Home / Mahakarya / Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 37)
Suling Emas

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 37)

Biografi Kho Ping Hoo:
Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan. Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Lahir: 17 Agustus 1926, Kabupaten Sragen. Dalam sejarah cerita silat, barangkali tidak ada karya yang bertahan puluhan tahun seperti Ping Hoo. Namanya lebih terkenal ketimbang para sastrawan. Cerita-cerita Kho Ping Hoo banyak dihiasi kata mutiara maupun hikmah positif yang bisa dipetik pembaca tanpa harus menganalisisnya secara rumit. Ia memiliki prinsip yang banyak dianut oleh orang dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha dan politikus, “Seorang musuh terlalu banyak buat saya, tetapi sejuta sahabat masih kurang.” Meski sudah dipanggil Sang Pencipta pada hari Jumat, 22 Juli 1994, Kho Ping Hoo masih dikenang oleh jutaan penggemarnya dari semua generasi hingga saat ini.

Sinopsis:
“Inilah lanjutan dari serial komik legendaris Bu Kek Siansu, yang nantinya bakal berkembang menjadi Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll…silahkan terus dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya…”

Ilustasi Jenderal Kam Si Ek yang bikin Lu Siang klepek-klepek (dok,Tionghoa.INFO)
wanita!” Ia mencabut golok emasnya dan memandang dengan mata penuh kemarahan. Lu Sian terkejut, akan tetapi hanya sebentar. Ia malah tersenyum, tersenyum mengejek. Ia puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong, tentu saja ia pun mempunyai watak yang amat aneh. Membunuh baginya bukan apa-apa. Orang yang patut dibunuh harus dibunuh, demikian ajaran ayahnya. Kini ia memandang dengan mata penuh kagum dan cinta kepada Kam Si Ek, akan tetapi sengaja ia tersenyum mengejek. Inilah kesempatan baik baginya untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia lalu menggerakkan pedangnya dan berkata. “Kam Si Ek, begitukah dugaanmu ? Dan kau telah menghunus golokmu ? Baiklah, mari kita lihat siapa diantara kita yang lebih lihai!” Sambil berkata demikian, gadis itu meloncat ke ruangan belakang gedung yang lebih luas karena ruangan itu penuh mayat. Sambil melompat ia melirik dan mengeluarkan suara ketawa mengejek, membikin hati Kam Si Ek makin panas. “Lihat golok!” bentak Kam Si Ek sambil meloncat mengejar bagaikan kilat. Lu Sian membalikkan tubuh dan menggerakkan pedangnya menangkis. Maka bertandinglah kedua orang itu dalam ruangan belakang di mana lantainya penuh air sehingga kaki mereka membuat air di lantai muncrat-muncrat. Golok dan pedang menyambar-nyambar dan berkali-kali terdengar suara nyaring beradunya kedua senjata itu ! Memang aneh kedua orang muda ini. Beberapa jam yang lalu mereka masih berpelukan, berciuman, dan sekarang mereka sudah saling serang, senjata mereka saling mengintai nyawa! Dalam hal ilmu silat, Kam Si Ek masih kalah oleh Liu Lu Sian. Akan tetapi, pemuda ini mempunyai ketabahan hati luar biasa, karenanya ilmu goloknya seperti dimainkan oleh orang nekat, juga tenaganya besar sekali sehingga untuk seratus jurus lamanya mereka bertanding dengan seru dalam keadaan berimbang. Lu Sian orangnya memang cerdik sekali. Ia sudah dapat menyelami perasaan hati kekasihnya, maka ia tidak marah ketika tadi dimaki-maki. Ia tahu bahwa cara hidup kekasihnya itu jauh berbeda dengan dia, maka bagi Kam Si Ek, cara pembunuhan yang dilakukan tadi tentu amat mengagetkan. Selain itu, agaknya kekasihnya ini mulai merasa curiga, mengira bahwa dia memang bermaksud membujuk dan menariknya untuk membantu Kerajaan Nan-cao. Oleh karena ini, maka ia berlaku hati-hati sekali. Kalau sampai ia menyinggung hati pemuda yang sudah menjadi kekasihnya itu, maka hal itu dapat merenggangkan perhubungan mereka yang sudah mulai terjalin. Kini ia sudah merasa puas menguji kepandaian Kam Si Ek. Sungguhpun tingkat kepandaian jenderal muda ini tentu saja sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwee Seng, namun kalau dibandingkan dengan para pemuda yang pernah datang ke Beng-kauw, Kam Si Ek boleh dibilang paling unggul. Tidak banyak selisihnya daripada tingkatnya sendiri. Kalau ia mau, tentu lambat laun ia dapat mendesak dan mengalahkan Kam Si Ek. Maka ia sudah merasa puas. Bakat ilmu silat dalam diri Kam Si Ek amat baik, kalau pemuda ini menerima pelajaran ilmu silat tinggi, tentu dia sendiri pun akan kalah ! Ia sudah mencoba kepandaiannya, akan tetapi belum mencoba hatinya. Biarlah ia mainkan ujian berbahaya ini. Setelah berpikir demikian, ia sengaja memperlambat gerakan pedangnya dan ketika golok menyambar lehernya, ia sengaja tidak menangkis, bahkan meramkan kedua matanya menanti maut! Betapa terkejutnya hati Kam Si Ek, tak usah diceritakan lagi. Pemuda ini berseru kaget dan karena ia sudah tak mungkin menarik pulang goloknya, maka sedapat mungkin ia menyelewengkan bacokannya ke arah leher. Namun, tetap saja goloknya itu membabat ke arah pundak dan “makan” ke dalam daging di pangkal lengan Lu Sian. Darah mengucur, membasahi baju gadis itu. Kam Si Ek berdiri tegak seperti patung, mukanya pucat, matanya terbelalak, lalu ia memandang wajah Lu Sian dengan bingung. “Kau bunuhlah. Mengapa tidak jadi ? Bukankah engkau hendak membunuhku?” Lu Sian berkata, biarpun pangkal lengannya terasa sakit, namun jantungnya berdebar girang melihat hasil ujiannya yang berbahaya ini. Jelas bahwa pemuda itu tidak membencinya, buktinya tidak tega membunuhnya dan tadi serangan pemuda itu hanya digerakkan oleh kemarahan yang tiba-tiba. “Kau.. kau mengapa begini aneh..? Mengapa membunuh orang… dengan kejam…?” “Mengapa aku membunuh mereka berenam tadi ? Hemm, dengarlah. Mereka adalah anak buah pasukan yang telah menawanmu, mereka adalah musuh. Pula, kita sedang dikejar-kejar dua orang kakek iblis, dan mereka ini sudah melihat kita. Kalau tidak dibunuh, apakah mereka tidak akan membocorkan keadaan kita kepada mereka ? Kau seorang jenderal, dengan pasukanmu sudah biasa kau membunuh laksaan orang musuh tanpa berkedip, membunuh laksaan orang yang tidak kau ketahui apa kesalahan mereka dan apa kejahatan mereka. Sekarang aku membunuh enam orang yang terang-terangan adalah orang jahat dan yang akan mendatangkan bahaya bagi kita, mengapa kau marah-marah ? Kau mengucapkan fitnah busuk, mengira aku akan membujukmu untuk mengabdi kepada Nan-cao ! Alangkah tipis kepercayaanmu, tanda bahwa cintamu palsu belaka, hanya di bibir. Aku… aku… ahhhh….!” Tubuh Lu Sian terhuyung-huyung lalu ia roboh terguling. Kam Si Ek kaget sekali, cepat ia melompat maju dan memeluk tubuh gadis itu, dan melihat betapa wajah gadis itu pucat, matanya meram, mulutnya terkancing rapat, ia makin gugup. “Moi-moi…. Moi-moi…, kaumaafkan aku… ah, aku bodoh sekali ! Lu Sian… ! Moi-moi…!” Kam Si Ek lalu memondong tubuh gadis itu, menyambar pedang dan golok, lalu berlari ke belakang rumah dan meloncat ke atas dek perahu besar. Hanya di perahu itulah tempat kering, maka ia lalu meletakkan tubuh Lu Sian ke atas sebuah opembaringan yang berada di bilik perahu. “Ah, benar-benar aku lancang tangan… Moi-moi, kau ampunkan aku…!” Kam Si Ek merobek baju di pundak Lu Sian dan memeriksa. Luka itu cukup dalam dan mengeluarkan banyak sekali darah. Dengan hati penuh kegelisahan pemuda itu lalu merobek ikat pinggangnya dan membalut pundak dengan erat sekali untuk mencegah mengalirnya darah terlalu banyak. Kemudian, melihat wajah gadis itu masih pucat dan matanya masih meram, napasnya tersengal-sengal seperti orang sekarat, ia lari kesana kemari, mengambil panci dari belakang perahu, membuat api dan memanaskan air. Tidak ada yang lebih baik daripada air matang untuk mencuci luka, pikirnya. Di musim banjir seperti itu, air sungai amat kotor dan amat tidak baik untuk mencuci luka sebelum dimasak mendidih. Ia sama sekali tidak tahu betapa napas gadis yang tadinya terengah-engah itu menjadi biasa kembali, mata yang tadinya meram itu, terbuka satu dan bergerak mengikuti gerak-geriknya dengan mulut menahan senyum geli ! Kalau ia mendekat, mata itu tertutup lagi dan napas itu tersengal-sengal lagi ! Setelah air matang Kam Si Ek lalu membuka balutan pada pundak Lu Sian, mencuci luka sampai bersih lalu membalut lagi. Kemudian, melihat di perahu itu banyak perlengkapan bahan makan ia lalu membuat bubur dan membakar daging asin. Bukan main gelisah hati Kam Si Ek melihat gadis itu biarpun sudah siuman, namun belum sadar, masih bergerak-gerak gelisah di atas pembaringan, matanya tetap ditutup dan sekarang malah mulutnya mengigau seperti orang terserang demam ! Dapat dibayangkan betapa terharu hatinya ketika dalam igauannya, sambil meramkan mata gadis itu selalu menyebut-nyebut namanya! “Ayah, aku tidak mau menikah dengan Kwee Seng ! Tidak mau dengan raja muda di timur, pangeran di barat atau putera mahkota di utara ! Aku hanya mau menikah dengan Kam Si Ek, biar dia jenderal tolol, biar dia laki-laki canggung, aku sudah cinta kepadanya, Ayah!” Kam Si Ek duduk bengong di pinggir pembaringan. Bermacam perasaan teraduk dalam hatinya. Girang dan bahagia karena dalam igauannya ini Liu Lu Sian jelas membuka isi hatinya yang amat mencintainya. Bingung karena gadis itu makin malam makin hebat mengigau dan gelisah. Duka dan khawatir karena ia telah melukai gadis itu, melukai tubuh dan hatinya. Lu Sian mengigau terus. Dalam igauannya itu malah ia menyebut-nyebut bahwa ia bersama Kam Si Ek akan pergi menemui Gubernur Li Ko Yung di Shan-si, untuk minta bantuan gubernur ini menjadi perantara meminangnya kepada ayahnya di Nan-cao. Mendengar igauan ini, sadarlah Kam Si Ek bahwa itulah jalan terbaik. Ia memang tadinya menerima undangan atau panggilan Gubernur Li dan di tengah jalan ia dijebak dan dikhianati komplotan para perwira yang memberontak dan pasukan-pasukan kerajaan Liang. Hal itu perlu ia laporkan kepada Gubernur Li. Disamping itu untuk mengajukan lamaran kepada ayah Liu Lu Sian yang selain menjadi Ketua Beng-kauw, juga menjadi koksu (guru negara) di Nan-cao, siapa lagi yang lebih tepat selain dengan perantaraan Gubernur Li?” Ia memeluk Lu Sian dan mencium pipinya dengan mesra. “Moi-moi, tenangkanlah hatimu, kauampunkan kokomu yang tolol ini. Aku cinta kepadamu, Moi-moi, dan demi Tuhan, aku akan meminangmu dari tangan ayahmu.” Ia lalu sibuk melepaskan perahu daripada ikatan, mendayung ke tengah lalu memasang layar. Biarpun bukan ahli, Kam Si Ek tidak asing dengan pelayaran, maka biarpun hari telah berganti malam, ia berani melayarkan perahunya di bawah sinar bulan. Lu Sian membuka matanya dan tersenyum-senyum girang. Melihat Kam Si Ek sibuk mengemudikan perahu, ia lalu mengeluarkan bungkusannya, mengambil obat luka dan mengobati pundaknya. Kemudian ia mengusap-ngusap pipinya yang masih panas oleh ciuman Kam Si Ek, turun dari pembaringan perlahan-lahan lalu keluar dari dalam bilik. “Koko (Kanda)…” ia berseru memanggil lirih. Kam Si Ek terkejut dan menoleh. Melihat gadis itu berdiri bersandar pintu bilik, ia terkejut, girang dan juga khawatir. “Eh, kau sudah bangun, Moi-moi ? Kau beristirahatlah, jangan keluar dulu, nanti kena angin… ! Itu ada bubur di meja, kaumakanlah…!” “Aku tidak lapar, Koko, dan aku sudah sembuh.” Mana bisa ia merasa lapar kalau hatinya sebahagia itu ? Pula, ketika ia berpura-pura pingsan dan mengigau, bukankah Kam Si Ek dengan amat telaten telah menyuapinya dengan bubur sampai kekenyangan ? “Aku merasa seperti baru bangun dari mimpi. Eh, Koko kau melayarkan perahu ini ke manakah?” Girang sekali hati Kam Si Ek melihat kekasihnya benar-benar telah sembuh, wajahnya berseri pipinya merah dan matanya bersinar-seinar. “Pundakmu tidak nyeri lagi, Moi-moi?” Dengan gaya manja Lu Sian menggeleng kepalanya lalu berjalan menghampiri. Dengan satu tangan Kam Si Ek memegang tali layar, tangan ke dua meraih lengan gadis itu dan mereka berpegang tangan, saling pandang penuh kasih. “Sian-moi, kau tahu bahwa aku dipanggil oleh Gubernur Li akan tetapi oleh pasukan yang berkhianat dan bersekongkol dengan Raja Liang, aku diculik. Hal ini harus kulaporkan kepada Gubernur Li, maka aku sekarang hendak pergi ke Shan-si untuk berunding dengan beliau. Kuharap kau suka ikut denganku ke sana, selain berunding urusan pengkhianatan itu, akupun perlu minta bantuannya.” Sampai di sini pemuda itu berhenti bicara dan mukanya menjadi merah. “Bantuan apa, Koko?” Lu Sian bertanya, pura-pura tidak tahu akan tetapi diam-diam girang sekali karena agaknya akalnya “mengigau” itu berhasil baik. “Moi-moi.” Tangan Kam Si Ek menggenggam erat-erat tangan Lu Sian. “Aku hendak mohon bantuannya untuk menjadi orang perantara, mengajukan pinangan atas dirimu dari tangan ayahmu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan di Nan-cao.” Girang sekali hati Lu Sian. “Koko, kemanapun juga kau pergi, aku suka ikut!” Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagi muda-mudi daripada kegembiraan dua buah hati yang saling bertemu. Berhari-hari mereka menjalankan perahu sambil bersenda gurau, menceritakan keadaan masing-masing, menangkap ikan dan masak-masak lalu makan bersama. Kam Si Ek makin mendalam cinta dan kagumnya terhadap Lu Sian, mengagumi kecantikan dan kelincahan gadis ini, termasuk wataknya yang kadang-kadang aneh. Di lain pihak, Lu Sian juga kagum akan kekasihnya yang sudah tiada orang tua lagi, tentang keturunan keluarga Kam yang semenjak dahulu terkenal sebagai panglima-panglima perang jagoan. Ketika Lu Sian bercerita tentang pertemuannya dengan kakak seperguruan jenderal itu, yaitu Lai Kui Lan di dalam benteng, Kam Si Ek menyatakan kekuatirannya. “Suci seakan-akan telah menjadi saudara kandungku. Dia seorang pendiam dan bersungguh-sungguh, banyak membantuku dalam perang. Akan tetapi akhir-akhir ini ia sering kudapati menangis di kamarnya, dan sama sekali tidak mau menceritakan apa sebab-sebabnya. Aku kuatir sekali ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Malah sebelum aku pergi dari benteng, Suci seringkali berkunjung ke Kwan-im-bio di luar benteng, bahkan bermalam di sana. Agaknya ia menjadi kenalan baik dari para nikouw (pendeta wanita) di kuil itu.” Mendengar ini, Lu Sian dapat menduga dan ia hanya mengeluh di dalam hatinya, tidak mau menceritakan apa yang menjadi dugaannya. Ia menduga bahwa Kui Lan tentu menjadi korban asmara, tentu berduka karena Kwee Seng terjatuh ke dalam jurang dan binasa. Gadis itu mencinta Kwee Seng dan menjadi patah hati. Ia tidak berani bercerita tentang Kwee Seng kepada Kam Si Ek karena cerita ini tentu akan membuka pula rahasia tentang perasaan Kwee Seng kepadanya. Akibat ceritanya ini tentu akan mendatangkan suasana tidak enak diantara mereka, apalagi di situ tersangkut pula diri Lai Kui Lan. Cinta memang aneh. Biarpun dua orang muda yang amat jauh berbeda sifat dan wataknya, namun kalau sudah dipengaruhi cinta kasih, mereka seperti lupa akan semua perbedaan ini. Seorang yang mabok dicinta, hanya akan melihat yang baik-baik saja dari kekasihnya. Demikian pula dengan Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Kalau saja mereka tidak sedang mabok cinta, tentu mereka akan dapat melihat bahwa mereka mempunyai watak yang jauh berbeda. Kam Si Ek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur, berdisplin memegang aturan, gagah perkasa dan seorang patriot. Sebaliknya, Lu Sian memiliki dasar watak yang aneh, kadang-kadang licik dan menjalankan siasat-siasat yang curang bukanlah aneh baginya. Ia tidak peduli akan segala aturan, bebas merdeka dan liar. Tidak mau kalah oleh siapapun juga, tidak peduli akan orang lain menderita atau tidak, tidak peduli sama sekali tentang negara maupun bangsa. Baginya, siapa yang menentangnya akan ia hantam! …..Bersambung
sumber: www.microsofreader.com

Tentang Admin

Berita Lain

Mahakarya: Kho Ping Hoo SULING EMAS (episode 40)

Biografi Kho Ping Hoo: Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *