Home / Mahakarya / Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 40)

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 40)

Biografi Kho Ping Hoo:
Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan. Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Lahir: 17 Agustus 1926, Kabupaten Sragen. Dalam sejarah cerita silat, barangkali tidak ada karya yang bertahan puluhan tahun seperti Ping Hoo. Namanya lebih terkenal ketimbang para sastrawan. Cerita-cerita Kho Ping Hoo banyak dihiasi kata mutiara maupun hikmah positif yang bisa dipetik pembaca tanpa harus menganalisisnya secara rumit. Ia memiliki prinsip yang banyak dianut oleh orang dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha dan politikus, “Seorang musuh terlalu banyak buat saya, tetapi sejuta sahabat masih kurang.” Meski sudah dipanggil Sang Pencipta pada hari Jumat, 22 Juli 1994, Kho Ping Hoo masih dikenang oleh jutaan penggemarnya dari semua generasi hingga saat ini.

Sinopsis:
“Inilah lanjutan dari serial komik legendaris Bu Kek Siansu, yang nantinya bakal berkembang menjadi Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll…silahkan terus dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya…”

Kau bilanglah terus terang, apakah sebabnya kau melarangku melayaninya ? Apakah kau suka kepadanya?” Bwee Hwa masih menangis ketika ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan suaminya. “Bagaimana kau bisa bilang begitu ? Ahh…, bukankah aku sudah menjadi isterimu ? Jiwa ragaku kuserahkan kepadamu, bagaimana pikiranku dapat mengingat laki-laki lain ? Suamiku, aku memohon kau tidak melayaninya, karena aku tidak ingin kalian bertempur, kemudian seorang diantara kalian terluka atau terbunuh. Kau suamiku, tentu saja aku berpihak kepadamu… akan tetapi, dia terkenal sebagai seorang yang gagah dan baik di kampung kami, dia bukan orang jahat…” Kam Si Ek mengangkat bangun isterinya dan memeluknya. “Jangan kau kuatir, aku akan menasihatinya, kalau tidak terpaksa, aku takkan bertanding dengannya.” Kembali daun jendela diketuk dari luar. “Kam Si Ek, aku Gam Sui Lok dari Cin-ling-san ! Ada urusan diantara kita berdua yang harus diselesaikan sekarang juga. Apakah kau benar-benar tidak berani keluar?” “Hemm, kautunggulah!” Kam Si Ek lalu melepaskan isterinya, menyambar senjatanya dan membuka daun jendela, terus melompat keluar. Di pekarangan belakang rumah, tempat yang sunyi, di bawah sinar bulan purnama, ia melihat seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Sinar mata orang itu muram, akan tetapi wajahnya membayangkan kegagahan dan kejujuran. Biarpun merasa tak senang melihat orang ini begitu tidak tahu aturan, namun sedikitnya Kam Si Ek kagum akan keberanian dan kejujurannya. “Orang she Giam, baru saja isteriku bercerita tentang dirimu. Kau seorang laki-laki, bagaimana begini tak tahu aturan dan tak tahu malu ? Dia sudah menjadi isteri orang, mengapa kau masih saja mengejar-ngejar ? Apakah di dunia ini hanya ada dia seorang wanita ? Perbuatanmu datang malam ini, benar-benar merupakan penghinaan bagiku, akan tetapi mengingat bahwa kau bertindak karena kebodohanmu, aku mau maafkan dan harap kau segera pergi dari sini, jangan memperlihatkan diri lagi. Perkara ini habis sampai disini saja.” Giam Sui Lok mengertak gigi dan berkata, suaranya lantang penuh kegeraman hati, “Kam Si Ek, enak saja kau bicara ! Semenjak kecil aku mengenal Bee Hwa, belasan tahun aku melihatnya, aku mimpikan dia, dan ayahnya menolak lamaranku karena aku seorang miskin dan bodoh ! Karena itu aku sudah tak dapat hidup lagi kalau tidak dapat berjodoh dengan Ciu Bwee Hwa. Aku sudah bersumpah akan mati diujung senjata siapa yang menjadi suaminya, atau membunuh suami itu. Sekarang dia menjadi isterimu. Nah, mari kita selesaikan persoalan ini. Kau harus mati di tanganku atau aku yang akan mampus di tanganmu untuk mengakhiri penderitaan batin ini!” Sambil berkata demikian, Giam Sui Lok mencabut goloknya ! Kam Si Ek menjadi marah. “Kau benar-benar seorang yang berwatak berandalan dan tidak menggunakan aturan.” “Tak perlu banyak cakap, pendeknya berani atau tidak kau mengakhiri urusan ini diujung senjata ? Kalau tidak berani, sudahlah, sedikitnya aku tidak akan menderita lagi karena tahu bahwa ayah Bwee Hwa memilih kau bukan karena kau lebih gagah daripada aku, melainkan karena kau seorang panglima, biarpun hanya panglima pengecut.” “Tutup mulut ! Lihat golokku siap menandingimu!” bentak Kam Si Ek yang juga sudah mencabut golok emasnya. Giam Sui Lok tertawa bergelak lalu menerjang maju dan terjadilah pertandingan hebat dan seru antara kedua orang itu. Pemuda tinggi besar bermuka hitam itu bertanding dengan nekat, goloknya menyambar-nyambar dengan amat cepat dan kuat agaknya bernafsu sekali untuk segera merobohkan lawan yang amat dibencinya karena telah mengawini wanita yang menjadi idaman hatinya ! Kalau saja ilmu silatnya agak lebih tinggi tingkatnya, agaknya Kam Si Ek akan repot menghadapi terjangan penuh nafsu dan nekat ini. Akan tetapi, ternyata tingkat kepandaian Giam Sui Lok tidaklah sehebat nafsunya, dan dibandingkan dengan Kam Si Ek ia kalah jauh. Dengan tenang sekali Kam Si Ek menggerakkan golok emasnya menangkis sampai belasan jurus, kemudian setelah ia melihat kelemahan lawan dan banyaknya kesempatan terbuka karena kenekatan itu, mulailah ia menerjang dan membalas. Akan tetapi Kam Si Ek tidak berniat membunuh lawannya yang sama sekali tidak mempunyai dosa terhadapnya itu, maka setelah melihat kesempatan baik, goloknya menyerempet pangkal lengan kanan lawannya. Giam Sui Lok mengeluh, pangkal lengannya luka dan goloknya terlepas dari pegangan. Ia tidak mengerang kesakitan, menahan rasa nyeri lalu berkata, “Kau menang. Nah, lekas bacoklah leherku, aku tidak ingin hidup lagi!” Kam Si Ek tersenyum dan menyimpan goloknya. “Justeru aku hendak membiarkan kau hidup, sobat ! Kau masih muda dan birlah kau hidup lebih lama untuk menyesali perbuatanmu yang lancang ini. Kelak kau akan meresa malu sendiri akan sepak terjangmu yang bodoh ini. Nah, kau pergilah!” Giam Sui Lok memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. “Kam Si Ek ! Aku mengaku kalah dan minta mati, akan tetapi kau membiarkan aku hidup, agaknya kau ingin lebih menyiksaku. Akan tetapi, akan datang saatnya aku kembali mencarimu dan sebelum aku mati di tanganmu atau kau mati di tanganku, aku takkan mau sudah!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri ia menjemput goloknya lalu pergi menghilang di balik gelap malam. Kam Si Ek berdiri tertegun, hatinya penuh penyesalan. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi, seorang anak kecil berusia sembilan tahun mengintai dari balik semak-semak. Anak ini adalah puteranya sendiri, Kam Bu Song ! Semenjak beberapa hari ini, Bu Song mengunci diri di dalam kamarnya dan menangis saja. Malam ini ia membawa buntalan pakaian, diam-diam keluar dari kamarnya, dan terkejut menyaksikan pertempuran di pekarangan belakang. Ia bersembunyi dan mengintai, kemudian setelah ayahnya kembali ke dalam rumah, ia cepat berlari keluar dan lenyap pula di tempat gelap. Dapat dibayangkan betapa duka dan bingungnya hati Kam Si Ek. Pernikahannya yang ke dua itu amat cepat disusul dua peristiwa yang mengganjal hatinya. Peristiwa dengan Giam Sui Lok sudah cukup menjengkelkan, akan tetapi peristiwa kedua, larinya Kam Bu Song benar-benar membuatnya berduka dan gelisah sekali. Tentu saja ia segera menyebar orang-orangnya untuk mencari, namun hasilnya sia-sia belaka. Anak itu tidak dapat ditemukan, seakan-akan ditelan bumi tanpa meninggalkan bekas. Mula-mula ia menyangka bahwa Giam Sui Lok yang melakukan penculikan, akan tetapi ketika ia menyuruh orangnya menyelidik, ternyata Giam Sui Lok kembali ke Cin-ling-san, merawat luka dan memperdalam ilmu silat, sama sekali tidak tahu-menahu tentang lenyapnya Kam Bu Song!

Ilustrasi, Kwee Ceng yang dulunya pendekar tampan, kini berubah jadi Jembel sakti (dok, Liputan6)
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kwee Seng ! Sengaja kita lakukan ini agar jalan cerita dapat tersusun baik, karena memang ada hubungannya antara tokoh-tokoh yang diceritakan itu. Telah kita ketahui betapa dalam keadaan linglung, Kwee Seng telah melayani cinta kasih seorang nenek-nenek di Neraka Bumi selama belasan hari ketika Arus Maut di Neraka Bumi itu meluap airnya dan cuaca menjadi gelap. Setelah cuaca menjadi terang kembali, pikirannya pun menjadi terang dan sadarlah ia bahwa ia telah mencurahkan kasih sayangnya kepada seorangnenek-nenek yang memang menghendaki ia menjadi suaminya ! Bagaikan gila Kwee Seng memukuli muka dan kepalanya sendiri, kemudian ia meloncat ke dalam air arus Arus Maut, menyelam dan berenang melawan arus. Bukan main kuatnya arus itu, seekor ikan pun agaknya takkan mampu berenang melawan arus itu. Akan tetapi, selama tiga tahun berdiam di dalam Neraka Bumi, Kwee Seng telah memperoleh kemajuan yang luar biasa. Berkat latihan samadhi menurut ajaran kitab samadhi, tenaga lweekangnya meningkat hebat beberapa kali lipat, sedangkan ilmu silatnya juga tanpa ia sadari telah menjdai hebat luar biasa setelah ia memahami kitab Ilmu Perbintangan. Kini, menghadapi terjangan arus yang demikian ganasnya, Kwee Seng dapat mempergunakan lweekangnya, menyelam dan berenang sepenuh tenaga sambil menahan napas. Beberapa kali ia terpukul kembali, namun dengan gigih Kwee Seng maju terus. Benturan-benturan dengan batu ketika ia dihempaskan Arus Maut, tidak terasa oleh tubuhnya yang sudah menjadi kuat dan kebal. Kadang-kadang ia muncul di permukaan air untuk mengambil napas, lalu menyelam kembali dan bergerak maju terus. Bukan main hebatnya perjuangan melawan Arus Maut ini. Perjuangan mati-matian dan ia tidak tahu bahwa andaikata tiga tahun yang lalu ia harus melakukan perjuangan macam ini, tentu ia akan tewas ! Akhirnya ia dapat keluar dari dalam terowongan dan ketika ia muncul di permukaan air, ia melihat langit menyinarkan cahaya terang benderang, membuat matanya silau karena sudah terlalu lama ia tinggal di tempat agak gelap. Biarpun sudah keluar dari terowongan Arus Maut, namun sungai yang diterjangnya ini diapit-apit dinding batu karang yang amat tinggi. Ia berenang terus dan akhirnya, sejam kemudian, ia melihat dinding yang biarpun masih amat tinggi dan curam, namun tidak selicin dinding yang telah ia lalui. Cepat ia berenang ke pinggir, menangkap celah dinding batu karang dan mengangkat tubuhnya ke atas. Cepat ia bersila di bawah dinding karang, untuk memulihkan tenaganya dan pernapasannya. Akan tetapi, setelah tenaganya pulih, ia teringat akan perbuatannya dengan nenek itu dan… tiba-tiba Kwee Seng menangis, lalu menampari pipinya beberapa kali sampai kedua pipinya bengkak-bengkak matang biru ! Sebentar kemudian ia tertawa-tawa, suara ketawanya bergema di sepanjang sungai yang diapit dinding karang. Kemudian ia merayap naik melalui dinding yang tidak rata, menggunakan tangan kirinya menangkap dan menginjak celah-celah karang. Cepat sekali gerakannya, seperti seekor monyet saja dan tak sampai seperempat jam, ia telah berada dia atas tanah datar, di lembah sungai di lereng Bukit Liong-kui-san ! Tak jauh di sebelah depan, ia melihat puncak di mana tiga tahun yang lalu ia bertanding mati-matian melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, dimana ia dirobohkan secara pengecut oleh jarum-jarum beracun Bayisan. “Ha-ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba Kwee Seng tertawa bergelak sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar dan rambut riap-riapan karena ketika melawan arus tadi pita rambutnya hilang entah ke mana, bajunya robek-robek, kedua pipinya bengkak-bengkak, akan tetapi matanya bersinar terang biarpun mulutnya tersenyum setengah mewek seperti orang mau menangis ! Masih terdengar suaranya tertawa-tawa ketika tubuhnya berloncatan dengan gerakan yang luar biasa, tidak seperti manusia lagi, melainkan lebih pantas iblis penjaga gunung sedang menari-nari. Memang patut dikasihani Kwee Seng ini. Karena tergila-gila akan kecantikan Liu Lu Sian dan kecewa melihat watak gadis yang ia cinta, ia menjadi seorang pemabok, dan kini setiap kali teringat kepada Lu Sian ia masih tertawa-tawa. Kemudian pengalamannya dengan nenek-nenek di dalam Neraka Bumi, benar-benar telah membuat rusak pikirannya, membuat ia tak kuat lagi menahan tekanan batin, membuatnya seperti gila. Kalau teringat kepada nenek-nenek itu, ia menangis. Maka sejak saat itu kembali ke dunia ramai, tawa dan tangis silih berganti dilakukan oleh pendekar muda ini ! Seorang pendekar muda yang tadinya terkenal tampan dan gagah perkasa, kini berubah menjadi seorang berpakaian compang-camping yang suka tertawa dan menangis, pendeknya berubah menjadi seorang jembel gila ! Dan semua ini karena asmara. Akan tetapi, sesungguhnya Kwee Seng sama sekali tidaklah gila. Ia hanya seperti orang gila kalau teringat kepada Liu Lu Sian dan teringat pula kepada Si Nenek, karena kedua orang itu mengingatkan ia akan semua pengalaman dan perbuatannya. Kalau ia sedang sadar, Kwee Seng tetap merupakan pendekar yang gagah perkasa, yang cerdik dan berpemandangan luas. Ia tidak pernah pula melupakan Bayisan yang telah berlaku curang dan menyebabkan ia terjungkal ke dalam jurang di puncak Liong-kui-san. Ia tidak pula dapat melupakan guru Bayisan, Ban-pi Lo-cia yang telah membunuh atau lebih hebat lagi, menodai Ang-siauw-hwa sehingga wanita itu membunuh diri, tidak pula lupa kepada Liu Lu Sian yang telah menolak cintanya dan bahkan menghinanya. Demikianlah, Kwee Seng mulai dengan perantauannya. Ia tetap berpakaian seperti jembel, pakaian yang compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan, akan tetapi tubuhnya selalu bersih terpelihara ! Di dalam perantauannya bertahun-tahun ini, tak pernah ia melupakan tugasnya sebagai seorang gagah, seorang pendekar yang aneh dan sakti. Namun, tetap seperti dahulu, ia melakukan perbuatannya dengan sembunyi dan semenjak ia keluar dari Neraka Bumi, muncullah di dunia kang-ouw seorang tokoh aneh tak terkenal yang luar biasa, yang menggegerkan dunia kang-ouw karena banyak sekali tokoh-tokoh dunia hitam dihancurkan oleh pendekar gila ini. Akhirnya ada yang mengenalnya sebagai Kim-mo-eng dan makin terkenal lah nama ini yang dahulu malah tidak begitu terkenal. Kalau dulu hanya tokoh-tokoh terbesar di dunia kang-ouw saja yang mengenal Kim-mo-eng sebagai seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, kini dunia kang-ouw mengenal Kim-mo-eng sebagai seorang pendekar gila, sungguhpun jarang ada orang pernah melihatnya beraksi. Dengan demikian, dalam perantauannya, orang-orangyang bertemu dengan Kwee Seng hanya mengira dia seorang jembel gila, sama sekali tidak ada yang pernah mengira bahwa dia inilah Kim-mo-eng, tokoh kang-ouw yang baru muncul dan membikin geger dunia persilatan itu ! Rasa penasaran di hatinya terhadap Bayisan membuat Kwee Seng mengarahkan perantauannya menuju ke daerah Khitan ! Ia hendak meluaskan pengalaman dan sekalian mencari Bayisan atau Ban-pi Lo-cia yang keduanya masih mempunyai perhitungan dengannya. Bangsa Khitan adalah bangsa nomad (perantau) yang terkenal gagah perkasa, ulet dan pandai perang. Karena iklim dan keadaan tanah di mana mereka hidup, yaitu di daerah timur laut yang penuh gunung-gunung, gurun-gurun pasir, dan salju, maka mereka dipaksa oleh keadaan untuk selalu berpindah-pindah tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah sebabnya mengapa suku bangsa Khitan amat ulet dan berani. Dan ini pula agaknya yang menyebabkan Khitan seringkali mengadakan penyerbuan ke selatan dalam usaha mereka mencari tempat yang lebih makmur untuk bangsa mereka. Akan tetapi, berkali-kali mereka terpukul mundur oleh bala tentara kerajaan selatan sehingga akhirnya mereka tidaklah begitu berani melakukan penyerbuan secara liar, melainkan baru berani menyerbu setelah direncanakan terlebih dahulu. Karena usaha mereka yang terus menerus menyerbu ke selatan inilah maka bangsa Khitan selalu dianggap sebagai musuh besar oleh orang selatan, dari jaman dinasti manapun juga. Pada waktu Kwee Seng melakukan perantauannya ke daerah Khitan, yang dijadikan ibu kota Khitan adalah kota Paoto di lembah Sungai Kuning, termasuk daerah Mancuria selatan. Rajanya adalah Raja Kulu-khan, seorang raja yang terkenal gagah suka perang, namun amat dicinta oleh rakyatnya karena terhadap rakyatnya ia selalu bertindak adil dan penuh perhatian. Raja Kulu-khan mempunyai belasan orang putera dan puteri, akan tetapi semua itu lahir dari para selir. Adapun permaisurinya hanya mempunyai seorang anak perempuan, yang dengan sendirinya menjadi puteri mahkota. Puteri mahkota ini bernama Puteri Tayami yang semenjak kecilnya digembleng oleh ayahnya sendiri, pandai menunggang kuda, pandai bermain panah dan pandai pula mainkan tombak dan pedang. Selain ini, ia pun seorang puteri yang amat cantik jelita, menjadi kenangan dan kembang mimpi semua pemuda Khitan. Namun, tak seorang pun diantara para pemuda berani main-main dengan puteri Tayami, bukan saja karena Tayami adalah Puteri Mahkota, akan tetapi terutama karena mereka gentar menghadapi kegagahan puteri ini. Kalau Tayami sudah ikut maju perang dengan pedang pusaka di tangan, yaitu Pedang Besi Kuning, dengan gendewa dan anak panah menghias bahu, menyengkelit tombak, bukan main hebatnya puteri ini. Entah sudah berapa banyak tentara musuh yang roboh oleh anak panahnya, pedangnya, maupun tombaknya. Khitan memiliki pula banyak panglima-panglima perang yang berilmu tinggi di antaranya adalah Panglima Tua Kalisani dan Panglima Muda Bayisan. Hanya dua orang ini yang paling hebat kepandaiannya di antara semua panglima yang juga memiliki keistimewaan masing-masing. Akan tetapi hanya kedua orang panglima itu yang memiliki ilmu silat dari selatan dan barat. Adapun Ban-pi Lo-cia biarpun terkenal, namun tidaklah langsung membantu pergerakan bangsanya. Dia adalah guru dari Panglima Muda Bayisan, namun jarang ia tinggal terlalu lama di Khitan, lebih suka merantau ke selatan, ke dunia yang lebih ramai dan lebih banyak terdapat kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan selera nafsunya. Dasar watak manusia jantan, di mana-mana sama saja. Asalkan melihat wanita cantik, tentu mereka itu saling berebutan. Yang kasar yang halus, ya begitu juga, hanya yang kasar itu mengeluarkan perasaan hatinya melalui kata-kata kasar atau pandang mata kurang ajar, sedangkan yang halus diam-diam menyimpan di hati. Namun hakekatnya, sama juga. Di antara sekian banyaknya pemuda Khitan yang jatuh hati terhadap Puteri Tayami, termasuk juga Bayisan dan… Kalisani ! Kita sudah mengenal Bayisan sebagai seorang tokoh muda yang haus akan wanita cantik, yang jahat dan keji, tidak segan-segan melakukan perkosaan terhadap wanita yang manapun juga, baik ia isteri orang maupun anak orang, baik ia mau ataupun tidak. Maka tidak mengherankan apabila Bayisan tergila-gila kepada Puteri Mahkota bangasanya sendiri yang demikian jelita ayu. Akan tetapi, yang amat mengherankan adalah Panglima Tua Kalisani. Usianya sudah empat puluh tahun lebih, dua kali usia Tayami, namun panglima yang belum pernah menikah ini secara diam-diam tergila-gila pula kepada Tayami. Hanya bedanya, kalau Bayisan mengungkapkan perasaannya melalui senyum dan pandang mata, kadang-kadang kata-kata kurang ajar, adalah Kalisani memendam dalam hati, dan mungkin hanya dapat terlihat oleh Tayami sendiri melalui pancaran sinar mata penuh kasih sayang. Namun, semua harapan para muda termasuk dua orang panglima itu, sebenarnya sia-sia belaka. Puteri Mahkota Tayami sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Ia telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang bekas temannya semenjak kecil, putera dari pelayan pribadi ayahnya. Kini bekas teman itu telah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah, dan biarpun pangkatnya hanya perwira menengah, namun kegagahannya dalam pandang mata Tayami tiada yang dapat menandinginya ! Pemuda ini bernama Salinga, biarpun keturunan pelayan raja, namun semenjak nenek moyangnya dahulu amat setia dan berdarah patriot. Raja Kulu-khan amat mencinta puterinya, dan raja ini pun berpemandangan luas, tidak mengukur pribadi seseorang dari kedudukannya, maka biarpun ia tahu akan perhubungan antara puterinya dengan Salinga, raja ini tidak pernah menegur puterinya. Malah ketika Bayisan mengadukan hubungan itu, ia memarahi Bayisan. Bayisan ini biarpun terkenal diluaran sebagai panglima muda, namun adalah putera Raja Kulu-khan juga. Putera yang lahir dari seorang wanita yang telah bersuamikan seorang pembantu raja, akan tetapi oleh suaminya seakan-akan di”jual” kepada raja karena mengharapkan kenaikan….. Bersambung
sumber: www.microsofreader.com

Tentang Admin

Berita Lain

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 39)

Biografi Kho Ping Hoo: Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *