Home / Lensa / Tercantum di Tiga Kitab Suci, Kelelawar Dimuliakan oleh Allah dan Dilarang Dibunuh Serta Dimakan, Kelelawar Mirip Manusia, Melahirkan dan Menyusui
Kelelawar jangan dibunuh apalagi dimakan sebab dimuliakan Allah SWT, karena mereka mirip manusia, punya hidung, telinga, melahirkan dan menyusui (dok,suara.com)

Tercantum di Tiga Kitab Suci, Kelelawar Dimuliakan oleh Allah dan Dilarang Dibunuh Serta Dimakan, Kelelawar Mirip Manusia, Melahirkan dan Menyusui

LENSA – Kelelawar sudah dikisahkan di Taurat, Injil, dan Quran . Mahluk itu dimuliakan oleh Allah juga diharamkan oleh Sang Khalik untuk dibunuh dan dimakan. Pada hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu Umar, diceritakan bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam melarang membunuh kelelawar. Salah satu alasannya karena saat Baitul Maqdis dibakar, kelelawar merupakan hewan yang berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberi kekuatan bisa menenggelamkan para pembakar, sehingga Masjidil Aqsha tidak jadi terbakar. Dalam kitab As-Sunan Ash-Shaghir, juz 4, halaman 59 diungkapkan, “Janganlah kalian membunuh katak. Sesungguhnya kicauannya adalah tasbih. Dan janganlah kalian membunuh kelelawar. Sebab, ketika Baitul Maqdis dibakar, kelelawar itu berdoa kepada Allah ‘Ya Tuhan kami, kuasakan kami atas lautan sehingga aku bisa menenggelamkan mereka’.” Masih dalam kitab yang sama, dalam hadits lain riwayat Aisyah disebutkan bahwa kelelawar melalui sayapnya ikut berusaha memadamkan api saat Baitul Maqdis dibakar. Bunyi hadist tersebut adalah; “Diriwayatkan dari Aisyah tentang kelelawar. Dia adalah hewan yang memadamkan api dengan sayap-sayapnya pada saat Baitul Maqdis dibakar.” Para ulama Syafi’iyyah berpandangan, dilarang membunuh suatu hewan, baik di dalam atau pun di luar tanah haram (Makkah-Madinah). Ini juga menunjukkan bahwa hara pula mengonsumsinya. Logikanya, hewan tersebut tidak mungkin dimakan sebelum terlebih dahulu membunuhnya. Bila membunuh saja diharamkan, tentu memakannya pun haram. Rasululullah melarang membunuh kelelawar, sehingga hukum yang dihasilkan adalah kelelawar haram dibunuh dan juga haram dimakan. Secara tegas, Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ menyatakan: “Kelelawar hukumnya haram secara meyakinkan,” (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, (Dârul Fikr), juz 9, halaman 22). Hal senada diungkap dalam kitab Hasyiyata Qalyubi wa Umairah sebagai berikut: “Dikatakan Al-Akhuthaf untuk jenis binatang kelelawar, yaitu Al-Wathwhat hukumnya juga haram,” (Syekh Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatâ Qalyûbî wa Umairah, juz 4, halaman 261). Demikian juga As-Syarbini menyatakan, Imam Nawawi dan Rafi’i sepakat atas keharaman kelelawar. Baik di tanah haram atau di tanah halal, kelelawar haram dimakan. Begitu pula bagi orang yang sedang ihram juga dilarang membunuh hewan satu ini. Kaidah kedua imam tersebut, apabila hewan yang haram dimakan dibunuh orang yang berihram atau di tanah haram tidak akan terkena denda, maka hal tersebut tidak berlaku bagi kelelawar. Kelelawar walaupun haram, bagi yang membunuhnya saat ihram, terkena denda. “Kelelawar, juga disebut wathwath, Syekhain yakin hukumnya haram beserta keyakinan mereka pada hal-hal yang diharamkan pada saat ihram dengan membayar dendanya apabila dibunuh oleh orang yang berihram atau di tanah haram walaupun secara mendasar menurut keduanya bahwa hewan yang tidak halal dimakan, tidak terkena denda apabila dibunuh. Pendapat yang dibuat pegangan sebagaimana dalam keterangan ini. (Muhammad As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, [Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1994], juz 6, halaman 153]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum membunuh dan memakan kelelawar adalah haram. Hal ini juga berlaku baik bagi orang yang sedang ihram ataupun sedang tidak berihram. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Isa pernah ditantang oleh Bani Israil untuk membuktikan ke Rasulannya. Beliau kemudian mengambil seonggok tanah untuk dibentuk agar mirip dengan seekor burung. Ada pun burung yang dimaksud adalah kelelawar. Kemudian onggokan itu terbang awang- awang setelah Nabi Isa meniupnya. Ketika kelelawar itu masih dalam bentuk onggokan tanah, memang Nabi Isa yang meniup, akan tetapi yang menciptakan dan memberikan ruh kepada kelelawar itu adalah Allah SWT. Apa yang dilakukan Nabi Isa Alaihissam tersebut tercantum dalam Surat Surat Ali Imran ayat 49, yang artinya: “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”. Kenapa dipilih kelelawar sebagai pembuktian? Karena kelelawar adalah jenis burung yang paling sempurna penciptaannya. Dan dipilih kelelawar yang dihidupkan adalah agar lebih cepat diakui kemukjizatannya, karena kelelawar itu memiliki payudara, gigi, dan telinga yang tajam, dapat terbang meski tidak memiliki bulu, memiliki kantung kelenjar yang bisa mengeluarkan susu. Bahkan kelelawar dari jenis betina pun berhaidh seperti manusia, dan juga dapat melahirkan tidak seperti burung lain yang bertelur. Wallahu a’lam bish-shawabi.
Sumber: mosliemchoice.com dan berbagai sumber

Tentang Admin

Berita Lain

Fanatik Penyebab Penyakit Jiwa

LENSA – “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *