Home / Lensa / Akhir Zaman Ditandai Kehancuran Institusi Ekonomi Kapitalis Ribawiyah, Cina Sudah Mulai Rasakan Dampaknya
PM India Narendra Modi dan PM Tiongkok Xi Jinping sama-sama bantai umat Islam di negaranya, kini keduanya di balas Allah SWT, negaranya terserang wabah penyakit dan khusus india negara ini makin bertambah penduduk miskin plus krisis sosial (dok, Media India)

Akhir Zaman Ditandai Kehancuran Institusi Ekonomi Kapitalis Ribawiyah, Cina Sudah Mulai Rasakan Dampaknya

LENSA – Hanya sebulan, Cina atau Tiongkok sudah habiskan kas negara mencapai Rp1000 Trilyun, gara-gara negaranya terserang virus corona. Cina kabarnya makin panik, setelah kini hampir seluruh negara di dunia menolak atau mempending kerjasama semua sector dengan negara yang berpenduduk 1,2 milyar lebih ini. Kalau ini terus berlangsung hingga berbulan-bulan, maka dapat dipastikan Cina benar-benar akan bangkrut. Krisis luar biasa pasti akan melanda Cina, salah-salah negeri komunis ini akan ambruk dan tinggal sejarah. Negara Timur Tengah juga dalam ancaman, gara-gara selama ini mengandalkan minyak dan gas bumi, hampir separu negara di dunia sudah mencanangkan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar fosil atau BBM dan wajib memakai kendaraan listrik. Akibatnya sudah pasti harga minyak bakal anjlok dan negara penghasil minyak ikutan bangkrut, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Iran dan lain-lain. Dalam era globalisasi, sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara sempurna. Kondisi pada saat keluarnya Al-Mahdi adalah fase dimulainya kehancuran ekonomi Barat yang bercorak kapitalis, di mana sistem ekonomi ribawiyah merupakan salah satu pilar penting bagi tegaknya sistem ekonomi ini. Dalam era globalisasi, sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara sempurna. Masyarakat dunia melakukan transaksi dengan bank-bank ribawiyah; sistem perbankan ribawiyah di setiap negara melakukan transaksi dengan bank sentral negara tersebut maupun dengan institusi-institusi ribawiyah di luar negeri. Bank sentral negara tersebut melakukan pinjam-meminjam dengan institusi-institusi ribawiyah internasional, semacam Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, maupun pinjaman antar-negara secara ribawiyah. Di antara bentuk saling ketergantungan yang sangat intensif terlihat dari beroperasi bank-bank asing di suatu negara hingga ke sejumlah provinsi di negara tersebut, baik berupa bank dengan seratus persen modal asing maupun bank dalam bentuk usaha patungan dengan pengusaha lokal. Di dalam keragaman bentuk saling ketergantungan ini terlihat dari bank-bank suatu negara melakukan bisnis reksadana dengan portofolio berupa saham, obligasi, dan berbagai mata dagangan lainnya dari negara-negara lainnya. Misalnya, sebuah bank di Italia menjual surat berharga pemerintah Argentina, sebuah bank di ibu kota provinsi di Indonesia menjual saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham New York, dan lain sebagainya. Tampak bahwa hal itu semakin menyempurnakan saling ketergantungan dalam sistem ekonomi ribawiyah, sedang posisi Amerika dalam hal ini adalah sebagai penggerak sistem perekonomian dunia. Praktis pertumbuhan perekonomian dunia bergerak sesuai dengan kebijakan yang diambil Gubernur Bank Sentral Amerika. Maka, ketika gempa moneter raksasa benar-benar terjadi dan meruntuhkan Amerika sebagai pilar penyangga jejaring sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif global, segenap bentuk kekayaan yang tersangkut pada jejaring tersebut hingga ke pelosok bumi yang paling terpencil pun secara teknis akan ikut hancur tersapu gelombang tsunami moneter dengan suatu kehancuran yang sempurna! Hasil akhirnya adalah kemelaratan dan kehebohan luar biasa yang menghampiri segenap negeri di dunia tanpa terkecuali. Orang-orang yang paling beruntung ketika itu adalah mereka yang terbebas dari sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif, atau mereka yang tidak memiliki apa-apa; tidak ada kegelisahan, tidak ada kesedihan. Hubungan dengan kemunculan Al-Mahdi adalah bahwa fase kehancuran ekonomi kapitalis ribawiyah ini akan mengawali kehancuran dunia secara umum. Dapat kita bayangkan jika akhirnya masyarakat seluruh dunia harus kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok karena tidak beroperasinya pabrik-pabrik yang memproduksi seluruh kebutuhan mereka (disebabkan runtuhnya fondasi ekonomi mereka), maka jalan menuju kemiskinan dan kehancuran total telah terbentang di depan mata. Ketika pabrik-pabrik industri, mesin-mesin produksi, teknologi transportasi, termasuk mal-mal dan pusat perbelanjaan yang harus berhenti beroperasi karena berhentinya kuncuran kredit disebabkan kehancuran pusat ekonomi dunia, maka secara otomatis akan berhenti pula roda perekonomian rakyat. Manusia tidak lagi mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sebab, mereka selama ini telah terkondisi untuk mengonsumsi sesuatu yang bersifat instan, dan mereka harus kembali lagi ke cara-cara tradisional dan manual untuk memenuhi kebutuhan mereka. Padahal lingkungan mereka sudah tidak mendukung untuk tersedianya beragam kebutuhan itu. Begitulah masa-masa sulit yang akan dihadapi oleh manusia sebelum kemunculan Dajjal.
Sumber: hidatullah.com dan berbagai sumber

Tentang Admin

Berita Lain

Fanatik Penyebab Penyakit Jiwa

LENSA – “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *