Home / Lensa / Buya Hamka : Raja-Pemimpin Adalah Orang Paling Miskin, Orang Kaya Adalah yang Sedikit Keperluannya
Sketsa Buya Hamka, Ulama besar yang pernah berhenti jadi Ketua MUI karena tak mau diatur pemerintah (dok, Annas)

Buya Hamka : Raja-Pemimpin Adalah Orang Paling Miskin, Orang Kaya Adalah yang Sedikit Keperluannya

Lensa – Dijaman yang semakin sulit ini, di mana antara yang halal dan haram malah samar-samar, tak sedikit umat manusia yang rela menggadaikan harga diri untuk mencari kekayaan dan juga jabatan. Menjilat atasan serta korupsi merupakan hal yang tak bisa dilepaskan dari nafsu ingin kaya raya serta masyur. Tiap orang tentu ingin menjadi kaya raya. Manusia bekerja sehari-hari baik sebagai pegawai, wiraswata maupun tenaga lepas, berharap segala keinginan dan kebutuhannya dapat terpenuhi. Namun apa sebenarnya kaya itu? Dan apakah kaya menurut manusia kebanyakan adalah makna sebenarnya? Adalah Buya Hamka, sosok ulama yang berupaya menjelaskan makna kaya yang sejati dalam bukunya “Tasawuf Modern”. Dalam bukunya tersebut, Hamka yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah itu, menulis bahwa orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya. Menentukan apakah seseorang itu kaya atau miskin, pada dasarnya bukan atas dasar materi yang dimiliki, melainkan keperluannya. “Siapa yang paling sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya dan siapa yang amat banyak keperluan itulah orang yang miskin,” tulis Hamka. Bagi Hamka, Allah-lah yang paling kaya, karena tidak punya keperluan maupun keinginan. Sementara raja-raja adalah orang yang paling miskin karena memiliki banyak keperluan. Kehidupan di dunia akan selalu diikat dengan aturan dan keperluan. Karena itu, menurut Hamka, orang yang ingin menjadi kaya maka tipsnya adalah, cukupkan apa yang ada. Jangan tergoda dengan apa yang dimiliki orang lain. Tetap taat kepada Allah, dan miliki jiwa yang tenteram dalam menghadapi kehidupan. Orang yang ingat pada sesuatu yang belum ada, ingin ini ingin itu, maka orang tersebut berarti menginginkan kemiskinan. Sedangkan orang yang menginginkan datangnya kekayaan, hidupnya berdiri di atas kesederhanaan karena menyalurkan hartanya pada sesuatu yang bermanfaat. Dalam pandangan Hamka, kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada, sudi menerima berapapun karena itulah nikmat Tuhan. Juga tidak kecewa bila jumlahnya berkurang, karena harta hanyalah titipan. Datang dan pergi. Jika dilimpahkan banyak harta, penggunaannya harus untuk amal dan ibadah, untuk membina keteguhan hati menyembah Tuhan. “Harta tidak dicintai karena dia harta. Harta hanya dicintai sebab dia pemberian Tuhan. Dipergunakan kepada yang berfaedah,” kata Hamka, yang lahir 17 Februari 1908, di Sungai Batang Maninjau, Sumatra Barat.
Sumber: Republika.co.id dan berbagai sumber

Tentang Admin

Berita Lain

Sejarah Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Pendiri Daulah Umayyah, Islam Berkembang Sangat Pesat

Lensa – Banyak yang menyebutkan, tangan Khalifah atau Sultan Muawiyah bin Abu Sufyan sangat berdarah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *