Home / Lensa / Ingin Maju Pilkada dan Cetak Pemimpin yang Bersih, Jangan Menumpang Di Area Jabatan Publik
Gaya spanduk ini sebetulnya punya tujuan politis (dok, KilasBengkulu)

Ingin Maju Pilkada dan Cetak Pemimpin yang Bersih, Jangan Menumpang Di Area Jabatan Publik

Tak ada salahnya spanduk begini, tapi harusnya jangan menjelang pilkada dan pejabat terkait ikut nyalon lagi (dok, Halo Sulsel)
Lensa – Pilkada serentak yang akan dilaksanakan kurang dari 11 bulan lagi dari sekarang di seluruh Indonesia, membuat konsentrasi rakyat kembali terbelah, yakni terkait dukung mendukung. Tak kurang dari Rp25 Trilyun harus disediakan pemerintah untuk melaksanakan hajatan demokrasi yang kina tahun kian mahal dan membebani APBN-APBD negara kita. Duit sebanyak itu digunakan untuk proses pilkada, mulai dari cetak kertas suara, bikin kotak suara, honor anggota TPS, PPK, Panwas, hingga TNI-Polri plus biaya kampanye (APK) paslon yang dibiayai oleh negara. Padahal semua tahu, resesi global akan menyerang dunia, seiring dengan perang dagang yang masih berlanjut, antara AS-Tiongkok plus Eropa, yang jelas berdampak langsung dengan negara kita. Di sisi lain, Indonesia juga harus menyediakan dana tak sedikit dan harus berhutang untuk menutupi defisit anggaran, yang setiap tahun makin membesar. Solusinya selain berhutang, adalah menaikan pajak serta mengurangsi subsidi, akibatnya jelas, rakyatlah yang kena imbasnya. Masa sosialisasi Pilkada terkadang dimanfaatkan paslon dengan berbagai cara, yang paling menyolok adalah kalau pejabat publik ikut maju, mulai dari Anngota Dewan, pejabat petahana, hingga Kepala Dinas. Mereka bisa dengan mudah memanfaatkan jabatannya untuk bergerak langsung ke masyarakat. Ambil contoh Kepala Dinas PUPR, dinas ini langsung bersentuhan dengan rakyat, karena membangun berbagai infrastruktur jalan-jembatan dan bangunan lainnya. “Kalau Kepala Dinas ini maju, maka dapat dipastikan dia akan mudah menjual dirinya, seolah-olah pembangunan yang sedang berjalan karena dia, ini sudah tak benar dan memanfaatkan jabatan dengan menggunakan duit rakyat,” ungkap seorang warga. Sedangkan pejabat petahana beda lagi, sudah jamak di mana-mana yang paling sering digunakan adalah Dana Sosial, menjelang Pilkada, dana ini selalu meningkat sampai 200% dari anggaran sebelumnya. Contoh Anggaran Dinas Sosial Kabupaten Tabalong Tahun 2018, yang sempat meningkat drastis dibanding tahun 2017. Dinas Sosial berdalih saat itu, kenaikan ini untuk honor guru-guru agama, padahal di saat bersamaan, pejabat petahana sedang ikut pilkada tahun itu. Sedangkan anggota dewan beda lagi, setiap anggaran mereka akan habis-habisan menggolkan setiap anggaran di dapil mereka, selain sebagai hutang kampanye di pemilu sebelumnya, mereka tentu saja ingin balik modal. Dan yang utama, kalau ada keinginan maju pilkada, mereka bisa memanfaatkan hal ini untuk tujuan kampanye terselubung. Beda kalau paslon pilkada diluar lingkaran jabatan publik, mereka akan bergerak dengan dana pribadi tanpa menggunakan jabatan politis. Ambil contoh saat pilpres lalu, Cawapres Sandiaga Salahudin Uno harus menjual saham perusahaannya, untuk modal kampanye. Salah satu konglomerat muda ini dikabarkan menghabiskan hampir 1,5 Trilyun saat kampanye lalu. Namun itu tak masalah, karena berdasarkan laporan harta yang dia laporkan ke KPK, duitnya mencapai 5 Trilyun lebih, artinya habis 1,5 T, Sandiaga Uno masih punya duit 3,5 T yang tak bakal habis selama 7 turunan, apalagi usahanya masih terus jalan sampai kini. Salah satunya PT Adaro Indonesia, asal tahu saja, PT Adaro Indonesia yang ada di Tabalong-Balangan sahamnya sebagain milik Sandiaga yang berkongsi dengan Eric Tohir (adik Boy Tohir, Presiden Direktur PT AI) sahabat masa kecilnya. Demokrasi kita yang mahal memang tak sepadan dengan hasil, sudah tak terhitung kepala daerah tersangkut masalah pidana, yang terbaru tentu saja penangkapan Bupati Lampung Utara, yang di duga menerima uang haram proyek-proyek yang ada di daerahnya. Tentu saja, penerimaan uang itu ada kaitannya dengan banyaknya biaya yang Bupati keluarkan saat kampanye lalu…!!!!!
Sumber: diolah dari berbagai sumber

Tentang Admin

Berita Lain

Sejarah Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Pendiri Daulah Umayyah, Islam Berkembang Sangat Pesat

Lensa – Banyak yang menyebutkan, tangan Khalifah atau Sultan Muawiyah bin Abu Sufyan sangat berdarah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *