sombongnya perliatkan duit dolar nya -kekayaannya- (dok, The Sun)

Bolehkah Sombong Terhadap Orang Sombong dan Apakah Itu Sedekah?

LENSA – Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering berhadapan dengan orang-orang yang angkuh dan sombong, baik melalui ucapan ataupun lagak gayanya. Bisa saja dari kalangan pejabat, orang kaya atau bahkan orang miskin. Bagaimana sikap kita, apakah menghindarinya, menghormatinya, menyapanya, ataukah malah kita lebih bersikap sombong dari orang tersebut? Ada seorang yang bertanya soal ini, yakni: “Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, “Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.” Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh.

Ing Ratri (aku**@***.com)

Jawaban:
Bismillah. Teks kalimatnya adalah,

التكبر على المتكبر صدقة
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”

Dalam keterangan yang lain,
التكبر على المتكبر حسنة
“Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik.”

Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, Kasyful Khafa, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, “Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.” Penulis kitab Bariqah Mahmudiyah mengatakan, “Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.’ Imam Az-Zuhri mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.’ Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.’” Sementara, ulama yang lain mengatakan, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Sumber: www.KonsultasiSyariah.com dan berbagai sumber

Tentang Admin

Berita Lain

Khutbah Terakhir Rasulullah SAW Kepada Umat Manusia Hingga Akhir Jaman, Yang Membuat Para Sahabat Menangis

BêBASbaru, LENSA – Menjelang wafatnya Rasulullah SAW, di Padang Arafah ditempat inilah Nabi Muhammad berkhutbah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *