Home / Mahakarya / Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 45)
Suling Emas

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 45)

Biografi Kho Ping Hoo:
Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan. Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Lahir: 17 Agustus 1926, Kabupaten Sragen. Dalam sejarah cerita silat, barangkali tidak ada karya yang bertahan puluhan tahun seperti Ping Hoo. Namanya lebih terkenal ketimbang para sastrawan. Cerita-cerita Kho Ping Hoo banyak dihiasi kata mutiara maupun hikmah positif yang bisa dipetik pembaca tanpa harus menganalisisnya secara rumit. Ia memiliki prinsip yang banyak dianut oleh orang dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha dan politikus, “Seorang musuh terlalu banyak buat saya, tetapi sejuta sahabat masih kurang.” Meski sudah dipanggil Sang Pencipta pada hari Jumat, 22 Juli 1994, Kho Ping Hoo masih dikenang oleh jutaan penggemarnya dari semua generasi hingga saat ini.

Sinopsis:
“Inilah lanjutan dari serial komik legendaris Bu Kek Siansu, yang nantinya bakal berkembang menjadi Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll…silahkan terus dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya…”

Ilustrasi, Bayisan sangat tergila-gila dengan adik tirinya, Puteri Tayami (dok, Cersil)

“Krakkkk!” Batang pohon itu tidak dapat menahan hantaman tangan Kwee Seng yang amat ampuh, bagian yang dihantam pecah remuk dan patah, membuat pohon itu tumbang seketika ! “Eh, apa itu…?” terdengar dari jauh suara Salinga ketika mendengar suara keras robohnya batang pohon. “Aiihhh, Kanda… celaka…!” Disusul jeritan Tayami karena pada saat itu, perahu mereka tiba-tiba terguling membalik dan mereka berdua terlempar ke dalam air ! Perahu itu meluncur cepat dalam keadaan tertelungkup menuju ke tengah dan diseret arus air menjauhi mereka. dua orang itu megap-megap, meronta-ronta dengan kaki tangan mereka, akan tetapi karena tidak pandai berenang, banyak sudah air yang memasuki mulut. “Tolonggg…!” Tayami menjerit akan tetapi suaranya terhenti oleh air yang memasuki hidung dan mulut. “Dinda…!” “Kanda Salinga… ooohh…!” Mereka saling menangkap tangan, akan tetapi justeru ini membuat gerakan mereka mengurang dan tubuh mereka tenggelam kembali. Cepat-cepat mereka menendang-nendang dengan kaki dan muncul lagi gelagapan. Pada saat itu, entah darimana datangnya, sebatang pohon meluncur di dekat mereka. “Dinda Tayami, cepat pegang ini…!” Salinga berseru girang. Tak lama kemudian mereka sudah berhasil menangkap batang pohon itu. Dengan bantuan Salinga, Tayami sudah duduk di atas batang pohon sambil muntahkan air yang telah banyak diminumnya. Salinga sendiri memeluk batang pohon itu agar jangan bergulingan. Pakaian mereka basah kuyup, rambut mereka terurai, akan tetapi untuk sementara mereka selamat. “Kanda… mengapa perahu kita terguling..?” “Entahlah, tidak perlu dipikirkan sekarang. Paling penting kita harus dapat mendayung batang ini ke pinggir…” Dengan susah payah Salinga berusaha menggerak-gerakkan batang itu ke pinggir akan tetapi karena tidak didayung, batang pohon itu bergerak perlahan menurutkan arus sungai. Pada saat itu, terdengar suara “huuukk.. huuukkk…!” dan menyambarlah seekor burung yang matanya berkilauan seperti mata kucing. “Ihhh… burung hantu…!” seru Tayami dengan perasaan ngeri. Sudah menjadi kepercayaan di daerah itu bahwa burung hantu ini pembawa berita kematian, maka siapa bertemu dengannya tentu akan kematian seorang keluarga. Ia… membawa bungkusan…!” seru pula Salinga terheran-heran. Betul saja. Kuku burung itu mencengkram tali di mana tergantung sebuah bungkusan kecil. Anehnya, begitu melihat mereka, burung itu menyambar turun dan sayapnya hampir saja mengenai muka Tayami kalau saja gadis ini tidak cepat-cepat mengelak sambil berseru jijik. Akan tetapi burung itu bukannya menyerang, melainkan melepas tali dan bungkusan itu jatuhlah ke depan Tayami, tepat di atas batang pohon! “Ada tulisannya!” Tayami berseru heran melihat tulisan huruf-huruf besar dan jelas di atas bungkusan. Kalau huruf-huruf itu tidak jelas tentu takkan dapat terbaca di bawah sinar bulan. LEKAS PULANG DAN ISI BUNGKUSAN INI PAKAI SEBAGAI BEDAK BARU MALAPETAKA DAPAT DICEGAH.” Tayami membaca dengan keras sehingga terdengar pula oleh Salinga. “Apa artinya ini?” “Entahlah, Dinda. Semua terjadi serba aneh. Perahu kita terguling. Kita hampir celaka lalu tiba-tiba ada batang pohon ini yang menolong kita. Lalu muncul burung hantu yang memberi bungkusan dan surat. Ihhh, benar-benar menyeramkan sekali. Kausimpan bungkusan itu, mari bantu aku mendayung batang pohon itu dengan kaki agar dapat minggir.” Mereka segera bekerja dan betul saja, sedikit demi sedikit batang kayu itu bergerak ke pinggir. Sementara itu, tiga orang Khitan yang telah selesai melakukan pekerjaan jahat itu, cepat-cepat menyelam dan berenang ke pinggir kembali. Akan tetapi begitu mereka muncul di pinggir dan meloncat ke darat, mereka kaget sekali karena di depan mereka telah berdiri seorang yang terkekeh-kekeh dan ketika mereka mengenal laki-laki gila yang pagi tadi mengacaukan perlombaan, mereka menjadi ngeri. “Heh-heh-heh, setelah membunuh lalu lari, ya?” Kwee Seng menegur. Tentu saja mereka bertiga terkejut bukan main. Pekerjaan mereka tadi mencelakai dan membunuh puteri mahkota adalah perbuatan yang amat berbahaya. Kalau diketahui orang, tentu mereka akan celaka, maka sekarang mendengar bahwa jembel gila ini sudah melihat perbuatan mereka, serentak dua orang yang bertubuh tinggi besar itu mencabut golok dan menerjang Kwee Seng ! Cepat gerakan mereka ini, dan cepat pula hasil ayunan golok mereka, yaitu kepala mereka sendiri terbelah oleh golok masing-masing sampai hampir menjadi dua dan tubuh mereka masuk ke dalam sungai dan hanyut. Hanya dengan sentilan jari tangannya Kwee Seng telah membuat golok yang menyerangnya itu membalik dan “makan tuan”. Sejenak ia memandang dua buah mayat yang menggantikan tempat Tayami dan Salinga itu, kemudian sekali berkelebat ia telah meloncat dan menangkap tengkuk orang ke tiga yang melarikan diri ketakutan. “Ke mana kau hendak lari?” “Am… ampun… hamba tahu pekerjaan itu terkutuk… akan tetapi hamba terpaksa… kalau tidak mau melakukan tentu akan dibunuh…” “Hemm, aku mendengar tadi keraguan melakukan perbuatan itu. Siapa yang memaksamu melakukannya?” “Panglima Muda Bayisan…” “Mengapa ? Mengapa Puteri Mahkota dan Salinga akan dibunuh?” “Hamba… hamba tidak tahu… mungkin karena cemburu setelah … Sribaginda menerima Salinga menjadi calon mantu…” “Hemmm…” Kwee Seng mengangguk-angguk, kemudian tangannya bergerak cepat, tahu-tahu orang Khitan itu telah roboh tertotok, lumpuh seluruh tubuhnya. Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dalam kegelapan malam. Setelah berhasil mendarat, Salinga dan Tayami segera lari ke arah kuda mereka, meloncat ke punggung kuda setelah melepaskan kendali dari pohon, lalu membalapkan kuda kembali ke kota raja. “Aku merasa kuatir sekali akan terjadi sesuatu di kota raja.” Kata Salinga. Akan tetapi ketika mereka tiba di kota raja, keadaan sunyi saja dan biasa, tidak ada tanda-tanda terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena pakaian mereka masih basah dan hati mereka masih tegang oleh peristiwa tadi, mereka langsung melarikan kuda sampai depan istana. “Kau pulanglah, Kanda Salinga. Urusan tadi tak perlu kau ceritakan siapapun juga. Biar besok kita bertemu lagi dan kita bicarakan peristiwa itu!” Salinga mengangguk. Tentu saja ia tidak mau bicara dengan siapa juga tentang peristiwa itu sebelum ia dapat membuka rahasianya. Peristiwa yang penuh keanehan. Akan tetapi sebelum ia memutar kudanya pergi, ia berkata. “Adinda, sebaiknya kau jangan tergesa-gesa memakai isi bungkusan sebagai bedak. Lebih baik suruh selidiki dulu oleh ahli obat.” Tayami mengangguk dan mereka pun berpisah. Tayami menyerahkan kuda kepada pelayan lalu berlari-lari memasuki istana, langsung ke kamarnya untuk bertukar pakaian. Sedangkan Salinga melarikan kuda menuju ke rumahnya. Setelah para pelayan sibuk membuka pakaian basah sang puteri cantik ini, menyusuti tubuhnya sampai kering kemudian menggantikan pakaian bersih, lalu hendak menyanggul rambut yang belum kering benar itu, Tayami mengusir mereka, “Keluarlah kalian semua, aku ingin mengaso seorang diri.” Sambil tersenyum-senyum maklum para pelayan itu berlari-lari ke luar dan Tayami duduk di atas pembaringan dengan rambut terurai, seluruh tubuh terasa segar karena habis digosoki. Bungkusan yang dijatuhkan burung hantu tadi ia buka perlahan-lahan. Ternyata isinya adalah sejenis obat bubuk yang halus sekali berwarna kuning. Begitu dibuka tercium bau yang amat harum oleh Tayami. Ganda harum ini dan tulisan yang menganjurkan agar ia memakainya sebagai bedak untuk mencegah malapetaka, membuat tangannya gatal-gatal untuk memakainya. Akan tetapi pesan kekasihnya Salinga, bergema di telinganya. Salinga benar juga, pikirnya. Aku tidak tahu siapa yang memberi bedak ini, dan mencegah malapetaka apakah ? Di sini aman saja. Puteri Tayami bimbang antara kepercayaannya akan tahyul dan pesan kekasihnya. Bungkusannya yang sudah terbuka itu ia taruh di atas meja dekat pembaringan. Gadis puteri raja ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada dua pasang mata mengintai, penuh kekaguman. Mana ia bisa tahu kalau dua orang yang mengintainya itu datang seperti setan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun ketika kaki mereka menginjak genteng ? Dan dua pasang mata itu memandang kagum ke dalam kamar pun tak dapat dipersalahkan. Siapa orangnya, apalagi kalau ia laki-laki, takkan terpesona dan kaagum melihat gadis puteri mahkota yang cantik jelita itu ? Melihat di ditukar pakaiannya oleh para dayang keraton, kemudian kini dengan pakaian tidur yang longgar dan tipis, duduk termenung seorang diri di dalam kamar yang indah. Kwee Seng yang datang terlebih dulu karena sejak tadi ia dari jauh mengikuti puteri ini, bersembunyi di sudut atas, maka ia pun tahu akan kedatangan sesosok bayangan yang gesit dan ringan sekali, bayangan yang membuka genting dan mengintai ke dalam pula, seperti dia ! Berdebar hatinya ketika mengenal orang itu, yang bukan lain adalah Bayisan, orang yang dicarinya untuk dibalas kecurangannya beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi karena ia pun terpesona oleh keindahan di dalam kamar itu, Kwee Seng tidak segera turun tangan, ingin melihat dulu apa yang dikehendaki Bayisan. Pula, melihat kecantikan Puteri Khitan, teringatlah ia kepada Liu Lu Sian dan Ang-siauw-hwa, membuatnya termenung dan penyakitnya hampir kumat! Tayami yang sedang termenung di dalam kamarnya, mengenang peristiwa di sungai tadi. Teringat akan kekasihnya, ia tersenyum. Akan tetapi ketika ia teringat akan peristiwa yang amat berbahaya, ia bergidik, lalu ia memandang bubukan obat. Apakah maksudnya pengirim obat ini ? Benarkah burung itu bukan burung biasa ? Ataukah disuruh oleh orang sakti ? Sungguh harum baunya bedak ini. Dan kalau memang bedak ini dipakai untuk menolak malapetaka, apa salahnya ? Tentu pengirimannya berniat baik. Tidak akan ada salahnya kalau aku pakai sedikit untuk coba-coba. Berpikir demikian, jari-jari tangan yang halus runcing itu bergerak mendekati kertas, hendak menjumput bedak. Akan tetapi tiba-tiba gerakannya tertahan karena melihat bayangan berkelebat, api lilin bergoyang-goyang. Cepat Tayami menggunakan tangan kiri merapatkan bajunya yang terbuka lebar sambil membalikkan tubuhnya. Terbelalak matanya saking kaget melihat bahwa di dalam kamar itu telah berdiri seorang laki-laki yang tersenyum-senyum, Bayisan ! “Kanda Panglima Bayisan…! Apa artinya ini ? Mengapa kau masuk ke sini secara begini?” tayami bertanya gagap. Bayisan memandang dengan sinar mata seakan-akan hendak menelan bulat-bulat gadis di depannya, mulutnya menyeringai lalu terdengar ia berkata, suaranya gemetar penuh perasaan, “Alangkah indahnya rambutmu, Tayami… alangkah cantik engkau…., bisa gila aku karena berahi melihatmu….” Tiba-tiba Tayami bangkit dan matanya memancarkan sinar kemerahan. “Kanda Panglima ! Apakah kau sudah gila ? Berani kau bersikap kurang ajar seperti ini di depanku ? Pergi kau keluar ! Kau tahu apa yang akan kauhadapi kalau kuadukan kekurangajaranmu ini kepada ayah!” Bayisan tertawa mengejek. “Huh ! Ayahmu juga ayahku. Biarlah ia tahu asal malam ini kau sudah menjadi milikku. Tayami, kita sama-sama memiliki darah Raja Khitan, kau lebih patut menjadi isteriku daripada menjadi isteri seorang berdarah seorang berdarah pelayan rendah. Tayami, kekasihku, marilah… aku sudah terlalu lama menahan rindu berahiku…!” Bayisan melangkah maju, kedua tangannya dikembangkan seperti akan memeluk, mataya yang agak kemerahan karena nafsu itu disipitkan, mulutnya menyeringai.”Bayisan, berhenti ! Kalau tidak, sekali aku menjerit kamar ini akan penuh pelayan dan penjaga. Ke mana hendak kau taruh mukamu?” “Heh-heh-heh, menjeritlah manis. Para pelayan dan penjaga sudah kutidurkan pulas dengan totokan-totokanku yang lihai. Lebih baik kau menurut saja kepadaku, kau layani cinta kasihku dengan suka rela karena… karena terhadapmu aku tidak suka menggunakan kekerasan.” mengingat akan kemungkinan ucapan Bayisan yang memang ia tahu amat lihai. Tayami menjadi makin panik. Sambil berseru keras ia melompat ke samping, menyambar pedangnya, yaitu pedang Besi Kuning yang tergantung di dinding, lalu tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Bayisan dengan bacokan maut mengarah leher. Cepat bacokan ini dan dilakukan dengan tenaga yang cukup hebat, karena Tayami adalah seorang puteri mahkota yang terlatih, menguasai ilmu pedang yang cukup tinggi. Akan tetapi, tentu saja silat puteri mahkota ini tak ada artinya. “Heh-heh, Tayami yang manis. Kau seranglah, makin ganas kau menyerang, akan makin sedap rasanya kalau nanti kau menyerahkan diri kepadaku!” “Keparat ! Jahanam berhenti iblis ! Tak ingatkah kau bahwa kita ini seayah ? Tak ingatkah kau bahwa aku ini Puteri Mahkota dan kau ini Panglima Muda ? Lupakah kau bahwa pagi tadi ayah telah menjodohkan aku dengan Salinga ? Bayisan, sadarlah dan pergi dari sini sebelum kupenggal lehermu!” “Heh-heh-heh, Tayami bidadari jelita. Kau hendak memenggal leherku, kau penggallah, sayang. Tanpa kepala pun aku masih akan mencintaimu!” Bayisan mengejek dan betul-betul ia mengulur leher mendekatkan kepalanya, malah mukanya akan mencium pipi gadis itu. Tayami marah sekali, pedangnya berkelebat, benar-benar hendak memenggal leher itu dengan gerakan cepat sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Bayisan tertawa, miringkan tubuh menarik kembali kepalanya. Pedang menyambar lewat, jari tangan Bayisan bergerak menotok pergelangan lengan dan… pedang itu terlepas dari pegangan Tayami, terlempar ke sudut kamar ! Bayisan sudah mencengkeram rambut yang panjang riap-riapan itu ke depan mukanya, mencium rambut sambil berkata lirih, “Alangkah indahnya rambutmu… halus… ah, harumnya…” Tayami kaget sekali, tangan kirinya diayun memukul kepala, akan tetapi dengan mudah saja Bayisan menangkap tangan ini dan ketika tangan kanan Tayami juga datang memukul, kembali tangan ini ditangkap. Kedua tangan gadis itu kini tertangkap oleh tangan kanan Bayisan yang tertawa menyeringai. “Kaulihat, alangkah mudahnya aku membuat kau tidak berdaya!” Tangan kirinya mengelus-elis dagu yang halus. “Kau baru tahu sekarang bahwa aku amat kuat, amat kosen, jauh lebih lihai dari Salinga, dari laki-laki manapun juga di Khitan ini!” Sekali mendorong, ia melepaskan pegangan tangannya dan tubuh Tayami terguling ke atas pembaringan. gadis itu takut setengah mati, lalu nekat, menerjang maju lagi sambil melompat dari atas pembaringan. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas ketika jari tangan Bayisan menotok jalan darah bagian thian-hu-hiat yang membuat seluruh tubuhnya menjadi seperti lumpuh ! Dengan lagak tengik Bayisan kembali mengusap pipi gadis itu sambil tertawa. “Heh-heh, betapa mudahnya kalau aku mau menggunakan kekerasan. Kau tak dapat bergerak sama sekali, bukan ? Akan tetapi aku tidak menghendaki demikian, juitaku. Aku ingin kau menyerahkan diri secara sukarela kepadaku, ingin kau membalas cinta kasihku, bukan menyerah karena terpaksa dan tak berdaya. Nah, bebaslah dan kuberi kesempatan berpikir.” Tangannya menotok lagi dan benar saja. Tayami dapat bergerak kembali. Muka gadis ini sudah pucat sekali, akan tetapi sepasang matanya berapi-api saking marahnya. Ia akan melawan sampai mati, tidak nanti ai mau menyerah ! Baru sekarang ia teringat untuk menjerit, karena tadinya, selain terpengaruh oleh ucapan Bayisan yang katanya telah merobohkan semua penjaga dan pelayan, juga tadinya ia merasa malu kalau peristiwa ini diketahui orang luar. Akan tetapi melihat kenekatan Bayisan yang seperti gila itu, ia tidak peduli lagi dan tiba-tiba Tayami menjerit sekuatnya. Aneh dan kagetlah ia ketika tiba-tiba lehernya terasa sakit dan sama sekali ia tidak dapat mengeluarkan suara! “Heh-heh-heh, jalan darahmu di leher kutotok, membuat kau menjadi gagau ! Nah, insyaflah, Tayami, betapa mudahnya bagiku. Dengan tertotok lemas dan gagu, apa yang dapat kaulakukan untuk menolak kehendakku ? Akan tetapi aku tidak mau begitu… aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, berikut hatimu. Manis, kau balaslah cintaku….” Bayisan melangkah maju lalu memeluk. Tayami memukul-mukulkan kedua tangannya, akan tetapi pukulan-pukulan itu sama sekali tidak terasa agaknya oleh Bayisan. Pemuda Khitan yang seperti gila ini menciumi muka Tayami, mebujuk-bujuk dan terdengar kain robek. Terengah-engah Tayami ketika Bayisan untuk sejenak melepaskannya sambil….Bersambung
sumber: www.microsofreader.com

Tentang Admin

Berita Lain

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 44)

Biografi Kho Ping Hoo: Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *